Mama Dedeh dan Islam Nusantara

Mama Dedeh dan Islam Nusantara

Share
  • 147
    Shares

Retorika dan semangat mengulas Islam dari Mama Dedeh banyak dikagumi oleh masyarakat terutama kaum enyak-enyak. Selama ini Mama Dedeh hanya menyuarakan gagasannya lewat studio televisi dan tidak melewati berbagai tulisan. Inilah yang mencurigakan bagi saya atas pernyataan-pernyataan yang selama ini dibicarakannya. Kejanggalan ini aslinya sudah saya rasakan sejak dulu, semenjak beliau belum berbicara tentang Islam Nusantara.

Banyak kawan-kawan yang mempersoalkan sanad keilmuan agama beliau. Bagi saya ilmu yang tercerahkan bukan hanya sanad tapi referensi dan kemandirian dalam membaca setiap isu yang menjadi pembahasannya. Sehingga saya tidak akan mempermasalahkan sanad keilmuan agama beliau lebih jauh, toh banyak juga referensi yang di gunakan para kiai (kitab kuning dll.) yang tidak semuanya mendapatkan sanad keilmuannya langsung (tidak dibaca semuanya di depan guru).

Fenomena yang luput dari pembacaan Mama Dedeh adalah pengertian sebuah istilah yang menyebabkan kontruksi pemahaman beliau dianggap rapuh. Disamping itu, analisis konteks juga luput dari pandangan beliau. Mungkin masih banyak lagi sih, yuk kita diskusi bareng.

Perlu kita akui, belum ada kata sepakat perihal istilah “Islam Nusantara” secara resmi terutama dari PBNU sendiri yang menggelontorkan istilah ini ke ranah publik. Para pembesar PBNU hanya menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukan agama baru (KH. Said Aqil Siraj), Islam Nusantara adalah Islam yang ada di nusantara (KH. Mustofa Bisri), Islam Nusantara adalah Islam yang menjaga Ahlussunnah wal Jama’ah yang di bawa oleh Wali Songo (Habib Lutfi bin Yahya). Bagi saya ini bukanlah definisi melainkan hanya gambaran ringan dari Islam Nusantara yang diharapkan.

Kegagalan awal Mama Dedeh dalam memahami Islam Nusantara mengakibatkan pernyataan nanti ada Islam Amerika, Islam Arab, Islam India dan lain-lain. Menurutnya Islam ya Islam. Agama rahmatan lil ‘alamiin yang berlaku bagi seluruh penduduk dunia tanpa memandang teritorial tertentu yang efeknya adalah mengkotak-kotakkan Islam itu sendiri. Islam hadir sebagai agama dan nilai, serta Islam dengan bentuk ekspresi dari Mama Dedeh.

Sebagai agama dan nilai, Islam memang disuarakan untuk seluruh warga dunia. Tapi dalam mengekspresikannya tidak logis seandainya hanya dengan satu bentuk ekspresi. Perbedaan adalah fitrah manusia sebagai anugrah Tuhan. Inilah yang mengakibatkan Mama Dedeh melupakan konteks. Mama Dedeh baru sebatas Islam yang ada dilangit yang belum bergumul dengan keragaman, struktur sosial dan konteks yang berbeda. Islam Nusantara, dipahami dari pembesar PBNU diatas, adalah Islam yang sudah bersenggama dengan manusia beserta setiap hal yang mengelilinginya, bukan Islam yang mengawang-ngawang di langit. Inilah yang kurang dicermati oleh Mama Dedeh dalam otokritiknya terhadap Islam Nusantara. Sederhananya, salah sasaran dalam menembaknya.

Hanya sekedar saran, biar seimbang, seberapa jauh pertimbangan yang dibangun Mama Dedeh atas penolakannya terhadap Islam Nusantara. Maka semestinya gagasan-gagasan Mama Dedeh dituangkan dalam tulisan lengkap dengan ragam perspektifnya. Mengingat gagasan Islam Nusantara adalah hasil dari kajian, penelitian dan pengamatan ilmiah, gagasan Islam Nusantara tidak di balas dengan sekedar ceramah yang hanya sebentar, apalagi di studio televisi yang banyak mencurigakannya. Kan acara di televisi hanyalah ekting beloko.

Masa sih kajian ilmiah yang penuh keseriusan dengan berbagai perspektifnya dibantah hanya dengan omongan lima menit dengan satu dua dalil, apalagi kalo tidak menggunakan data referensi dari tafsirnya, aduuuh.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 147
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.