Sukir, Munkar dan Nakir

Share
  • 12
    Shares

Sukir, Munkar dan Nakir

Seberuntung-beruntungnya manusia adalah mereka yang mati muda. Seperti yang dialami Sukir. Ia meninggal dunia di umur 27 tahun. Meninggal muda adalah cita-cita Sukir yang paling ia idamkan selama hidup. Karena dengan meninggal muda, Sukir semakin dekat dengan Allah dan terbebas dari dunia fana yang berlumur dosa.

Selama hidup, hari-hari Sukir dihabiskan untuk mengaji dan berdakwah. Baginya hidup di dunia adalah satu ujian Allah atas kehidupan kekal di akhirat. Makanya tak heran, perbuatan apapun yang Sukir lakukan di dunia adalah upaya menabung untuk akhirat.

Melihat dirinya tidur dalam keranda dan diarak oleh masyarakat, Sukir bahagia sekali. Akhirnya keinginannya untuk meninggal lebih cepat dikabulkan Tuhan. Ia tidak takut, karena segalanya telah ia persiapkan semasa hidup. Mulai dari amal salih sampai berbahasa Arab lancar. Siang malam Sukir belajar bahasa Arab, karena menurut ustadznya bahasa Arab adalah bahasa keseharian akhirat, jadi kelak Sukir tak perlu khawatir kalau tersesat di surga dan tak perlu penerjemaah saat berdialog dengan para malaikat.

Sukir juga tak khawatir dengan segala hal yang bakal ditanyakan oleh Munkar dan Nakir di dalam kubur. Ia sudah tau apa yang akan ditanyakan kedua malaikat itu. Paling cuma persoalan “Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa kitabmu?”. Tentu saja Sukir sudah tau jawabannya di luar kepala. Allah juga tahu kalau Sukir semasa hidupnya dihabiskan untuk solat petentengan dan ia mahir berbahasa Arab, masa jawab pertanyaan Munkar Nakir saja glagapan tidak bisa jawab?

Waktu yang ditunggu tiba, saat Sukir masih rebahan menunggu Munkar Nakir datang, tiba-tiba dua malaikat ini datang sambil cengengesan. Sukir tentu saja kaget, Munkar Nakir ternyata tidak semenyeramkan seperti cerita buku yang pernah ia baca. Sebaliknya Munkar Nakir malah selo-selo, cengengesan dan ada sebatang kretek di sakunya. Halahdalah.

“Hallo, Sukir….” Sapa Munkar dan Nakir.

Sukir glagepan. Tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Bukannya kata ustadz dan cerita-cerita dalam buku yang ia baca, baha Arab adalah bahasa persatuan di alam kubur sampai alam akhirat. Lha ini kok….

“Kenopo ndomblong, Kir?” Malaikat Munkar membalas mimik wajah Sukir yang terpana.

“Ora iso ngomong Jowo kowe, Kir? Mosok jenengmu Sukir tapi ora mudeng boso Jowo?” Malaikat Nakir menyahut.

Sukir benar-benar kebingungan. “Jadi selama ini aku menghabiskan waktu untuk belajar bahasa Arab, mulai dari menghafal mufrodat sampai memahami gramatikal adalah sia-sia?” batin Sukir. “Kenapa tidak menggunakan bahasa Arab, wahai Munkar, wahai Nakir?” tanya Sukir gemetaran.

“Kamu ini kan wong Jowo. Masa kami harus pakai bahasa Arab, kami kan menghormati manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna. Kamu hafal bahasa orang lain, tapi kamu tidak tau ada ribuan bahasa di nagarimu yang hampir punah. Dan juga, Gusti Allah bukan Arab!” ujar Munkar.

Sukir diam saja. Penyesalan semakin lama semakin membuat badannya lunglai. Sementara itu, Nakir berbisik kepada Munkar “udah sikat aja, jangan kelamaan. Aku ga yakin ini bocah bisa jawab.” Munkar pun mengangguk.

“Sukir,” teriak Munkar. Sukir menegakkan kepala, tidak berani memandang Munkar dan Nakir. “Kamu kenal Bejo?” lanjut Munkar.

Walahdalah. Sukir makin pusing. “Kenapa malah tanya Bejo? Siapa itu Bejo? Aku tidak kenal! Aku cuma kenal Allah!” Kini Sukir makin berani. Ia tidak boleh diam, agar tidak terus diintimidasi oleh dua malaikat jail ini.

“Astaga, Sukir. Bejo itu kan anak Mbok Sarni buruh yang ngurus makan sapimu, yang terpaksa putus sekolah karena tidak punya biaya,” Munkar agak kecewa kali ini. Nakir menyahut, “Sudah, ayo tinggal aja nih bocah. Aku tidak yakin dia bisa jawab pertanyaan kita.”

“Ayolah, Munkar, Nakir, jangan bercanda. Aku menghabiskan hampir seluruh hidupku untuk memelajari ilmu Gusti Allah, beribadah dan mempersiapkan menghadapi hari ini dan seterusnya. Bahkan aku menghafal apa yang akan kalian tanyakan, kenapa malah kalian bercanda seperti ini? Kalian tidak patuh kepada Allah!”

“Arek iki soyo nguawur, Ndes!” Bisik Nakir. Kemudian Munkar bertanya lantang kepada Sukir dengan bahasa Arab, “Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa Kitabmu?”

Jelas Sukir gembira. Akhirnya ilmu yang dipelajari tak sia-sia. Namun nahas, sukir lupa siapa Tuhan, Nabi dan kitabnya. Bahkan mulutnya cuma umak-umik tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Melihat hal tersebut Munkar Nakir berteriak serentak, “Jancuk. Diajak guyon ra biso, diseriusi rak nyambung!”

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 12
    Shares

2 thoughts on “Sukir, Munkar dan Nakir

Leave a Reply

Your email address will not be published.