Membangun Keseimbangan Hidup : Integrasi Dimensi Spiritual dan Sosial

opini

mmWritten by:

Share
  • 31
    Shares

Secara teologis, pada dasarnya dalam diri manusia ada dua dimensi pokok yang tak terpisahkan : yaitu ruhani atau akal (dimensi kejernihan) dan nafsu (dimensi kekeruhan).

Keduanya biasa kita ilsutrasikan dengan dua sifat makhluk Tuhan, malaikat dan iblis. Dalam hal ini manusia dianugerah karunia yang sama sekali berbeda dengan makhluk Tuhan yang lainnya berupa akal, dimana ia diberi kewenangan dalam menjalankan kehidupan dengan potensi dari dua dimensi tersebut, yang bisa mengarahkan ke hal positif dan negatif sekaligus.

Namun demikian, bukan berarti bahwa manusia dalam perjalanannya harus mengesampingkan atau bahkan membunuh salah satu dari kedua dimensi tadi, akan tetapi bagaimana ia mampu mengatur serta mengendalikan dirinya dengan segala konsekuensi yang akan didapat. Karena justru Tuhan dengan penuh kesengajaan menciptakan manusia sedemikian rupa, ingin membuktikan kepada semesta seluruhnya atas kepercayaan yang telah Dia berikan kepada manusia sebagai kholifah-Nya yang mampu mengatur dinamika kehidupan, meskipun sempat diragukan (kalau tidak dikatakan diprotes) oleh Malaikat yang merasa lebih berhak
diberikan kepercayan itu oleh karena mereka sama sekali tidak memiliki kepentingan nafsu syahwat.
Bahkan selain itu, Tuhan memberikan suatu penghormatan simbolik berupa perintah kepada seluruh malaikat untuk sujud kepada manusia (Adam), kecuali Iblis yang dengan segenap keangkuhannya mereka menolak karena beranggapan perintah itu sebuah kehinaan di mana
mereka diciptakan dari api sedangkan Adam hanya diciptakan dari tanah.

Dan peristiwa sejarah “langit” ini memberikan kesadaran dini kepada manusia dalam aspek keruhanian, bahwa penghormatan yang diberikan kepadanya adalah merupakan suatu stimulasi kekuatan spiritualitas yang harus terus dikukuhkan sebelum dan atau dalam laku menjalankan
kepercayaan Tuhan dalam mengatur kehidupan semesta.
Dalam pada itu, manusia tak boleh ‘melupakan’ karakteristiknya sebagai makhluk sosial dengan berbagai dinamika aturan kehidupan yang ada. Keragaman sebagai fakta realitas sosial merupakan wilayah garapan
fungsi kekholifahannya dalam mangatur konstruk sosial untuk menciptakan cita-cita idealnya (dan juga Tuhan) yaitu kehidupan yang baiksejahtera.

Fakta sejarah kehidupan yang telah berlangsung sekian lamanya memperlihatkan hingga kini masih terlampau jauh dari harapan yang diidealkan, betapapun tekad dan kemampuan yang dimiliki manusia dalam memperjuangkan konstruk semesta-sosial.

Dengan berkaca pada kesadaran dini berupa dua dimensi yang ada pada diri manusia, hal ini dapat dimaklumi sewajarnya bahwa dalam diri manusia memiliki kecenderungan lebih terdorong untuk memenuhi ‘godaan’ nafsu dan melalaikan dimensi akal budi.

Gambaran konkrit, praktek-praktek penyimpangan sosial dan kesewenang-wenangan membuktikan betapa manusia semakin jauh dari tanggung jawab perannya sebagai ‘wakil Tuhan’. Kekayaan alam yang merupakan karunia Tuhan tidak dikelola secara semestinya bahkan dihancurkan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dan menindas kelompok lain dengan dalih kesejahteraan telah menjadi fenomena yang melelahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, fenomena itu bukan tanpa perlawanan yang dibarengi rasa optimis untuk berupaya melakukan penyadaran serta memperbaiki keterpurukan kemanusiaan. Ada banyak individu atau kelompok manusia yang masih memiliki kepedulian dalam upaya-upaya penyadaran dan
perbaikan sebagai wujud nilai kemanusiaan. Hanya terkadang dalam melakukan misi perwujudan nilai kemanusiaan, seringkali manusia melupakan aspek spiritualnya yang merupakan stimulasi kekuatan yang paling mendasar.

Mahasiswa misalnya, sekelompok manusia dengan segenap potensi intelektual dan bassis kekuatan massa yang ‘dianggap’ sebagai generasi perubahan, dalam melakukan aksi sosialnya hanya mengandalkan taktik-strategi dan kekuatan fisik, jarang sekali yang mempedulikan atau bahkan melupakan sama sekali kekuatan yang sebenarnya berupa kekuatan spiritual. Begitu pula sebaliknya, banyak di antaranya yang rajin melakukan gerakan spiritual dan pada saat yang sama dalam wilayah sosial bersikap
apatis, enggan melakukan gerak nyata kepeduliaan terhadap sesama berupa ikhtiar atau upaya konkrit.

Menarik untuk kita refleksikan sebuah cerita yang penulis terima dari seorang tokoh yang ia alami sendiri. Ia mengatakan bahwa suatu ketika ada seorang ibu datang ke rumahnya hendak meminta tolong seraya merengek untuk berkenan membantu keluarga dan tetangganya yang akan
digusur oleh oknum dalam rencana pembangunan sebuah proyek. Dengan rasa sedih penuh prihatin ia memberikan saran pada ibu tadi (juga masyarakat sekitar) untuk melaksanakan ibadah sholat sunnah dua rokaat sebelum sholat shubuh. Dengan kesaran ruhani penuh keyakinan ibu tadi langsung melaksanakan saran tadi secara rutin, dan fakta membuktikan dengan usaha fisik yang tak seberapa yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, berbagai percobaan penggusuran yang dilakukan oknum menuai
kegagalan yang berarti. Dari sini akhirnya, penulis ingin mengatakan bahwa betapapun usaha yang kita bangun dalam upaya melakukan perbaikan-perbaikan kehidupan, harus dengan cara mengintegrasikan faktor kekuatan spiritual dan
kekuatan kemapanan intelektual serta gerakan sosial sekaligus. Itulah pentingnya untuk kita kembali pada fitrah kita sebagai makhluk yang sesungguhnya tak memiliki kekuatan apapun dan tidak akan mampu melukakan perubahan perbaikan hanya mengandalkan kekuatan lahiriyyah tok, dan disaat bersamaan melupakan kekuatan bathiniyyah.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis ingin mengutip sebuah
ungkapan, bahwa “gerakan revolusi lahir dari ide yang revolusioner, dan keduanya harus dibarengi dengan gerak spiritual sekalgus”.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 31
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung