Lawan Terorisme: dari Kuasai Masjid hingga NU Harus Kembali Peduli Kampung

by:

Menyarung

Share
  • 12
    Shares

Hampir seminggu, dimulai dari peristiwa penyanderaan di Mako Brimob Kelapa Dua oleh napi teroris yang kelaparan,  pengeboman 3 gereja di Surabaya, di Rusunawa Sidoarjo, sweeping polisi terhadap terduga teroris di jalanan, tembak-tembakan, hingga penyerangan di Mapolda Riau membuat Indonesia agak mencekam.

Teror bersifat merusak, membuat takut, membingungkan dan berujung membawa masyarakat pada perselisihan pendapat, dan yang paling ngeri adalah menggerakkan korban teror untuk melakukan aksi perlawan. Lebih parahnya, perang sipil bisa saja terjadi apabila masyarakat terpancing dan saling tidak percaya antar golongan, bahkan antar perbedaan gaya pakaian.

Untungnya Indonesia memiliki penegak hukum yang selalu bekerja keras, cerdas dan berani, sehingga kekhawatiran masyarakat bertindak masing-masing untuk mengamankan daerah yang diganggu teror bisa dibendung. Tetapi, berbicara teror tidak dapat berhenti pada ditangkapinya teroris kemudian selesai begitu saja. Bicara teroris, berarti bicara terorisme, yang berarti sebuah ide atau ideologi yang haru diperangi juga dengan ideologi.

Benar yang dikatakan Jenderal Tito Karnavian di ILC Rabu lalu, bahwa para teroris adalah korban ideologi radikal. Kita membenci idologinya, apa yang dilakukannya, bukan pada orangnya. Sehingga, masyarakat tidak perlu phobia terhadap masyarakat Indonesia yang memilih bercadar, berjenggot dan sebagainya. Beginilah Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang selalu bijak dan menenteramkan rakyatnya, meski rakyat juga sama-sama tahu Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Untuk itu, kita sebagai masyarakat Indonesia yang progresif dan tidak malas-malas-malasan, wajib hukumnya ikut serta membendung ideologi radikal yang dibawa dari Timur Tengah. Memperluaskan lebih giat ajaran agama yang rahmatan lil alamin sampai ke relung hati seluruh masyarakat Indonesia.

Inilah beberapa cara yang perlu dilakukan untuk membendung dan membersihkan ideologi radikal dari tumpah darah Indonesia:

Jadikan masjid tidak hanya tempat salat

Banyak terjadi, masyarakat berlomba-lomba membangun masjid dengan arsitektur yang megah dan mahal, tanpa dibarengi gerakan untuk “mengisi” dan memberikan ruh masjid itu sendiri. Orang-orang, khususnya di kampung-kampung, menganggap masjid hanya berfungsi untuk salat jamaah saja, padahal jika masjid juga difungsikan sebagai center aktivitas pengajar serta pendidikan tunas-tunas desa dan kegiatan keorganisasian desa, baik kepemudaan, kesenian, dan lain-lain tentu saja membuat masjid makin hidup dan tak perlu khawatir ada ideolodi baru berbau radikal dapat mememngaruhi hati masyarakat.

Seluruh elemen masyarakat, baik individu maupun organisasi harus peka dan perhatian terhadap masjid-masjid di desanya. Jangan sampai, masjid yang dibangun di atas tanah nenek moyang sendiri, dikuasai dan dijajah oleh cucu dari nenek moyang orang lain. Perhatikan, awasi, dan laporkan.

BNPT berhenti kasih seminar-seminar mahasiswa, anggarannya untuk pengembangan pendidikan pengajian dan menyejahterakan guru ngaji serta kiai di pedesaan

Badan Nasional Penanggulanan Terorisme selama ini belum terasa kerjanya. Sebagai wong cilik macam kami-kami ini tidak merasakan betul apa efek signifikan negara membuat BNPT, jika ternyata terorisme masih saja tak bisa dibendung, atau setidak-tidaknya terkurangi.

Beberapa kali saya sering melihat BNPT melakukan kegiatan sosialisasi “bahaya laten terorisme” di kampus-kampus, dengan mengget para lembaga kemahasiswaan. Kegiatan macam inilah yang harus segera dihentikan oleh BNPT, karena kegiatan yang demikian hanya sia-sia belaka. Mahasiswa jangan diberikan materi yang menjenuhkan dan mengerikan seperti itu. Buang-buang anggaran dan tidak ada manfaat yang signifikan.

Mending anggaran BPNPT disalurkan untuk pendidikan antiterorisme yang disusupkan pada musala-musala kiai kampung yang mengajarkan anak-anak mengeja huruf Arab. Jadi, sejak dini mereka sudah dapat berpikir bahwa teror adalah seburuk-buruknya pekerjaan orang beragaama, dan rahmatan lil alamin adalah kebenaran, juga kebaikan yang harus senantiasa ditanamkan pada jiwa dan disebarkan seluas-luasnya.

NU harus kembali ngopeni wong kampung dan lebih kekinian dalam berdakwah

Saya besar dan tumbuh di tengah-tengah santrine Mbah Hasyim Asy’ari, alias NU. Pemandangan masa kecil saya dihiasi oleh Banser yang siap siaga, gagah berani mengamankan acara-acara kedesaaan, seperti pengajian Mauludan, sunatan, mantenan sampai rapat-rapat pemerintahan. Ibu-ibu yang berseragam ijo-ijo yang hobi mendengarkan qasidahan sebelum dan menyanyikan mars muslimat/fatayat sebelum pengajian dimulai. Pemuda sedang guling-gulingan belajar silat Pagar Nusa. Anak-anak setiap sore yang ngaji dan bermain di lingkungan madrasah diniyah. Tentu saja ini adalah pemandangan pemandangan rutinitas yang mulai membentuk dan kuat mengakar pada ingatan saya, bahwa NU itu “ini” punya ajaran “begini” dan tak boleh berlaku “begitu”.

Tetapi mirisnya, sekarang anak-anak memiliki pengalaman yang lebih agak keren ketimbang saya. Jika dulu saya melihat Banser, ibu-ibu Muslimat, Mbak-mbak Fatayat, sampai orang berdebat petentengan sambil mangku kitab kuning di masjid, kini yang dilihat anak-anak adalah kotak kecil berisi berbagai macam hal. Mulai dari yang kaosan samapai polosan, mulai dari yang shlawatan sampai yang cuma desahan dan lain sebagainya.

Barangkali NU, sebagai oraganisasi paling progresif dan militan dalam menyebarkan ajaran rahmatan lil alamin  harus kembali lebih memperhatikan rakyatnya di kampung-kampung dan mulai merebut dunia maya dari genggaman orang-orang yang berpaham tanda kutip.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 12
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *