Sebuah Ocehan Bangun Tidur Tentang NU

Share

Tahun 2004, selepas menuntaskan pendidikan sekolah dasar, saya diasingkan kedua orangtua ke Pondok Pesantren Al-Hikmah, Ngadipurwo, Blora, Jawa Tengah. Di sana, meski saya agak mbeling, saya ditempa untuk giat memelajari dasar-dasar agama Islam. Diajari bagaimana menjadi manusia berbudi dengan kitab akhlakul lil banin, diajari mana yang boleh mana yang tidak dengan kitab-kitab fikih, dan menghafal bait-bait ilmu alat, seperti matan jurumiyah, imrithi, amtsilatu tasrif dan lain sebagainya.

Sembari menimba ilmu di pondok pesantren yang telah berjasa besar terhadap hidup saya dan mengajari bagaimana seharusnya manusia hidup di tengah-tengah beragam corak keyakinan, saya juga menimba ilmu di MTs Ma’arif 2 Blora, sebuah sekolah formal di bawah naungan LP Ma’arif NU.

Di MTs ini saya belajar berbagai disiplin keilmuan, sebagaimana pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah lain pada umumnya. Tetapi, ada satu pelajaran yang hanya diajarkan di sekolah-sekolah NU (yo iyolah), yaitu Ke-NU-an.

Melalui buku tipis yang kadang-kadang saya tekuk dan masukkan saku celana itu, saya pertama kali lebih mengenal dan mengerti apa itu tawasuth, tasamuh, i’tidal dan tawazun. Sebuah pondasi dasar yang harus senantiasa dijaga dan diamalkan oleh kaum Nahdliyin, tak peduli apapun jabatannya.

Keindahan seni hidup yang diajarkan NU menarik minat saya untuk banyak membeli buku-buku yang berkaitan dengan NU, terutama seputar tokoh-tokoh NU. Di sinilah awal mula saya mulai gemar membeli buku-buku biografi ulama NU, seperti Mbah Hasyim, Mbah Ma’sum Lasem, Mbah Bisri, Gus Miek, Mbah Kholil Bangkalan, dan lain sebagainya.

Saya ingat betul, Mbah Mus Rembang saat diundang ke Mata Najwa pada bulan lalu, dhawuh “Ulama itu seharusnya meniru Kanjeng Nabi, yang paling sedikit yang bisa dilakukan adalah meniru Kanjeng Nabi”. Barangkali dhawuh itu selaras dengan tujuan saya gemar membeli biografi para ulama, yaitu dengan niat meneladaninya. Karena saya hanya seorang santri, terlalu jauh jika harus meneladani Kanjeng Nabi. Saya pikir yang paling tepat adalah meneladani para ulama saja, meski pada akhirnya saya tetap mbeling dan gapleki. Tak bisa meneladani ulama sama sekali.

Dari buku biografi ke buku biografi itu, saya mendapati kemesraan dan keharmonisan NU di tengah-tengah masyarakat yang bergam ini. Bagaimana menyederhanakan bahasa-bahasa Arab yang rumit, bagaimana menerjemahkan ajaran-ajaran Islam ke dalam tradisi masyarakat, dan beragam ilmu-ilmu lain yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Tentu saja ini adalah gambaran betapa matang dan dalamnya ilmu ulama NU dalam mengajarkan ajaran mulia Kanjeng Nabi, tanpa harus menggunakan paksaan dan kekerasan fisik. Karena, dari sekian biografi ulama yang saya baca, kelembutan adalah ujung tombak untuk menghujamkan ajaran-ajaran Islam ke hati masyarakat.

Beberapa hari ini, pascadrama politik yang membuat tensi komunikasi naik antara kecebong dan kampret, NU ramai dibicarakan oleh banyak orang, khususnya netijen radiyallahu anhum. Saya amati beragam komentar-komentar netijen yang selalu bersembunyi di balik akun mayanya itu. Tentang NU, banyak yang membincang positif, tak sedikit pula yang komentarnya naudubillah.

Saya tak berani komentar banyak soal ini, karena saya yakin sesepuh saya di atas sana lebih mengerti dan lebih berhak menentukan sikap NU dalam menyikapi intrik politik yang ada. Juga saya ini tidak pernah berkontribusi, bahkan kartu anggota saja saya tak memiliki. Hanya saja, hati saya sangat-sangat gelisah terhadap apa yang sedang terjadi.

Melalui kegelisahan itu, saya teringat buku tipis yang diajarkan guru-guru saya sewaktu nyantri di Al-Hikmah, ya buku Ke-NU-an yang sering saya tekuk dan masukkan ke dalam saku celana itu. Saya kembali membaca buku yang hampir 10 tahun tidak pernah saya pegang lagi, untuk mencoba mencari jawaban atas apa yang menjadi kegelisahan saya.

Alhamdulillah, saya menemukan jawaban yang membuat lega hati saya. NU tidak dianjurkan terlibat politik praktis. Saya mafhum, NU itu jauh lebih besar ketimbang politik remeh temeh yang menawarkan jabatan yang amat kecil. Ketegasan itu juga pernah disampaikan Kiai Said Aqil Siraj untuk warga nahdliyin dalam menghadapi Pilkada (https://www.youtube.com/watch?v=zthYSVfoh0k):

“Salah satu amanat yang saya emban, sejak Muktamar NU di Makassar hingga Jombang adalah mematuhi dan mempertahankan Khittah NU 1926. Khittah 1926 itu sudah sangat jelas, sebenarnya tidak butuh lagi syarah atau elaborasi. Khittah 1926 itu tidak terlibat politik praktis, karenanya NU tidak mungkin dan tidak boleh memberikan dukungan politik terhadap kandidat manapun. Ini tidak hanya untuk kontak pilpres, termasuk juga pemilihan legislatif dan pilkada.” Dhawuh Kiai Said.

[Tonton Juga: Pengajian Kitab Kuning Alfikrotun Nahdliyah https://www.youtube.com/watch?v=q0sUXLzx9LQ%5D

Kiai Said pun, melalui video tersebut menegaskan akan mematuhi Khittah 1926. Kiai Said juga kembali menegaskan, jika ada pernyataan yang menyatakan dukungan terhadap kandidat dari pilkada mulai dari PBNU, Lembaga Lajnah, Badan Otonom dari tingkat pusat sampai daerah, tidak ada yang sah dan tidak boleh mewakili NU sebagai jamiyah. Kalaupun ada, tidak lebih dari pernyataan pribadinya.

Hal ini tentu saja sangat menghibur hati saya. Bahwa jika ada sesepuh saya di PBNU yang dekat dengan politik, itu adalah pilihan personal semata, bukan sikap dari NU yang mampu menali seluruh umat di dunia, sebagaimana yang tertera pada lambang kebesarannya.

Tetapi mau bagaimana lagi. Dunia media dan politik itu dunia yang kejam. Framing-framing dimainkan sedemikian rupa. Kebenaran dibolak-balik sesuai pesanan orang-orang yang suka nabok nyileh tangan orang. Dan dari sinilah, menurut saya, insan intelektual yang mengisi gedung PBNU perlu berhati-hati lagi dalam melontarkan kalimat demi kalimat, terlepas itu dimaksudkan sebagai statemen pribadi, bukan mewakili suara NU. Supaya tidak ada celah media dan orang-orang yang membenci NU menggoreng itu menjadi makanan yang siap santap oleh masyarakat. (Dengan segala keterbatasan saya, saya meyakini yang mengisi PBNU adalah manusia pilihan Tuhan, orang yang terpilih dan selalu meperhitungkan betul soal ini).

NU sebagai oraganisasi sepuh yang sudah mapan, tentu saja terbiasa menghadapi badai-badai seperti ini. Dan sejarah mencatat, NU tidak pernah tumbang dan bertekuk lutut terhadap situasi badai yang mengoyak-koyak. Asalkan, kita satu padu, yang di atas jangan jumawa dan merasa memiliki NU, yang tidak di struktural alias sebagai warga nadliyin amaliah, harus terus berjibaku menyebarkan keromantisan ajaran NU.

Tak terkecuali, muda mudi nahdliyin perlu merenungkan pesan mulai yang saya dapatkan dari ayah teman saya, yang kebetulan wajahnya sangat mirip sekali dengan Om Zulkifli Hasan.

“Dulu, sesepuh NU itu bekeja di sawah, jualan di pasar, kalau ada keuntungan lebihnya disumbangkan ke PBNU. Sekarang, muda-mudi bekerja di PBNU, dan hasilnya dibawa ke pasar.”

Ya semoga kalimat ini terlontar hanya untuk mengisi kekosongan obrolan warung kopi. Bukan sebuah fenomena nyata, yang pada akhirnya akan berujung menciderai kebesaran NU. Wallahua’lam.

Depok, 16 Agustus 2018
Suara pengelana yang pernah belajar pendidikan di lembaga NU dan masih tergopoh-gopoh istiqomah mengamalkan amaliah NU.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share