Siapapun Berpotensi Melakukan Riya’

Share
  • 26
    Shares

الرياء يدخل كل الاعمال حتى الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم (سلالم الفضلاء للشيخ محمد نووي الجاوي شرح على منظومة هداية الاذكياء الى طريق الأولياء)

Riya’ berpotensi masuk pada setiap amal bahkan hingga membaca sholawat kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Salalim al-Fudhola’ karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi syarh dari Mandzumatul al-Hidayat al-Adzkiya’ ila thoriq al-Auliya’)

“Mbak, mohon sumbangan seikhlasnya ya,” tiba-tiba seorang pengemis menghampiri Tarjo sembari menyodorkan mangkuk kusam. Meminta sedekah. Mengemis.

Tarwo yang sedang menyeruput kopi di rest area mendadak gelagapan. Kaget. Lantas ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang sebanyak dua lembar dua ribuan. Setelah memberi uangnya pengemis itupun pergi.

“Aduh iya ya. Aku ndak punya receh lagi buat bayar parkir,” ujar Tarjo.

Tiba-tiba Karwo, temannya yang sedang sama-sama istirahat menyahuti, “Mbok yo ikhlas, Jo sedekah tuh.”

Seringkali kita diminta ikhlas untuk sedekah atau mengamalkan suatu kebajikan. Ikhlas itu apa sih, Lur?

Menukil dari kitab Salalim al-Fudhola’ karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi mengartikan kata Ikhlas dengan sederhana. Yaitu, memurnikan amal dari rasa ujub (berbangga diri) terhadap amal tersebut. Masih dalam pembahasan yang sama beliau menjelaskan lagi bahwa ikhlas adalah an la ta’buda illa robbaka wa tastaqiima fii ‘ibaadati robbika (semata hanya menyembah Tuhanmu dan istiqomah dalam beribadah kepadaNya). Artinya segala perbuatan yang kita lakukan harus semata-mata karena Allah. Bukan karena yang lain. Seperti lirik lagu Cintai aku karena Allah… miliki akuu karena Allah… kasihi aku karena Allah… miliki aku karena Allah… nah baru tuh cintamu berarti sudah ikhlas. Hehehe.

Pada pembukaan tulisan ini, Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi menjelaskan bahwa setiap amal yang kita lakukan berpotensi riya’ di dalamnya. Lafadz Kullu di situ menunjukkan makna ‘am (umum). Artinya semua amal, bahkan membaca sholawat kepada Nabi Muhammad sekalipun. Yah mungkin ingin dianggap sholih, dianggap paling cinta sama Nabi Muhammad. Riya adalah kebalikan dari ikhlas. Dinukil dari kitab yang sama bahwa riya’ adalah melakukan ibadah dengan sengaja ditampakkan kepada manusia dengan tujuan untuk memperoleh harta, pangkat atau pujian.

Kalau dikaitkan dengan teori hirarki kebutuhan manusia yang diungkapkan oleh Abraham Maslow seorang ahli psikologi dari Amerika bahwa setiap manusia memiliki beberapa tingkatan kebutuhan. Pertama, kebutuhan fisiologi yang berkaitan dengan kebutuhan makanan, minuman, tempat tinggal dan seks. Kedua, rasa aman. Setelah kebutuhan pertama terpenuhi maka kebutuhan manusia akan meningkat menuju tingkatan kedua yaitu mencari perlindungan dan rasa aman. Ketiga, kasih sayang. Berkaitan dengan hubungan sosial seperti persahabatan, keluarga dan cinta. Keempat, penghargaan. Berkaitan dengan rasa ingin dihargai, diakui, diapresiasi dan mencari ketenaran. Kelima, aktualisasi diri yaitu berkaitan dengan pengembangan potensi diri dan bakat.

Pada kebutuhan keempat, yaitu penghargaan. Setiap manusia selalu ingin diapresiasi dari apa yang ia perbuat. Bahkan setiap manusia selalu ingin merasa tenar. Buktinya hampir seluruh penduduk muka bumi pada saat ini memiliki media sosial seperti fesbuk, twitter, instagram. Untuk apa sih? Yo untuk tenar, ngeksis. Untuk menjalin silaturahim? Halah prut. Mungkin iya, tapi tujuan paling besar yo untuk tenar, eksis dan stalking mantan. Jadi teori yang dikemukakan oleh Maslow ada kaitannya dengan teori yang juga diungkapkan oleh Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi sebelumnya.

Lalu bagaimana? Apakah kita tidak bisa mencapai tingkatan ikhlas? KH. Ahmad Saidi bin Said pimpinan Pondok Pesantren Attauhidiyyah saat menerangkan teori yang dikemukanan oleh Syaikh Muhammad Nawawi tersebut bahwa untuk mencapai tingkatan ikhlas dalam beribadah itu harus dilatih. Beliau memberi analogi dengan belajar mengendarai sepeda. Saat kita belajar mengendarai sepeda maka pasti berkali-kali kita akan terjatuh, gagal kemudian berulang kali pula kita bangkit dan belajar lagi. Begitulah ikhlas, perlu dilatih, perlu belajar. Hingga Allah yang mengetahui kadar keihkhlaan pada hatimu. Ya, kesimpulannya ikhlas itu hanya hubunganmu dengan Tuhanmu. Teruslah berlatih ikhlas.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 26
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.