Lailatul Qodar dan Semangat Beragama Kita

Share
  • 70
    Shares

Lailatul qodar merupakan salah satu momentum yang paling dinanti, dicari, dan didamba-dambakan oleh setiap muslim di bulan Ramadan. Beralasan, selain dijanjikan dengan kadar pahala yang berlimpah, lailatul qodar merupakan sarana yang tepat untuk menambal beberapa kekurangan yang kita lakukan saat menghamba, sarana yang tepat untuk menyeimbangkan neraca amal, atau lahan yang subur untuk mencari keuntungan dalam perdagangan kita.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa, lailatu qodar adalah malam yang sangat mendatangkan keberkahan, bahkan Allah sendiri berfirman bila malam lailatul qodar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Meskipun begitu masyhur dan memiliki banyak keutamaan seperti yang telah disebutkan, datangnya lailatul qodar serta bagaimana rumus yang tepat untuk mengetahui tanda datangnya malam tersebut tidak diketahui.

Beberapa ulama berpendapat bahwa lailatul qodar jatuh pada tanggal 27 Ramadan dengan argumentasi bahwa, huruf dalam kata “lailatul qodar” berjumlah 9 dan disebut sebanyak 3 kali dalam surat al-Qodr, 9 X 3 maka hasilnya 27. Namun ada beberapa ulama yang mengungkapkan kalau lailatul qodar jatuh pada malam 29 dengan argument bahwa huruf ‘ya’ dalam kata ganti “hiya” berada diurutan 29 (tanpa lam alif). Ada yang beranggapan bersamaan dengan nuzulul qur’an karena pada saat itu malaikat Jibril turun memberi wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari sekian ulama yang memberikan pendapat mengenai datangnya lailatul qodar hanya pendapat Imam Junaidi al-Baghdadi-lah yang mendekati 100 persen benar. Bagaimana tidak, lha wong, beliau mengatakan bahwa lailatul qodar jatuh di setiap malam pada bulan Ramadhan.

Alasan Imam Junaidi mengatakan demikian adalah, yang pertama tentunya kita digiring untuk tidak perlu lagi mempeributkan kapan datangnya lailatul qodar, agar kita dapat focus untuk beribadah di setiap malam dengan optimal. Kedua, Imam Junaidi mengajak kita untuk bersama-sama melihat esensi dari datangnya Ramadan berikut lailatul qodar dengan senantiasa selalu bersikap baik, meningkatkan taqwa dan memperbanyak amal sholeh yang tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadan atau sepuluh hari menjelang Syawal.

Seperti momentum-momentum yang lain, dengan janji imbalan besar, keutamaan, dan manfaat yang segudang, sebagai seorang hamba (dengan maqom dan tingkatan yang masih rendah), selalu saja kita sibuk mencari makna lahiriah serta keuntungan pribadi, akan tetapi lupa dengan nilai kepedulian terhadap masyarakat dan lupa untuk mencari esensi dari bentuk penghambaan kita terhadap Tuhan yang Maha Kaya.

Setiap hari kita mendirikan sholat dengan harapan mendapatkan pahala berlimpah, tingkat dan derajat mulia di hadapan Tuhan, namun lupa untuk membersihkan diri kita dari kefasikan dan kemungkaran. Kita menahan haus dan lapar untuk mendapatkan keutamaan, bersedekah dan berzakat dengan harapan mendapat balasan ganda dari Tuhan, berangkat menuju Baitullah, menangis berderai air mata berharap memohon rahmat dan pangkat, akan tetapi kita semua lupa, dengan sanak famili, tetangga dan kerabat kita yang lebih membutuhkan bantuan dan ulur tangan, utamanya persoalan pangan serta kebutuhan.

Singkat kata, kita sibuk mengurus derajat dan kemuliaan diri sendiri untuk mendapat perhatian serta rahmat Tuhan, namun kita lupa, mengurus dan memperhatikan eksistensi kita sebagai makhluk yang membutuhkan uluran tangan orang lain. Kita selalu egois untuk menjadi yang terbaik, sekalipun dihadapan Yang Maha Mengetahui.

Memang masih dianggap sebagai kewajaran bagi seorang hamba dengan maqom yang masih rendah seperti kita, kalau memang dibandingkan dengan tidak melakukan ibadah sama sekali. Hanya saja, harus sampai kapan kita melakukan penghambaan hanya untuk secuil bongkahan rahmat tanpa mementingkan sisi sosial dan kemanusiaan?

Wallahu A’lamu Bi al-Shawwab.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 70
    Shares

Leave a Reply