Mahfud MD, Santri Gus Dur yang Ngeyelan tapi Ta’dzim

Pondok

mmWritten by:

Share
  • 80
    Shares

Sebagai Guru Bangsa, KH. Abdurrahman Wahid, atau yang lebih familiar dipanggil Gus Dur, tentu memiliki banyak pengikut, atau beberapa orang yang “ikut-ikutan” dengan gaya nyentrik, cara pandang serta dandanan beliau. Tidak jadi masalah, toh apa yang dicontohkan Gus Dur adalah sebuah kebaikan. Tapi apakah pernah terpikirkan, di antara banyaknya santri atau mereka yang “mengaku” sebagai santri Gus Dur, adakah yang paling mirip, atau paling tidak mendekati tindak-tanduk beliau? Seberapa pentingkah kita mencari seseorang yang sikap dan perilakunya mendekati Gus Dur?

Di tengah maraknya Islamisme dan gejolak masyarakat yang mudah memanas, sepeninggal Gus Dur, menyikapi perbedaan terasa dipersulit oleh sebagian kalangan. Itulah alasan mengapa masyarakat kita ini memerlukan tokoh moderat, yang dapat melihat persoalan dengan pandangan yang luas, bijak, sikapnya tegas, santun dan tidak memihak siapa serta partai manapun.

Saat ini, kita banyak mengadakan kajian tentang “Gus Dur-Gus Dur-ian” tapi justru pemikiran dan pola hidup Gus Dur hanya sampai pada ranah diskusi, atau justru hanya digunakan sebagai kendaraan dalam kepentingan praktis. Kita banyak mengadakan kajian, akan tetapi di kalangan akar rumput, di dalam ranah organisasi dan kebangsaan, justru sosok Gus Dur bagi warga NU dan PKB hanya sebatas perdebatan apakah beliau wali atau bukan, atau perdebatan mengenai yang empunya partai atau bukan.

Miris, tapi memang realitanya demikian. Kita tidak lagi memiliki tokoh yang tergolong muda, cukup lantang dan nasional untuk dijadikan rujukan sepeninggal Gus Dur. Hanya orang desa, sesepuh masyarakat dan sesepuh pemuka agama yang memiliki kesederhanaan, bijak, serta netral. Sayangnya, mereka itu jarang dikenali masyarakat kota dan anak-anak muda sekarang.

Dalam kesempatan kali ini, mari kita sama-sama mengambil pelajaran, sembari menggiatkan kembali nilai-nilai kesederhanaan Gus Dur melalui tokoh yang cukup muda dan dikenal banyak orang, sekaligus mengkampanyekan beliau agar bisa naik jadi “capres” atau paling tidak jadi “cawapres”, setelah pada kesempatan yang lalu sempat gagal. Itupun dengan catatan ada partai yang mau mengusung beliau. Tapi saya rasa tidak akan ada, karena selain beliau tidak punya modal, beliau juga santri Gus Dur yang tergolong cukup ngeyel. Tidak ada partai yang mau mengusung orang ngeyel-an seperti beliau.

Beliau ini adalah Prof. Mahfud MD.  

Di antara banyaknya tokoh yang pernah bekerjasama dan menjadi partner Gus Dur, Prof. Mahfud menjadi salah satu santri Gus Dur yang paling ngeyel (kekeh). Kekeh-nya Prof. Mahfud merupakan bentuk ta’dzim beliau kepada seorang mentor dan panutan beliau, Gus Dur. Tidak banyak orang mengetahui bahwa Prof. Mahfud sebenarnya adalah seorang Gus Dur-ian yang tidak memiliki KTA, yang sikapnya cukup dekat dengan seorang Gus Dur.

Prof. Mahfud memang tidak banyak berbicara tentang toleransi dan moderat seperti para Kiai dan Romo yang sudah sepuh serta matang, tapi ada satu nilai yang jarang diketahui masyarakat bahwa Gus Dur, begitu pula Prof.Mahfud merupakan penjunjung tegaknya supremasi hukum di Indonesia. Lebih dari latar belakang Prof. Mahfud yang merupakan orang hukum, sikap dan kekeh-nya memegang prinsip tersebut dicontoh langsung dari mentor beliau, yaitu Gus Dur.

Kalau berbicara toleransi dan sikap moderat, apa yang ditunjukkan Prof. Mahfud tidak sebatas toleransi pada perbedaan keyakinan, lebih dari itu, Prof. Mahfud juga sangat bijak dalam menyikapi isu politik yang berkembang di tengah masyarakat. Meskipun pernah berganti-ganti kemeja, kaos dalam beliau tetap sama ; kebenaran. Itulah yang menyebabkan beliau tidak bisa didikte oleh siapapun dan jadinya ngeyel.

Suatu ketika, saat Gus Dur meminta beliau untuk menduduki kursi Kementerian Pertahanan, Prof. Mahfud yang orangnya ngeyel tersebut beberapa kali menolak dan meminta untuk mengurus kementerian lain yang selaras dengan background beliau. Ditolak sayang, diterima takut mengecewakan, lobbying pun dilakukan. Tapi apalah daya, ngeyel-nya Prof. Mahfud kalah dengan sikap ta’dzim beliau kepada Gus Dur, di samping ada perasaan “sayang” kalau ditolak, terpaksalah Prof. Mahfud menerima tawaran Gus Dur untuk menjadi Mentri Pertahanan. Itu pun beliau terima setelah diberikan “kode” oleh Pak Alwi agar tunduk dan meng-iya-kan perintah Gus Dur.

Sikap ngeyel dan ta’dzim Prof. Mahfud kembali ditunjukkan saat masa-masa genting Gus Dur akan dilengserkan dari kursi presiden. Sebagai bentuk ngeyel dan ta’dzim, Prof. Mahfud mendatangi satu-satu pemimpin partai untuk melakukan lobbying agar Gus Dur tidak dilengserkan dari kursi presiden. Tapi dengan syarat, Gus Dur bersedia merombak jajaran kepengurusan di kementrian, dan itupun di-“iya”-kan oleh Prof. Mahfud. Namun, sikap ngeyel tersebut justru membuat Gus Dur naik pitam. Gus Dur tidak ingin didikte dan patuh terhadap pimpinan partai. Akibat sikap ngeyel-nya tersebut, lagi-lagi Prof. Mahfud salah, dan lagi-lagi, sebagai santri yang ta’dzim kepada Kyai-nya, Prof, Mahfud hanya sendiko dawuh atau nurut dengan keputusan Gus Dur.

Karena menurut pandangan Prof. Mahfud lobbying dengan orang politik salah, mungkin lobi-lobi dengan ormas keagamaan akan diterima Gus Dur. Prof. Mahfud yang saat itu sangat kekeh agar Gus Dur tidak jatuh dari kursi presiden, menerima lobi dari tokoh ormas dengan sarat mengganti konstitusi yang sudah ada dengan Syariat Islam, kemudian di-“iya”-kan oleh beliau. Setelah itu Prof. Mahfud bilang kepada Gus Dur, dan lagi-lagi Gus Dur menolaknya.

Ada lagi cerita saat Prof. Mahfud diajak masuk ke dalam PKB untuk menjadi pengurus, kemudian Gus Dur tidak lagi berada dikepengurusan. Benar saja, Prof. Mahfud ngeyel, tidak mau menuruti kalau Gus Dur keluar, saking ngeyelnya, kembali dilakukan lobi denan persetujuan keduanya bersama-sama mengurus PKB karena ta’dzim Prof. Mahfud kepada Gus Dur.

Meskipun karir Prof. Mahfud secara eksekutf, legislatif, dan yudikatif sangat baik, beliau tetap hidup sederhana dan melebur. Meskipun karir politik dan relasinya luas, beliau tetap memilih menjadi seorang akademisi yang memberikan kuliah dimana-mana. Hampir setiap peringatan Haul Gus Dur beliau selalu hadir sebagai wujud rasa cinta dan ta’dzim kepada Guru. Hampir disetiap acara temu kebangsaan beliau selalu memberikan kuliah untuk menularkan virus-virus kebaikan diantara masyarakat. Beliau merakyat, santun, dan tidak pilih kasih. Semua bisa Anda lihat di akun-akun media social milik beliau. Prof. Mahfud juga bijak, tidak pernah tebang pilih, serta objektif dalam beberapa statement-nya.

Orang tidak banyak mengetahui, bahwa Gus Dur-lah yang banyak memberikan sumbangsih bagi pemikiran Prof. Mahfud. Orang juga tidak banyak tahu bahwa sebenarnya Prof. Mahfud adalah santri Gus Dur yang sering mempraktikan ilmu beliau dalam kehidupan sehari-hari, terutama tentang adil, bijak, dan berdikari.

Al-fatihah…

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 80
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung