Panduan Bersuci Saat Naik Gunung

Panduan Bersuci Saat Naik Gunung

Share
  • 17
    Shares

Mendaki gunung menjadi salah satu hobi yang digandrungi kaum milenial, tak terkecuali santri. Mendaki menjadi pilihan kegiatan yang dilakukan saat waktu libur atau bahkan menyempatkan diri untuk mendaki gunung meski tak memiliki banyak waktu luang. Pemandangan yang indah, perjalanan yang seru dan penuh pengalaman dijadikan alasan bagi kaum muda untuk mendaki gunung. Lelah akan terbayar saat mencapai puncak, melihat pemandangan yang luar biasa indah.

Pendakian yang dimulai dari bawah hingga ke puncak tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Biasanya pendakian mesti membutuhkan waktu paling tidak sehari semalam. Sebelum mencapai puncak para pendaki akan melewati beberapa pos pendakian dan biasanya akan menginap semalam sebelum akhirnya mengumpulkan energi kembali untuk mendaki lagi sampai puncak. Tentu saat pendakian sebagai muslim tidak boleh meninggalkan sholat. Dalam pendakian kita tidak mudah menemukan tanah yang landai untuk bisa menunaikan sholat. Perjalananpun tidak bisa dilakukan dengan cepat hanya untuk mengejar waktu sholat. Maka sholat bisa dijamak atau diqodho. Oke warga nyarung, sekarang penulis hanya akan membahas tentang tata cara bersuci saat mendaki gunung.

Oleh karena suhu udara saat berada di gunung yang begitu dingin dan tidak mudah menemukan air saat pendakian maka kita diperbolehkan untuk melakukan tayammum.

Oke, jadi penulis akan mengerucutkan dua alasan diperbolehkan tayammum di antara beberapa alasan diperbolehkannya tayammum:

  1. Tidak Ada Air

Dalam pendakian kita tidak mudah menemukan sumber air. Selama pendakian air yang dibawa pun khusus untuk minum. Sedangkan hukumnya haram berwudu menggunakan air yang disiapkan untuk minum meskipun wudunya sah. Nah dalam hal ini jika air tidak ditemukan sampai waktu sholat habis maka sholat yang dilakukan pada saat itu tidak perlu diqodho. Menurut qaul azhar (pendapat Imam Syafii yang diambil dari beberapa pendapat kuat lainnya).

  1. Suhu Udara Dingin

Biasanya saat sudah mendekati puncak, suhu udara sangat dingin. Meski ditemukan sumber air tapi rasanya tidak akan kuat untuk menyentuh air. Maka diperbolehkan untuk melakukan tayammum. Namun dalam hal ini tayammum yang dilakukan sebab kedinginan maka sholat yang dilakukan harus diqodho. Ini juga menurut Syaafi’iyyah. Sedangkan menurut Hanafiyyah dan Malikiyyah tidak perlu qodho. Perlu diketahui juga bahwa Syafii dan Syafi’iyyah itu berbeda. Kalau Syafii berarti Imam Syafii itu sendiri. Sedangkan Syafi’iyyah adalah murid-muridnya Imam Syafii yang bisa jadi ada perbedaan pendapat dalam memutuskan hukum permasalahn fiqih bahkan dengan Imam Syafii sendiri. Begitu juga Malikiyyah, Hanafiyyah dan Hanabilah.

 

Tata Cara Tayammum:

  1. Niat

Niat dilakukan saat membasuh wajah. Niat yang dibaca saat tayammum adalah untuk diperbolehkannya sholat (li istibaahatissholaat), bukan untuk menghilangkan hadas. Sebab tayammum tidak bisa menghilangkan hadas menurut qoul al-Ashoh (pendapat murid-murid Imam Syafii di antara pendapat kuat lainnya)

  1. Membasuh Wajah dan Tangan

Sama halnya seperti wudhu, wajah yang diusap dengan debu adalah wajah yang dibasuh air saat wudhu. Begitu juga mengusap kedua tangan sampai siku.

 

Oh tentu tayammum dengan menggunakan debu yang suci. Bisa kita temukan pada permukaan batu.

 

Yup, begitulah penjelasan tentang tata cara bersuci saat mendaki. Jangan lupa ngopi, Lur. Salam Nyarung!

Referensi: Fiqh al-Islam, Syekh Wahbah Zuhaili

 

 

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 17
    Shares