Gus Miftah dan Tren Ulama Masa Kini

Share
  • 28
    Shares

      Semenjak video ceramahnya di diskotik viral dan menuai pro-kontra dikalangan netizen , sontak nama Gus Miftah mendadak ramai diperbincangkan. Bahkan, situs berita online Merdeka, mewartakan kalau DPR bakal mengajak rembuk KEMENAG soal aksi Gus Miftah yang berdakwah di diskotik ini.

      Tidak sedikit pula yang menyuarakan, bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Gus Miftah perlu mendapat apresiasi serta dukungan yang luas dari elemen masyarakat, setidaknya hal itulah yang disuarakan oleh MUI dan NU.

Beda zaman, beda pergaulan, serta beda pola pandang, terang saja, apa yang dilakukan oleh Gus Miftah tidak sedikit pula mendapatkan komentar negatif dari para netizen . Mulai dari permasalahan hukum berdakwah di dalam diskotik, sampai pertanyaan nyinyir yang sebenarnya menunjukkan karakter si pengaju pertanyaan itu sendiri.

Banyak dari netizen yang terhormat, menanyakan soal hukum berdakwah yang dilakukan Gus Miftah. Sempel pertanyaan yang setidaknya menunjukkan bahwa tren ulama saat ini hanyalah mereka yang melakukan ceramah dan pengajian-pengajian saat PHBI (Peringatan Hari-hari Besar Islam), atau mereka yang mengadakan kajian hijrah, munakahat dan jual-beli, atau mereka yang hanya ceramah di stasiun televisi tertentu dengan paras tampan dan jubah yang bagus, atau mereka yang ceramah lewat media sosial di Intagram, Facebook atau Youtube, atau bahkan ada yang beranggapan kalau ulama hanyalah mereka yang hadir pada kegiatan ijtima’ serta deklarasi Ganti Presiden.

Kalau saja Gus Miftah melakukan aksi ceramahnya pada periode 90-an dan pada awal dekade 2000-an, pasti reaksi yang muncul tidak akan berlebihan. Namun, karena budaya dan pengenalan ulama ke tengah masyarakat sudah bergerser, pada akhirnya ya menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat.

Ulama segenerasi Gus Mik di periode 90-an misalnya, serta Gus Dur dalam dekade 2000-an yang terkenal sebagai pentolan serta kontroversi, nyatanya tidak ditanggapi secara berlebihan pada masa-masa itu. Dibalik politik dakwah yang mereka usung, jauh lebih dari pada itu sebenarnya mereka adalah para ulama yang memandang umat dengan pandangan kasih sayang. Mereka memikirkan nasib umat dengan skala yang lebih luas. Andai kata mereka tidak membuka jalan menuju diskotik atau gereja, bagaimana nasib mereka yang ingin bertaubat atau mereka yang ingin memeluk Islam, sedangkan tidak ada satu orang ulama pun yang ingin menghampiri mereka?. Hal itulah yang sekarang ini menjadi dasar Gus Miftah untuk masuk berdakwah ke dalam diskotik, meskipun dalam banyak kesempatan, beliau tidak menggunakan bahasa berdakwah atau menggurui, hanya memiliki niat untuk sekedar belajar bersama.

Oleh karenanya, saya berfikir kalau bergesernya tren ulama sekarang ini, lebih-lebih dalam era serba kecurigaan, serta posisi Gus Miftah yang tidak begitu terlihat latar belakang organisasinya, pada akhirnya membuat netizen leluasa dan berhak melakukan penilaian bagaimanapun.

Dan kalau saja Gus Miftah ini termasuk dari salah satu, dari dua gen manusia Indonesia sekarang ini (Cebong atau Kampret), setidaknya beliau masih punya dekengan untuk mengkampanyekan virus positifnya, apalagi kalau Gus Miftah jadi bagian dari Gen Kampret, sudah tentu Gus Miftah menjadi ulama yang sangat disanjung serta dielu-elukan umat.

Kemudian, ada juga beberapa netizen yang bertanya serta nyinyirin Gus Miftah soal bagaimana hukum mebaca takbir dan kalimat-kalimat mulia lainnya di dalam diskotik seperti itu?, atau tentang bagaimana hukumnya seorang ulama berdakwah sambil melihat paha mulus dan belahan?, dan justru ada yang bilang kalau yang dilakukan Gus Miftah hanyalah mencari sensasi semata. Tentu kalau kita ingin menarik kesimpulan dari pertanyaan dan nyinyiran tersebut, titik pangkal berada pada bergesernya tren ulama dan para pendakwah yang saat ini ada di kalangan masyarakat bawah di Indonesia, dan lebih-lebih lagi mereka yang hidup di kawasan perkotaan.

Oleh karenanya, apa yang dilakukan oleh Gus Miftah tidak perlu ditanggapi dengan sinis dan negatif, justru apa yang dilakukan Gus Miftah sebenarnya dapat menambah khazanah baru perihal pengertian tentang pendakwah, dengan catatan, dilihat dengan fikiran jernih dan hati yang lembut.

Apa yang dilakukan Gus Miftah seharusnya mampu membentuk pola fikir baru dikalangan masyarakat dalam lapisan sosial manapun, bahwa fenomena pendakwah yang masuk ke dalam diskotik atau gereja merupakan hal baik dan atas asas-asas agama. Di katakan baik dan sesuai atas asas-asas agama karena memang apa yang Gus Miftah lakukan adalah mengajak pada kebaikan dan mengajak kepada ketaatan, sekalipun seruan itu ditujukan kepada mereka yang dipandang negatif oleh banyak kalangan.

Gus Miftah yang mengajak dengan ikhlas menuju kebaikan bukanlah semata-mata hanya untuk mereka yang mengalami kemunduran semangat dalam beribadah, akan tetapi lebih penting daripada itu, inti dakwah atau ajakan Gus Miftah yang lebih dalam lagi adalah dikhususkan bagi mereka yang sudah terlampau jauh dari mengingat Tuhan dan sudah jauh melenceng berada di jalanNya. Meskipun pada akhirnya hidayah Allah merupakan hak preogratif (hak semau-gue-nya Tuhan), akan tetapi, Anda bisa membayangkan, bagaimana kalau tidak ada sosok Gus Miftah yang menjadi pembuka hidayah tersebut?, apakah kita akan membiarkan dan sama sekali tidak acuh dengan kesalahan yang dilakukan oleh saudara-saudara kita?, apakah kita juga tidak ingin, Islam semakin besar dan kuat?, bukankan Islam itu agama terbuka bagi siapapun serta toleran dengan kelalaian yang dilakukan oleh umatNya?.
Untuk itu, hal tersebutlah yang patut disepakati sebagai kerangka dasar serta prinsip pola fikir kita, untuk urusan dosa atau tidak ketika berdakwah melihat paha dan belahan dada, saya rasa itu hanyalah pola fikir netizen yang keliru dan sangat naif, serta dipenuhi oleh prasangka yang buruk.
Wallahu A’lam bi al-Shawwab.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 28
    Shares