Kyai Yahya dan Ajaran Kasih Sayang yang Dipandang Sebelah Mata

Share
  • 54
    Shares

Salah satu penyesalan saya selama nyantri adalah jarang melek, fokus, dan memperhatikan secara seksama penjelasan dari –Allahu Yarham- Pak Yahya ketika ngaji Tafsir al-Jalalain selepas subuh.

Maklumlah, seperti para junior yang lain, dengan wajah yang masih kusut, peci hitam yang miring, serta lintingan sarung yang menggumpal besar dibagian perut, datang pagi buta untuk mendengarkan pengajian terasa berat sekali.

Fikiran lain seperti pelajaran sekolah umum, pelajaran madrasah, hafalan, lalaran, hutang, sampai kumbahan yang menumpuk membuat penjelasan yang disampaikan Pak Yahya bagaikan angin yang berlalu.

Saat itu saya masih duduk di bangku SMP, mendengarkan penjelasan mengenai geo-politik dunia lebih berat daripada mendengarkan penjelasan mengenai Ma’ani, Bayan, dan Badi’-nya ayat al-Quran.

Enam tahun saya berada di Pesantren Raudlatut Thalibin dengan tempaan para Kyai besar, namun hanya secercah pengetahuan yang nyantol dalam fikiran, sangat disayangkan bukan. Hanya pengamalan serta pengalaman hidup sederhana yang dapat saya petik dari Kyai-kyai saya, itupun hanya sedikit. Pengamalan seperti cinta tanah air, toleransi, menghormati perbedaan pendapat, gotong royong hingga kekancan dan tepa slira saja yang dapat saya contoh dari mereka, itu pun kadang masih sering ndelomor.

Empat tahun setelah saya boyong dari pesantren, penyesalan tersebut baru terasa, terutama akhir-akhir ini dimana penjelasan berikut solusi yang beliau tawarkan tentang konflik Israel-Palestina naik ke permukaan. Suara peking tentang sejarah konflik Palestina-Israel sampai Yahudi-Muslim yang dulu sempat dijelaskan oleh beliau, dan saya tangkap dengan rasa kantuk berat serta fikiran kosong, tidak sedikitpun nyantol dalam fikiran saya.

Padahal, selain menjelaskan tafsir berikut hikmahnya, Pak Yahya selalu menjelaskan kadar falsafi, sejarah dan situasi geo-politik dari sebuah ayat yang sesuai dengan keadaan sekarang. Perlahan saya dapat membaca melalui beragam literatur dan menyaksikan sendiri keadaan yang lima sampai sembilan tahun lalu sudah beliau jelaskan.

Untuk menulis ini, saya pun perlu melihat situasi nasional terlebih dahulu untuk menjernihkan fikiran. Bila dirasa sudah mulai sedikit sejuk seperti sekarang, dan tulisan dari para kolumnis kondang sudah naik ke permukaan, barulah saya memberanikan diri menyampaikan tulisan dari sudut pandang yang lain. Meskipun sebenarnya, tulisan ini terlihat sedikit songong karena saya bukan abdi ndalem dan juga bukan santri senior, tapi toh rasanya gregetan juga melihat teman-teman yang berseberangan, sebut saja PKS, terus-menerus memanfaatkan momentum ini.

Gagasan kasih sayang yang dikampanyekan Pak Yahya merupakan gagasan brilian berbentuk stimulus (perangsang, penyadaran) untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan ini. Namun sayangnya, gagasan tersebut justru digoreng dan kerap dipandang sebelah mata, justru oleh oknum-oknum yang ngaku-nya peduli dengan Palestina.

Jika benar membela Palestina, peduli dengan Palestina, simpati dengan penderitaan rakyat Palestina, sebaiknya usaha apapun itu, sekecil apapun itu ya harus tetap didukung, bukan justru dibungkus seolah-olah Pak Yahya tidak pro dengan Palestina, dikampanyekan bahwa Pak Yahya antek Israel, Pak Yahya hanya berbicara demikian saja, dan lain-lain, yang pada akhirnya menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Logika sederhananya kan seperti itu. Kenapa kita tidak mendukung dengan tagar #WeChooseRahmah secara serentak untuk menyuarakan kasih sayang ke penjuru dunia?. Kenapa harus membungkus seolah Pak Yahya tidak pro-Palestina? Ya jawabannya sudah tentu karena dipolitisasi.

