Jangankan shaum, shiyam Saja Belum

Share
  • 46
    Shares

“Shaum” dan “shiyam” adalah bentuk mashdar dari kata shama–yashumu. Keduanya sama-sama disebut dalam Al-Quran. “Shaum ”disebutkan sekali, yaitu dalam surah Maryam ayat ke-26:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (26)

Artiya:

Makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seseorang, katakanlah,“Sesungguhnya aku telah bernazar shaum untuk Tuhan Yang Maha Pemurah; aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini.”

Jumhur mufassir mengartikan kata shauma dengan shamt (perihal diam, perihal tidak berkata-kata—menahan diri dari berkata-kata). Arti itu dipertegas dengan kalimat berikutnya: fa lan ukallima al-yauma insiyya (Aku tidak akan berbicara dengan seorang pun pada hari ini)

Sedangkan “shiyam” dalam Al-Quran disebutkan sembilan kali dalam tujuh ayat:

  • Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.

  • Dalam surah surah Al-Baqarah ayat ke-187 (disebut dua kali):

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Artinya: Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasauntuk berhubungan intim dengan istri-istri kalian

 ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya:  Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.

  • Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-196 (disebut dua kali):

فمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِیضًا أوْ بهِ أذى مِنْ رَأسِهِ ففدْیةٌ مِنْ صِیامٍ أوْ صَدقةٍ أوْ نُسُكٍ

Artinya:

Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur) maka wajiblah atasnya fidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban

 فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ Artinya:

Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali.

  • Dalam surah Al-Nisa ayat ke-92:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ

Artinya:

Barang siapa tidak memperolehnya maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan tobat dari pada Allah.

  • Dalam surah Al-Maidah ayat ke-89:

فمَنْ لمْ یجِدْ فصِیامُ ثلاثةِ أَّیامٍ

Artinya: Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.

  • Dalam surah Al-Maidah ayat ke-95:

وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ

Barang siapa membunuhnya (hewan buruan ketika kalian sedang berihram–haji atau umrah) dengan sengaja maka dendanya ialah mengganti hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya menurut putusan dua orang adil di antara kalian sebagai hadyu yang dibawa ke Ka’bah, atau kaffarat (membayar tebusan) dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya.

  • Dalam surah Al-Mujadalah ayat ke-4:

فمَنْ لمْ یجِدْ فصِیامُ شَهْرَیْنِ مُتتابعَیْنِ مِنْ قبْلِ أنْ یتمَاَّ سا

Artinya: Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak) maka wajib baginya berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur.

Seluruh kata “shiyam” di ketujuh ayat Al-Quran itu bermakna puasa secara fikih, yaitu tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan intim sejak tiba waktu subuh hingga jumpa waktu maghrib—sebagaimana puasa yang sedang kita kerjakan pada Ramadan ini.

Jadi, kata “shaum” atau “shiyam” dalam Al-Quran digunakan secara berbeda.

“Shaum” dalam surah Maryam di atas merujuk pada arti umum, yaitu al-imsak ‘an ayyi fi’lin au qaulin kana. Menahan diri dari tindakan atau ucapan. Dalam konteks ayat itu, “shaum”tersebut berarti “menahan diri dari ucapan” atau “tidak berkata-kata” atau “diam”. (Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu al-Mandzur, “shaum” artinya tark al-tha’am wa al-syarrab wa al-nikah wa al-kalam atau tak makan, minum, berhubungan intim, dan berkata-kata).

Sedangkan “shiyam” di ketujuh ayat di atas merujuk pada arti spesifik, yaitu arti secara fikih: imsak ‘an al-‘akl wa al-syurb wa al-jima’ min thulu’ al-fajr ila ghurub al-syams ma’a al-niyyah yang artinya

Tak makan, tak minum, dan tak berhubungan intim sejak fajar terbit hingga matahari terbenam.

Kesimpulannya, perbedaan “shaum” dengan “shiyam” adalah perihal umum dan khusus. “Shaum” lebih umum daripada “shiyam”. Jika “shiyam” hanya digunakan untuk arti berpuasa secara fikih yaitu “menahan diri dari makan-minum-seks”, “shaum” digunakan untuk semua yang dimaksud dalam arti “menahan diri”. Puasa Ramadan atau puasa Senin-Kamis bisa disebut “shiyam”, juga bisa disebut “shaum”.

Dalam hadis-hadis, Nabi menggunakan kata “shaum” dan juga “shiyam” untuk sama-sama arti puasa secara fikih.

La shauma fauqa shaumi dawuda ‘alaihissalam shathr al-dahr. Shum yauman wa afthir yauman (HR. Al-Bukhari).

Artinya: Tidak ada puasa yang melebihi keutamaan puasa Nabi Dawud ‘alaihissalam, yaitu berpuasa dalam setengah tahun. Satu hari berpuasa, satu hari tidak berpuasa (selang-seling).

Ahabbu al-shalati ilallah shalatu dawuda ‘alaihi salam. Wa ahabbu al-shiyami shiyamu dawuda (HR. Al-Bukhari).

Artinya: Shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Nabi Dawud.

“Shiyam” adalah bagian dari arti “shaum”. Sementara, “shaum” tidak pasti berarti “shiyam”. Menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mengungkapkan rasa cinta, menahan diri dari mencaci sesama … semua itu disebut “shaum” dan tidak bisa disebut “shiyam”.

Barangkali dari sini kita tahu hikmah kenapa dalam niat puasa yang digunakan adalah diksi “shaum”, bukan “shiyam”: Nawaitu shaumaghadin ‘an adai fardhi syahri ramadhani hadzihis sanati lillahi ta’ala, yaitu, agar kita tak hanya berpuasa secara fikih, tak hanya menahan diri dari makan, minum, seks, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa secara fikih, tapi juga berpuasa dari segala hal dan sifat buruk. Menahan diri dari makan-minum-seks hanyalah bagian kecil dari shaum  yang kita niatkan dalam setiap berpuasa.

Dari sini kita juga tahu hikmah lain: kenapa yang diwajibkan oleh Allah adalah shiyam,bukan shaum (ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikum al-shiyam), yaitu karena shaum  lebih berat daripada shiyam. Jika shiyam diwajibkan hanya pada siang hari Ramadan, shaum diwajibkan pada setiap saat di sepanjang hayat.

Shaum adalah capaian dari shiyam.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 46
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.