Ilmu Othak Athik Mathuk

Mbeling

mmWritten by:

Share
  • 8
    Shares

Sepanjang jalan kenangan, peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak” berkonotasi negatif. Atau setidak-tidaknya peribahasa itu ditujukan untuk orang-orang yang selalu tak mampu melihat aibnya sendiri, tapi selalu bisa menyaksikan aib orang lain.

Seandainya pencipta peribahasa yang sudah dihafal anak SD dan jutaan masyarakat itu masih hidup, saya benar-benar ingin bertanya apa alasan Sang Peribahasais (semacam vokalis, gitaris, dan cerpenis)  mencipta kalimat sindiran yang sedemikian dahsyat tersebut.

Saya sangat yakin peribahasa itu tidak mentok pada satu maksud (seperti tersebut di atas). Bisa jadi, artinya seperti ini: “Bangsa yang tidak pernah bisa melihat potensi dirinya, tapi selalu mengagungkan potensi bangsa lain, meski potensi itu sangat kecil”. Bangsa kita memang tak mampu melihat jarak dekat, apalagi untuk mengetahui potensi negaranya sendiri. Yang terlihat adalah hal yang jauh-jauh, sejauh negerinya wong monconegoro utawa landho-londho.

Bayangkan, demonstrasi besar-besaran kaum muslim kita menentang sekelompok orang kafir (mengikuti orang Islam sok iye yang sering mengkafirkan orang lain) yang menyerang kaum muslim di Palestina, misalnya. Tetapi, di dalam negeri, kok berharap muslim saling tolong menolong, berharap ayem tentrem dan tidak pisuh-pisuhan saja sepertinya tak masuk akal. Pokoknya, apapun yang menyangkut kaum muslim di luar negeri sana selalu halal dan wajib diperjuangkan, tetapi tetangga yang setiap hari kelaparan seakan tak perlu lagi diperjuangkan.

Demikian juga yang dilakukan pemuda-pemudi generasi bangsa kita. Mereka tak mampu melihat betapa eksotik dan menariknya segala yang dimiliki Indonesia: budaya, seni, kerukunan dan lain-lainnya. Bagi mereka, yang jauhlah yang patut dilihat dan ditiru. Lebih bangga-banggakke budaya londho. Bahkan sampai keilmuan pun bangsa kita harus berkiblat kepada negara yang seharusnya tidak layak untuk dijadikan ka’bah. Ini karena bangsa kita sudah tak mampu ereksi saat melihat keseksian buku. Sehingga tidak pernah terjadi onani-onani intelektual yang lebih baru dan segar. Kalaupun harus ejakulasi atau ngecrit, paling-paling nunggu Tuhan memberi nikmat mimpi basah.

Lalu mau bagaimana lagi, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di ujung lautan tampak sudah dipersunting arti yang telah disimpan rapi dalam hati masyarakat ini. Mau diukak-akik kepiye maneh……

*******

Di tengah dusun yang hanya berisi dua keluarga, keluarga Sukinem dan Sutiyem, terjadi semacam pergulatan peradaban yang kelak menentukan nasib oleh pikir generasi penerus zaman. Sebuah dusun yang tidak pernah mengenal instagram, facebook, path dan bala-balanya itu sedang dilanda kekeringan yang mengerikan, namun rerumputan krokot dan sejenisnya masih mampu tumbuh subur mengganggu tanaman.

Sementara Sukinem dan Sutiyem sedang matun (membersihkan rumput yang mengganggu tanaman) di ladang masing-masing, suami mereka sibuk mencari air untuk nyiram tembakau yang daunnya ngelinting (layu). Mimpi tembakau kering sebelum panen dan bangkrut menghantui saat mereka terlelap.

Suami Sukinem dan Sutiyem sama-sama putus asa. Kedua lelaki tersebut terus berjalan menyusuri kalen, dengan harapan menemukan air berlinang untuk menyelamatkan tembakaunya yang sedang kehausan. Galeng, tebing dan bebatuan tajam yang dilalui kalen itu mereka susuri, tanpa lelah dan henti. Mereka terus bergerak ke atas, dengan harapan menemukan bank air yang melimpah ruah. Tetapi apa mau dikata, Tuhan memang selalu mengajak bercanda dan Maha Ngetes makhluknya, sumber air yang diharapkan tak kunjung mereka temui juga.

