Ngaji Pasaran; Jalan Mengais Berkah Ramadan

Share
  • 19
    Shares

Semua tahu bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Semua meyakini pada bulan ini segala kebaikan akan berlipat ganjarannya. Maka masyarakat muslim berbondong-bondong melakukan segala macam bentuk amal kebaikan. Di antaranya adalah mengaji kitab pada bulan ramadan di pondok pesantren. Biasanya dikenal dengan sebutan ngaji pasaran atau ngaji puasaan karena hanya dilakukan selama bulan puasa. Mulai dari awal ramadan hingga hari ke-23 atau bahkan sampai akhir ramadan. Setiap pondok pesantren tentu akan mengkaji kitab yang berbeda sesuai dengan ciri khas yang dianut oleh pondok tersebut. Misal, pondok pesantren Attauhidiyah, Giren, Talang Tegal yang lebih menekankan ilmu Ketauhidan. Maka pada bulan Ramadan kali ini kitab yang dikaji adalah Kitab Tauhid berjudul Hasyiah Dasuqi ‘ala Ummi al-Barohin karya Syaikh Muhammad ibn Ahmad ibn Arafah ad-Dasuqi al-Maliki.

Pada ramadan kali ini salah satu kru Nyarung.com, Zahrotun Nafisah berkesempatan mengikuti kajian kitab yang diadakan di pondok pesantren tersebut. Pengajian yang dipimpin langsung oleh Pengasuh yaitu Romo KH. Ahmad Saidi bin Said. Sedikit mengulas tentang pondok pesantren Attauhidiyah. Pondok yang beridiri sejak tahun 1880 adalah lembaga pesantren salaf yang terletak di Kabupaten Tegal. Awal mula berdiri adalah pondok pesantren yang terletak di Giren, Talang, Tegal kemudian disusul dengan pembangunan di Cikura, Bojong, Tegal. KH. Armia bin Kurdi merupakan pengasuh pertama ponpes Attauhidiyah yang terletak di Cikura sedangkan KH. Abu Ubaidah bin Kyai Syaikhon merupakan pengasung ponpes Attauhidiyah yang terletak di Giren. Hingga saat ini pimpinan pondok pesantren dipegang oleh KH. Ahmad Saidi bin Said dan KH. Chasani bin Said yang masih dzurriyat (baca: keturunan) dari pendiri pertama.

Hal unik yang sudah maklum di kalangan masyarakat Tegal adalah karomah yang dimiliki oleh KH. Ahmad Saidi bin Said yaitu beliau telah mencapai ma’rifat suatu tingkatan tertinggi setelah syariat, tarekat, hakikat. Maka hal-hal ghaib akan tersibak dan mampu dilihat olehnya. Namun berkali-kali dengan segala kerendahan hati beliau, tak pernah mengaku akan karomah tersebut. Beliau selalu mengaku hal yang beliau ketahui sebelum orang lain adalah kebetulan semata.

Sayapun mengalami peristiwa ketika beliau mengetahui apa yang saya katakan dalam hati saat hari pertama mengaji. Saat itu saya baru saja duduk dan menyimak pengajian pada pembahasan sifat Ma’aniy Allah. Pada semester empat di perkuliahan ini saya sudah pernah membahasanya namun belum mendapatkan kepahaman, hal tersebut juga dialami oleh beberapa teman saya yang belum memahami perbedaan dan keterkaitan sifat Ma’aani dan Ma’nawiyah. Seketika saya membatin, “kalo ngaji kali ini aku paham, nanti aku akan cerita ini ke teman-teman kampus”. Seketika itu juga Pak Kyai langsung dawuh, “sampeyan-sampeyan nek ngaji niate sing bersih. Ora usah diniati arep mulang sopo-sopo. Wis diniati beneri awak dewe wae yo”. Jleb! Saya kaget. Mengapa Pak Yai bisa dawuh seperti itu. Kebetulan atau memang beliau diberi Kasyaf oleh Allah saat itu? Wallaahu a’lam.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 19
    Shares

Leave a Reply