Agama Sebagai Isu dan Agama Sebagai Inspirasi

Share
  • 18
    Shares

Agama Sebagai Isu dan Agama 

Sebagai senjata agung, isu dengan mengatasnamakan agama memiliki dua nilai yang saling bertolak belakang, baik-buruk. Agama yang dinilai mulia oleh para pemeluknya dalam sejarah perjalanan manusia bisa menjadi benar-benar mulia begitu juga sebaliknya bisa menjadi murahan. Namun, selama ini isu menggunakan agama lebih mengarah pada penilaian negatif oleh publik.

Dalam sejarah Islam, pergulatan antara berbagai kelompok agama telah banyak memakan korban pertikaian sampai menjadi ajang pertumpahan darah. Mu’tazilah yang dikenal sebagai kelompok rasionalis ketika menempati posisi kekuasaan menggunakan isu agama untuk menghancurkan lawannya, ahlussunnah wal jama’ah. Isu al-Qur’an sebagai mahluk, sebagaimana dipahami oleh kelompok Mu’tazilah, sering digunakan dalam membabad lawannya. Di sisi yang berlawanan, agama juga telah banyak menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang adil dan masyarakat yang sejahtera.

Dalam perjuangan kemerdekaan, semangat agama juga telah banyak menggugah para pejuang bangsa ini untuk melawan para kaum penjajah dan menciptakan kondisi negara yang merdeka. Di sisi yang lain juga, agama banyak digunakan untuk melanggengkan kekuasaan penjajah dan melemahkan kekuatan para pejuang bangsa indonesia dalam usahanya melawan penjajahan. Itulah fenomena rumit membaca agama, yang pada akhirnya penulis mengatakan dua nilai yang saling berlawanan dilekatkan kepada agama dalam tataran bentuknya. Bagi yang memperjuangkan kemurniaan agama maka akan mengatakan “harus dibedakan antara agama dan pemeluk agama”, tapi itulah yang terjadi terhadap penafsiran agama.

Pancasila Kemenangan Kaum Substansialis
Tantangan yang akan selalu dihadapi oleh paham ke-pancasila-an adalah kelompok formalistik. Kenapa itu terjadi, bukankah pancasila sudah menjadi kesepakatan dari berbagai pihak? Itulah kira-kira pertanyaan yang aslinya adalah pertanyaan yang sudah lapuk namun urgent untuk dibicarakan.

Benar, karena pancasila adalah kemenangan bagi kelompok substansialis yang tidak silau dengan kemegahan bentuk formal namun lebih mengkonsentrasikan diri pada nilai-nilai yang terkandung dari sebuah “tanda” (meminjam istilah dalam semiotik). Karena kesubstansial-an inilah sudah dipastikan yang akan menjadi lawan untuk berhadapan adalah kaum formalistik, yang girang untuk memperjuangkan simbol formal dari agama yang dipahaminya. Padahal sudah dipastikan bentuk-bentuk formal dari yang dipahami oleh masyarakat bangsa kita dengan latar belakang yang berbeda-beda adalah tidak sama. Sehingga waspadalah terhadap kaum simbolis, karena pancasila adalah hasil kesepakatan dan kesatuan nilai-nilai dari seluruh simbol-simbol yang ada.

Dari sini kita bisa menyadari bahwa isu agama muncul dan berkembang dari kaum yang memperjuangkan simbol dengan berpegangan terhadap penafsirannya atas agama. Sedangkan agama yang telah menginspirasi bersatunya beberapa nilai-nilai luhur dalam agama telah digaungkan dan ditampilkan oleh kaum substansialis. Meskipun sama-sama menggunakan agama, tetapi langkah dan jalan yang ditempuh berbeda dengan konsekuensi yang berbeda pula.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 18
    Shares

Leave a Reply