Memaknai Hakikat Berkurban Idul Adha

Memaknai Hakikat Berkurban Idul Adha

Share

Terdapat pelajaran penting dari peristiwa ‘Idul Adha yang sangat berharga untuk diwujudkan dalam realitas kehidupan, yakni semangat pengorbanan. Di hari ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah), umat Islam yang mampu diperintahkan untuk menunaikan ibadah kurban. Hal ini ditegaskan al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 1 dan 2:

اِنّآ اَعْطَيْنَاكَ اْلكَوْثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ .
“Sungguh Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak, maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, lalu berkurbanlah (sebagai ibadah serta upaya mendekatkan diri kepada Allah)… “.

Pernyataan ayat tersebut diperkuat sabda Rasulullah saw:

من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا . (رواه أحمد وابن ماجة )

“Barangsiapa yang mampu berkurban, lalu tidak menunaikannya, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (Riwayat Ahmad dan Ibn Majah).

Ungkapan larangan agar tidak mendekati tempat shalat bagi mereka yang enggan berkurban, padahal secara materi mampu melakukannya, menunjukkan urgensi kedudukan ibadah kurban. Mushalla merupakan tempat berkumpul orang-orang yang memiliki kualitas spiritual dan kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, mushalla hanya pantas dihadiri hamba-hamba Allah yang hatinya lapang, lidahnya selalu berdzikir, dan perbuatannya dihiasi syukur.

Dengan demikian, mereka yang tidak mengindahkan perintah Allah dan RasulNya, sempit hati, kikir diri serta kufur nikmat Ilahi, tidaklah pantas berada di tempat suci, rumah Allah Rabb al-‘Izzati.

Syeikh Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqh as-Sunnah, Juz 3, h. 274 merumuskan pengertian qurban:
إسم لما يذبح من الإبل والبقر والغنم يوم النحر وأيام التشريق تقربا إلى الله تعالى .
“Nama untuk jenis hewan ternak baik berupa unta, sapi atau pun kambing yang disembelih di hari ‘Idul Adha dan hari-hari Tasyrik sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT”.

Sejarah kurban, sesungguhnya sudah dikenal sejak zaman Nabi Adam AS, yakni ketika kedua putra beliau (Qabil dan Habil) mendapat perintah dari Allah agar berkurban. Sebagai petani, Qabil diperintahkan mengorbankan sebagian hasil taninya, sedangkan Habil dituntut mempersembahkan sebagian hasil ternaknya. Pada masa Nabi Ibrahim AS dan sebelumnya, manusia seringkali menjadikan sesama manusia sebagai korban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah.

Di Mesir misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Di Kanaan, Irak, bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal. Di Mexico, suku Aztec menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa matahari. Sementara di Eropa Utara, orang-orang Viking mengorbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.

Nabi Ibrahim AS hidup pada abad ke-18 SM, suatu masa ketika terjadi persimpangan jalan pemikiran kemanusiaan tentang korban-korban yang masih berwujud manusia. Di satu pihak ada yang mempertahankan tradisi mengorbankan manusia, dan di pihak lain ada yang beranggapan bahwa manusia terlalu mulia untuk dikorbankan.

Di sinilah ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS memberi jalan keluar yang memuaskan semua pihak. Beliau diperintahkan Allah SWT melalui mimpi benar (ru’yah shadiqah) untuk menyembelih anak kesayangannya (Ismail AS), sebagai isyarat bahwa anak tercinta, dambaan hati belahan jiwa bukanlah sesuatu yang berarti jika Yang Maka Kuasa telah meminta.

Namun demikian, itu bukan berarti mempertahankan tradisi pengorbanan, karena setelah pisau dihunjamkan dan digerakkan untuk menyembelih sang anak sebagai korban, tiba-tiba seekor kambing kibas dijadikan penggantinya. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa Allah sedemikian kasih kepada manusia, sehingga tidak diperkenankan adanya korban manusia.

Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS yang puncaknya dirayakan sebagai ‘Idul Adha, harus mampu mengingatkan bahwa yang dikorbankan tidak boleh manusia, melainkan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, seperti rakus, menindas, menyerang, barbar (tidak mengenal hukum serta norma-norma susila), ambisi buta, licik, zhalim dan sejenisnya. Sifat-sifat yang demikian itulah yang harus dibunuh, ditiadakan dan dijadikan korban demi mencapai kedekatan diri kepada Allah SWT.

Dalam Islam, ibadah kurban bukanlah sekadar mengalirkan darah hewan yang disembelih dan membagi-bagikan dagingnya kepada sesama manusia, tetapi juga memiliki nilai serta makna spiritual yang sangat dalam, dan dampak sosial yang sangat besar. Ditegaskan al-Qur’an, surat al-Haj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللهَ لحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤهَا وَلَكِنْ يَّنَالهُ التَّقْوَى مِنْكُم ْ.

“Daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan nilai ketakwaanmu yang dapat mencapainya”.
Penegasan ayat di atas menggambarkan, bahwa ibadah kurban mengandung dua dimensi. Pertama, dimensi spiritual-transendental sebagai wujud ketundukan dan kepatuhan kepada Allah. Sikap yang ditunjukkan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Nabi Ismail AS merupakan bukti kongkrit ketundukan dan ketulusan untuk mematuhi perintah TuhanNya, betapa pun harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.

Kedua, dimensi sosial-humanis yang tampak jelas dalam pendistribusian daging-daging hewan kurban. Di sini tersirat penanaman nilai-nilai kemanusian yang harus dimanifestasikan dalam kepedulian sosial tanpa memandang si kaya, miskin, muslim maupun non muslim.

Kita bisa menyaksikan praktik penyembelihan hewan kurban pada setiap tahun cukup membanggakan dan menggembirakan. Namun seiring dengan itu, masih cukup banyak praktik yang mengarah kepada mengorbankan sesama manusia untuk memenuhi ambisi serta keinginan hawa nafsu. Ketidakadilan hukum, penindasan terhadap kaum dhu’afa (kalangan orang-orang lemah), tindak kekerasan, pemerkosaan, adu domba, penyebaran fitnah, dan ujaran kebencian masih tampak subur menghiasi realitas kehidupan negeri ini.

Dari sinilah diperlukan reorientasi dan reinterpretasi terhadap makna ibadah kurban, yang tidak hanya memahami sisi ritual fisik semata, tetapi juga sisi filosofisnya.

Al-Imam hujjat al-Islam al-Ghazali dalam karya monumentalnya “Ihya Ulumuddin” mengatakan, makna luhur ibadah kurban adalah “terdistribusikannya nilai-nilai kemanusiaa secara universal, bukan sekadar pembagian daging”. Saat ini, sangat dibutuhkan implementasi nilai-nilai luhur tersebut, seperti: kasih sayang, kepedulian, keadilan, saling menghormati, saling menghargai, silih asih, silih asah, silih asuh yang seringkali terlupakan.

Secara psikologis, ibadah kurban melambangkan sifat hewani yang melekat pada diri manusia: kejam, serakah dan egois yang harus dibuang dengan tebusan penyembelihan hewan sebagai upaya memenuhi panggilan dan perintah Allah SWT, sehingga darah yang mengalir dari hewan kurban, hendaknya dapat membuat kita insyaf, bahwa hewan saja rela berkorban demi menuruti kemauan manusia karena kekuasaannya.

Maka sewajarnyalah bila manusia dituntut berkorban di jalan Allah, yang kekuasaanNya jelas lebih besar. Hal ini sangat relevan dengan perintah Rasulullah saw kepada Siti Fatimah agar menyaksikan hewan kurbannya yang akan disembelih, dan bersamaan dengan darah hewan yang mengalir ke tanah, hendaknya membaca:

إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين .
“Sesungghnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb al-‘Alamin. Tidak ada sekutu bagiNya, dan demikianlah aku diperintahkan, serta aku merupakan generasi pertama orang-orang yang berserah diri (tunduk, taat secara mutlak kepada ajaran Allah)”.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share