Salat Saat Mendaki Gunung

Share
  • 22
    Shares

Setelah film “5 CM” tayang di bioskop seluruh Indonesia, fenomena liburan ke puncak gunung menjadi trend anak muda jaman sekarang. Ada yang memang sudah hobi dan ada yang justru sedang mencari jati diri. Perjalanan mendaki gunung menuju ke puncaknya dan kembali ke basecamp memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, kecuali bagi para porter dan mas-mas yang biasa membuka lapak di tiap pos pendakian yang sanggup ngebut naik turun gunung.
Waktu perjalanan yang lama terkadang menjadi tantangan bagi seorang pendaki, khususnya pendaki muslim yang diharuskan untuk salat 5 waktu. Lalu bagaimana seorang muslim mengerjakan salatnya saat pendakian? Bolehkah pendaki muslim menjamak atau mengqashar salatnya? Islam adalah agama yang memberikan kemudahan bagi para pemeluknya untuk mengerjakan ibadah namun dalam segala kemudahan pasti ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Dasar hukum dibolehkannya salat qashar karena perjalanan tercantum dalam surat an-nisa ayat 101
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ada beberapa syarat sah salat yang boleh dijamak dan diqashar saat dalam perjalanan diantaranya: niat, perjalanannya bukan untuk maksiat, salat ada’ (bukan shalat qadha) dan perjalanan jarak jauh.
Lalu, seberapa jauhkah batas minimal perjalanan yang ditempuh agar seorang muslim mendapatkan keringanan berupa qashar dan jamak?
Dalam fiqh 4 mazhab, seseorang dapat melakukan qashar apabila perjalanan sudah mencapai 16 farsakh atau 4 burud atau setara dengan 80, 640 KM. Sayyid Sabiq menyatakan 1 farsakh setara dengan 5541 m yang berarti bahwa 16 farsakh adalah 88, 656 KM dan ini telah menjadi kesepakatan ulama 4 mazhab.
Perihal menjamak salat, mazhab al-hanafiyah tidak memperbolehkan jamak kecuali saat haji ketika wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah. Dalam mazhab al-malikiyah dan asy-syafiiyah, safar termasuk penyebab seseorang boleh menjamak salat apabila telah memenuhi syarat qashar. Selain itu, angin, hujan, lumpur dan tidak adanya penerangan dalam perjalanan juga memperbolehkan kita menjamak salat. Peristiwa tersebut memang kadang terjadi saat pendakian.
Lalu, bagaimana jika jarak jadi rumah hingga ke puncak gunung tidak mencapai 88, 656 KM?
Bisa kita ambil contoh, apabila kita tinggal di Cibubur dan ingin mendaki Gunung Gede-Pangrango, jarak antara cibubur dan basecamp Gunung Gede-Pangrango hanyalah sekitar 70 KM, sedangkan jarak dari basecamp ke puncak kurang lebih 10 KM dan otomatis tidak memenuhi jarak minimum dibolehkannya Qashar. Adapun jamak masih memungkinkan saat melakukan perjalanan malam dengan kondisi yang memang gelap, berlumpur atau ada angin kencang dan hujan.
Saat melakukan pendakian pun badan dan pakaian kita biasanya kotor terkena tanah ataupun lumpur bahkan terkadang sulit ditemukan tempat yang bersih untuk melakukan salat. Terkadang juga kita sulit menentukan arah kiblat karena lupa membawa kompas atau tidak tahu waktu solat karena lupa membawa jam dan gawai. Nah, solusinya adalah, solat dilakukan li hurmatil waqt.
Salat li hurmatil waqt adalah salat sah untuk menggugurkan kewajiban namun diwajibkan untuk mengulang salatnya setelah terbebas dari udzur atau kendala yang ada. Salat ini dapat dilakukan dengan keadaan ‘seadanya’ dalam artian saat pendakian yang jaraknya dari rumah tidak mencapai 88, 656 KM dan kita benar-benar tidak memiliki pakaian suci, tidak menemukan tempat yang suci pula ataupun sulit menentukan waktu salat dan arah kiblat.
Jadi, saat kita ingin menunaikan salat, kita dapat langsung salat saat perjalanan tanpa perlu membangun tenda ataupun bongkar tas jika waktu memang sudah dirasa sempit.
Dalam mazhab syafii pun dibolehkan tayammum karena cuaca yang amat dingin akan tetapi kita diperintahkan untuk menqadha salat saat tubuh kita sudah sanggup bersentuhan dengan air dan terdapat air.
Jangan tinggalkan salat saat mendaki agar pendakianmu semakin berkah. Salam lestari!.

Sumber: Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd
Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 22
    Shares