Kalau memang tidak dipolitisasi atau memang pyur menyuarakan simpati untuk rakyat Palestina, semestinya apa yang disuarakan oleh Pak Yahya tidak menimbulkan kontra di masyarakat dong. Wong isinya kita harus selalu menebar kasih sayang. Lagi pula, dalam pidatonya, beliau pun telah menawarkan, bahwasanya kita harus memiliki sikap Rahmah (kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama), karena dengan Rahmah, kita dapat bersikap adil, adil terhadap diri sendiri dan juga kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain.

Jelas ini merupakan virus positif yang ditebar, sekaligus sindiran keras, terutama bagi mereka yang memanfaatkan konflik Palestina-Israel untuk kepentingan memperkaya diri sendiri. Untuk urusan keberpihakan, dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai rakyat Palestina masih menderita, NU dan Indonesia tetap membela Palestina, jadi buat apa mempermasalahkan Pak Yahya yang tidak menyelipkan kata “kami berdiri di sini untuk Palestina”? wong sudah jelas kalau kita berjuang hingga detik ini untuk Palestina. Tanpa disebutkan orang pun akan faham kalau Pak Yahya berasal dari NU dan Indonesia yang sudah pasti suaranya digunakan untuk membebaskan penderitaan rakyat Palestina.

Tapi ya seperti yang telah disinggung, karena efek cebong vs karpet, ditambah sentimen temen-temen PKS, munculah isu yang menyerang kalau Pak Yahya tidak pro Palestina, Pak Yahya hanya menyuarakan pidato yang sederhana, Pak Yahya antek Israel dan lain-lain.

Benar kata Pak Yahya yang mengutip dawuh Sayyidina Ali, : “Mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan darimu. Mereka yang membencimu tidak akan merubah pikiran mereka meski kau jelaskan”.

Meskipun sudah banyak ulasan mengenai konflik Israel-Palestina yang hanya digunakan untuk memelihara keuntungan sebagian pihak, diplomasi Kyai Yahya bagi mereka yang tidak suka, atau termakan oleh isu yang disebar sebagian kalangan yang nyinyir, mereka yang kurang faham dengan langkah diplomasi Kyai Yahya, tetap saja akan selalu menyudutkan Kyai Yahya dan menganggap bahwa Kyai Yahya bukanlah pejuang kemanusiaan Palestina.

Pak Yahya sebenarnya telah melakukan perjuangan serupa sudah sejak lama dan atas nama pribadi. Semua beliau lakukan hanya atas nama kemanusiaan. Kok baru sekarang dituding yang tidak-tidak? apa karena takut suaranya kalah atau bagaimana? kok tega-teganya dihujat dengan bahasa yang kasar dan dituduh tidak pro terhadap Palestina? Kalau begitu tidak fair dong!

Ya, kalau caranya seperti itu, bolehlah sekali-kali saya curiga, jangan-jangan penggalangan dana buat Palestina justru dibuat memperkaya diri sendiri? hanya sekian persen saja yang disumbangkan? itu kan dana publik, saya berhak dong curiga dan meminta transparansi dana tersebut? kira-kira fair atau tidak jika saya mengatakan kalau penggalangan dana untuk Palestina ternyata digunakan untuk kepentingan pribadi saja?

Kemudian yang terhangat nih, langkah terbaru yang hendak dilakukan oleh mereka yang tidak menyukai Kyai Yahya adalah dengan berunjuk rasa ke kantor PBNU agar mencopot status Kyai Yahya dikepengurusan. Halah, saya yakin itu sih hanya aksi-aksi-an biar difoto, masuk media sosial agar terkenal saja, lalu menimbulkan pro-kontra yang pada akhirnya, buat kepentingan lima tahun yang itu kan?, halah, ngaku saja. Tidak perlu saya komentari panjang lebar juga. Paling juga tidak digubris oleh PBNU.

Satu hal lagi yang perlu menjadi catatan, jauh sebelum beliau mengkampanyekan rahmah dalam forum internasional, Kyai Yahya telah mencontohkan sendiri bentuk kasih sayang kepada santrinya dalam contoh sikap terkecil, membiarkan santrinya tertidur saat ngaji selepas subuh.

Sehat selalu, geh Pak Yahya.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 54
    Shares

Leave a Reply