Takjil dan Berbagai Khazanah Islam di Nusantara Saat Ramadan

Share
  • 69
    Shares

Sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar, Indonesia memiliki khazanah beragama yang nampaknya tidak dimiliki oleh negara-negara lain di dunia. Khazanah keberagamaan yang beragam tersebut merupakan hasil dari proses Islamisasi di Nusantara, khususnya di Indonesia.

Proses Islamisasi yang sangat panjang tersebut berhasil melebur dan bersentuhan langsung dengan nilai-nilai arif yang telah ada di masyarakat, berhasil berakulturasi dengan agama-agama yang lebih dahulu hadir hingga membentuk kebudayaan-kebudayaan yang memperkaya corak Nusantara. Khazanah-khazanah tersebutlah yang sampai saat ini menjadi perekat keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam praktiknya, beragam amalan dan bentuk ibadah yang hadir di tengah masyarakat, hampir tidak pernah lepas dari nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, kekeluargaan, dan toleransi. Nilai yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, yang telah ada dan terpraktikkan sejak zaman dahulu.

Saat Ramadan tiba, misal, masyarakat Indonesia mengenal budaya “takjil” yang mungkin tidak dimiliki atau berbeda dengan takjil di negara-negara lain. Meskipun awal maknanya berupa penganjuran untuk menyegerakan berbuka, namun makna takjil bagi masyarakat muslim di Indonesia lebih dari sekedar menyegerakan berbuka.

Takjil bagi masyarakat Indonesia, khususnya anak kos (sejenis makhluk dengan sel terkecil) mengartikan “takjil” sebagai bentuk suaka atau invansi untuk mencari penghidupan ke masjid-masjid di sekitar kampus atau kosan. The Takjilers –begitu sebutan para pencari takjil- tidak berlebihan jika dianalogikan seperti Death Squad. Mereka sanggup membabat habis seluruh hidangan yang tersedia tanpa pernah memikirkan kontribusi apa yang telah mereka berikan. Para Takjilers juga tidak akan segan mendatangi masjid-masjid lain dalam satu waktu untuk menjajah komoditi-komoditi yang tersedia.

Fenomena Takjilers tersebut merupakan khazanah dari pengamalan Islam yang ada di Nusantara. Sangat tenggang rasa, toleran, dan gotong royong. Saya pun yakin, Anda yang membaca artikel ini, khususnya anak kos, pernah menjadi Takjilers. Bayangkan, Anda tidak pernah berkontribusi menyejahterakan masjid, tidak pernah menyumbang, datang ke masjid sekedar minta takjil, tapi herannya, Anda tetap kenyang dan tetap bisa tertawa riang. Sungguh fenomena yang begitu indah, dan hanya ada di Nusantara.

Masih pada seputar khazanah takjil yang lainnya. Kalau pemaparan di atas mengenai takjil yang disambung dengan kata “mencari-”, sekarang ada khazanah takjil yang digandeng dengan kata “mengumpulkan-“, mengumpulkan takjil.

Saat memasuki bulan Ramadan, orang tua kita dengan penuh semangat gotong royong dan kebersamaan secara sukarela mengumpulkan takjil untuk disatukan di mushola, masjid atau pos-pos kampung terdekat. Tujuannya untuk berbagi bersama, agar para Takjilers dapat menyambung hidup.

Orang tua kita sangat bersemangat dan berusaha memberikan yang terbaik dalam memberikan takjilnya. Tidak pernah mengharap imbalan dari Kementrian Agama, tanpa proposal, dan tidak membutuhkan sertifikat halal dari MUI, ini khazanah masyarakt kita, ini yang menjaga nilai-nilai kebersamaan dan toleransi kita. Sederhana, tidak ribet, apalagi sampai harus mengeluarkan budget besar untuk mendatangkan qori’ Internasional atau Ustadz Abdu al-Shomad.

Selain takjil, khazanah lain yang ada saat Ramadan adalah tradisi Bukber (Buka Bersama). Bukber memang bukan tradisi baru atau tradisi yang berbeda dengan negara-negara lain di dunia. Karena pastinya, setiap berbuka, pasti masyarakat muslim selalu melakukannya secara bersama.

Akan tetapi, “bukber” yang menjadi tradisi di Nusantara, khususnya di Indonesia sangatlah berbeda. Bukber di Indonesia lebih cenderung mengadakan buka bersama dengan para komunitas atau teman-teman satu angkatan, bukan lagi sebatas bersama keluarga atau teman dekat.

Pernahkah Anda mendatangi acara bukber sebanyak tiga sampai tujuh kali dengan orang atau komunitas yang berbeda? Kalau pernah, Anda termasuk orang yang belum bisa move on dari bayang-bayang masa lalu, jangan-jangan ada mantan di acara bukber angkatan SD kalian, menyedihkan.

Tapi apapun alasan kalian mendatangi acara bukber, kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk ke-arifan masyarakat Indonesia yang senang dengan kebersamaan dan kekeluargaan. Bukber merupakan sarana terbaik dalam merekatkan persatuan, momentum yang tepat untuk mendekatkan yang jauh, merapatkan yang renggang, menyambung yang telah putus (mantan).

Selain takjil dan bukber, ada khazanah Islam di Nusantara yang tidak kalah menarik yaitu, Sahur On The Road (SOTR), atau Bahasa Jawanya Sahure wOng Turon Ratan. Kalau bukber kan sudah biasa, tapi kalau sahur secara bersama, apalagi di jalan itu baru luar biasa.

Kegiatan dari SOTR ini adalah membagi-bagikan sahur kepada masyarakat yang ditemui di jalan, atau biasanya dengan mengadakan touring, bakti sosial, kemudian sahur bersama, atau bisa juga dengan kegiatan touring, sahur bersama, subuh berjamaah, kemudian perang sarung. Sebuah masa-masa yang indah saat masih kecil dulu, sebelum ada perang game online apalagi perang dengan memasang bom.

Pada intinya, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat muslim paling purna, yang dapat melaksanakan perintah-perintah Allah secara bersamaan, hablun min Allah, serta hablun min an-nas. Khazanah-khazanah tersebut perlu dilestarikan, agar masyarakat Indonesia tetap hidup secara berdampingan, saling gotong royong, saling membantu, toleran, dan saling berbagi. Khazanah Islam di Nusantara saat Ramadan merupakan pendidikan terbaik bagi masyarakat agar bisa saling berbagi, menolong, dan mengerti satu sama lain.

Mungkin Ketua RT dan pemuda karang taruna perlu mengadakan takjil-an, bukber-an, dan SOTR-an agar mengetahui mana yang teroris, mana yang bukan.

Indonesia aman, amin.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 69
    Shares

2 thoughts on “Takjil dan Berbagai Khazanah Islam di Nusantara Saat Ramadan

  1. Takjilan pun di setiap daerah bisa berbeda. Saya di Jogja takjilannya makanan berat, di tempat temen saya di Mojokerto takjilannya makanan ringan. 3 hal itu (takjil, bukber, SOTR) memang jadi kegiatan spesial, rasanya kalau tidak ada 3 hal tersebut kurang terasa Ramadannya. 😁😊
    Dan yang menarik biasanya anak kos, santripun, memburu jadwal takjil di masjid maupun kampus sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published.