Santri dan Sepak Bola

Share
  • 60
    Shares

Berbicara aktivitas santri di pondok pesantren, santri tidaklah lepas dari aktivitas pengajian. Memang betul, santri adalah sosok manusia yang haus akan ilmu, jadi sudah seharusnya insan pondok pesantren ini digembleng dengan ngaji dan ngaji.
Tapi apakah betul aktivitas santri hanya itu saja ? tentu tidak, di luar aktivitas mengaji, banyak aktivitas santri lainnya yang dilakukan sehari-hari. Di luar aktivitas mengaji itu, ada saat-saat santai di mana para santri bersantai dan mengobrolkan banyak hal, salah satunya sepak bola.
Sepanjang pengalaman penulis yang juga pernah menjadi santri pondok pesantren, pesantren adalah salah satu tempat pencetak suporter sepak bola fanatik di Indonesia. Bahkan, para santri yang menyukai sepak bola mengerti baik bagaimana perkembangan tim atau klub yang mereka sukai.
Itu semua bisa dibuktikan jika anda mencoba berdiskusi dengan beberapa alumni pondok pesantren. Bahkan, saya selalu melihat beberapa teman saya saat ini yang selalu menuliskan status di akun media sosialnya ketika klub favoritnya akan bermain dengan menyajikan head to head kedua tim, lengkap dengan prediksi skornya. Dan jika ada hal menarik yang bisa dibahas mengenai kedua tim yang akan bertanding, teman-teman saya tidak lupa menyertakannya seperti gesekan antara suporter tim favoritnya dengan suporter tim lawan, sejarah pertemuan kedua tim, atau bahkan aspek lain yang meliputi pertemuan kedua tim sebelum pertandingan seperti aspek politik, ekonomi yang biasanya ada pada pertarungan bos-bos judi, sampai semua hal yang berkaitan mengenai isu-isu panas yang menambah menarik pertemuan antara kedua tim tersebut.
Lain hal dengan perbincangan seputar sepak bola dalam keseharian santri di pondok pesantren, santri juga ternyata mempunyai bakat-bakat sepak bola yang tidak kalah dengan para siswa sekolah sepakbola favorit. Ini terbukti dengan bergulirnya kompetisi-kompetisi sepak bola antar pondok pesantren yang diinisiasi oleh kementrian Pemuda dan Olah Raga dan dinamakan Liga Santri Nasional. Kompetisi ini sendiri sudah berjalan beberapa tahun dan sudah terbukti turut melahirkan baka-bakat muda yang mampu bersaing secara profesional di tingkat nasional dan bahkan ada yang mampu menembus skuad Tim Nasional Indonesia kelompok umur.
Sejak bergulirnya kompetisi tersebut, banyak hal yang menarik yang membuat banyak mata tertuju kepadanya di luar pertunjukan skill-skill yang dimiliki para pemain dari kalangan santri, akan tetapi hal-hal seperti sopan santun dan akhlak kesantrianlah yang selalu ditunjukan di tengah permainan seperti bersalaman dengan wasit, meminta maaf ketika melakukan pelanggaran, dan tidak menunjukan emosi ketika dilanggar. Benar-benar hal menarik yang patut disaksikan dan diapresiasi.
Sebut saja ‘Gus Dur’ seorang tokoh yang berasal dari pesantren dan pernah menjadi pengamat sepak bola yang bisa dibilang sangat fanatik dan sering mengulas beberapa pertandingan kompetisi sepak bola internasional lengkap dengan analisisnya di beberapa media nasional. Gus Dur dari masa kecilnya memang dikenal dengan sosok yang fanatik dengan sepak bola, sampai-sampai Ia pernah gagal naik kelas gara-gara terlalu sering begadang untuk menonton pertandingan sepak bola.
Bahkan, saking cinta dan hobinya yang sangat lekat terhadap sepak bola, Gus Dur menerapkan nilai-nilai filosopi sepak bola dalam perannya sebagai presiden. Itu terlihat ketika ia meresuffle beberapa anggota kabinetnya ketika ia menjabat. Hal itu terlihat dalam bentuk kepercayaan kepada orang yang ia percaya untuk ditempatkan di dalam susunan kabinetnya menyamai peran seorang pelatih sepak bola yang menempatkan pemain kepercayaannya dalam starting line up dalam suatu pertandingan.
Ini adalah suatu bukti yang menarik yang bisa dilihat dari kepribadian dan kemampuan seorang santri pondok pesantren yang bukan hanya bisa mengaji, tapi bisa menjadi pribadi yang mempunyai keeratan dalam hal lain seperti sepak bola.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 60
    Shares

Leave a Reply