Mudikmu Jangan Sampe Salah Niat, Lur!

Mudikmu Jangan Sampe Salah Niat, Lur!

Share
  • 5
    Shares

Tidak terasa bulan Ramadan hampir berakhir, masyarakat perkotaan akan segera melaksanaklan libur lebaran. Itu tandanya tradisi masyarakat urban rutinan menjelang harin raya akan segera terlaksana. Ya, masyarakat urban yang pernah melaksanakan urbanisasi perpindahan dari desa ke kota akan melaksanakan eksodus besar-besaran perpulangan menuju kampung halaman masing-masing sejenak dalam rangka menenangkan diri dari keriuhan aktivitas ibu kota dan juga sekaligus menjadi ajang silaturahim dengan sanak saudara. Tradisi tersebut biasa kita sebut ‘mudik’.

Jalanan akan dijejali hilir mudik kendaraan bermot or dengan berbagai macam jenis roda. Stasiun, terminal dan bandara akan disesaki penumpang selama arus keberangkatan dan kepulangan mudik. Secara spontan kota-kota besar lumbung para pemudik mencari harta tiba-tiba akan sepi dan tak semacet biasanya. Sebaliknya, desa-desa dan perkampungan akan dibuat ramai oleh para pemudik yang sedang merayakan libur lebaran.

Fenomena mudik macam ini bukan sekedar fenomena perpindahan sekelompok pekerja dari kota ke desa saja, tapi juga ada perpindahan arus ekonomi. Bayangkan, berapa banyak biaya yang dihabiskan para pemudik selama perjalanan pulang ke kampung halaman, belum lagi keperluan yang dihabiskan selama berada di kampung halaman. Ditambah lagi bagi-bagi THR kepada jomblo sanak saudara dan handai tolan sebagai tanda syukur atas dilebihkannya rezeki selama bekerja. Bisakah kita hitung berapa banyak jumlah uang yang ditransaksikan jika seluruh biaya pemudik dikalkulasikan? Itu artinya ada semacam transaksi besar-besaran di desa-desa kampung halaman para pemudik.

Hal inilah yang tidak bisa luput dari perhatian orang desa (tanpa bermaksud merendahkan karena penulis juga termasuk orang desa) yang tidak pernah sekalipun merautau atau bekerja di kota. Ada semacam sifat manusiawi yang berlebih atau sifat kecemburuan sosial ketika melihat teman, kerabat atau saudaranya pulang mudik ke kampung halaman lantas membawa kendaraan baru ataupun barang berharga. Pun sebaliknya di pihak para pengais rezeki di kota, ada saja yang secara sengaja meniatkan pamer kepada sanak saudara dan para tetangga sebagai tanda kesuksesan selama bekerja di kota.

Tentu saja penulis tidak bisa mengeneralisir bahwa setiap pemudik memiliki niatan demikian, tapi hanya sedang berusaha mengangkat apa yang biasanya terjadi dalam realita masyarakat kita.

Melihat fenomena tersebut, patut kita pertanyakan kepada diri para pemudik apa sebenarnya niatan utama mudik ke kampung halaman? Apakah niat tulus untuk pulang dengan niatan silaturahim kepada orang tua dan sanak saudara atau justru berniat menunjukan kesuksesan semata?

Tentu sudah sangat mashur kita mendengar hadis yang berkaitan dengan niat. Bahkan dalam beberapa kitab hadis juga, hadis tentang niat ditulis di halaman pertama. Ini menandakan bahwa niat adalah hal yang penting dan urgent bagi kita .

Kaitannya dengan niat, pemudik semestinya harus menata niat terlebih dahulu sebelum pulang ke kampung halaman agar tidak salah niat yang justru mengurangi nilai ibadah silaturahim. Alangkah lebih baik jika mudik diniatkan untuk bersilaturahim dengan keluarga dengan tanpa embel-embel memamerkan harta. Dan lebih baik lagi, jika rezekinya didapat di tanah perantauan, bisa disisihkan untuk diberikan kepada para kerabat dan tetangga yang membutuhkan, tentu tanpa niatan yang lain selain berbagi sebagi tanda syukur.

Maka dari itu, jangan sampe salah niat. Apalagi kalau mudiknya gratisan.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 5
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.