Suami Sukinem dan Sutiyem pecah kongsi. Suami Sukinem bertekad untuk terus merangkak naik mengikuti kalen yang sedang kering keronta, karena ia yakin di atas gunung sana pasti ada air yang menggenang. Sementar itu, Suami Sutiyem memutuskan untuk turun ke bawah, bukan untuk menerima nasib atas ‘bercandaan’ Tuhan, namun memraktekkan ilmu golek sumber banyu yang telah turun temurun dari nenek moyangnya.

Setelah mengamalkan tirakat dan menganalisa tanah sesuai instruksi wasiat nenek moyang, Suami Sutiyem menggali tanah itu tanpa henti, dan akhirnya air yang ia cari menampakkan wujudnya. Tiga hari setelah itu, saat Sutiyem dan Suami sibuk menyiram tembaku, Suami Sukinem dengan wajah lesu, lusuh dan luka gores dimana-mana namun tampak sumringah  senyumnya berlari ke arah mereka berdua. Namun senyum itu sekaligus hilang saat Suami Sukinem mendapati kedua tetangganya itu sedang menenteng timba berisi air. Suami Sukinem heran. Kenapa Suami Sutiyem bisa mendapatkan air, padahal aku saja harus berjalan berhari-hari mengikuti lengkung kalen sampai ke atas gunung, batin Suami Sukinem.

Tak berhenti sampai di situ, sekarang Suami Sukinem juga sedang kebingungan antara bagaimana cara membawa air yang ia temukan atau membuang malu meminta air sumur tetangganya tersebut.

Suami Sukinem dan Suami Sutiyem sama-sama bekerja keras.

******

Sutoyo gragapan bangun tidur. Bajunya basah kuyup. Bukan karena di luar hujan deras dan gentengnya bocor, tetapi karena ia mimpi diarak seluruh warga desa saat menikah. Akibatnya Sutoyo teringat kata-kata Parjan tempo hari, barang siapa bermimpi diarak saat menikah maka itu adalah tanda-tanda kematian.

Pagi-paginya, Sutoyo datang ke rumah simbahnya dan menceritakan detail mimpinya semalam. “Kira-kira maksudnya apa, ya, Mbah? Atau itu tanda-tanda dari Tuhan kalau Izrael mau datang?” Tanya Sutoyo.

“Mimipimu itu, seperti yang mbah-mbahmu terdahulu katakan, bermakna kurang baik. Gusti selalu memberikan tanda-tanda. Mimpi itu adalah tanda, jadi hati-hatilah. Sekarang jangan mabuk-mabukan lagi, jangan judi, jangan mencuri tanaman tetangga. Le, bagi orang Jawa, mimpi baik berarti buruk, begitu juga sebaliknya,” Simbahnya Sutoyo tampak serius berkata demikian.

Tipikal manusia selalu tidak puas dan cenderung tidak percaya apabila ada kalimat-kalimat tidak baik yang memvonis dirinya. Demikian juga Sutoyo, ia mencoba tidak mempercayai yang dikatakan Simbahnya. Akhirnya Sutoyo bertandang ke desa sebelah untuk sowan kepada kiai yang terkenal alim dan ahli tirakat. Cerita dan pertanyaan yang diajukan Sutoyo pun sama.

“Alhamdulillah,” Kiai tersebut tertawa kecil, ia tampak senang mendengar cerita Sutoyo. “Toyo, itu berarti baik untuk dirimu. Sampean belum menikah, kan?

“Belum, Pak Yai,” jawab Sutoyo singkat.

“Mimpimu itu ada dua arti. Pertama Allah ingin menampakkan jodohmu. Apalagi dalam mimpimu, pernikahanmu diarak oleh banyak orang, itu artinya kelak Sampean bisa dadi pucukan pemimpin di desamu. Insyaallah, perbanyaknyaklah berdoa dan beribadah kepada Allah, karena hanya Ia yang mampu menolong manusia.”

Sutoyo keluar rumah Pak Kiai dengan sumringah dan langkah gagah.

********

Sekarang bukan dulu. Dulu tak banyak yang bisa membaca. Sekarang hampir semua orang dapat membaca. Tapi dulu, meski orang tak bisa membaca, mereka bisa memahami dan sekarang banyak orang yang mahir membaca tapi mandul untuk memahami.

Bila kau adalah orang sekarang yang tak melupakan dulu, lalu apa yang engkau pahami dari tulisan ini?

Ciputat, 29 Agustus 2016_ 02.00 WIB  

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 8
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung