Tradisi Menyambut Bulan Puasa Masyarakat Indonesia yang Syahdu

mmby:

Kabar

Share
  • 24
    Shares

اللهمّ بارك لتا في رجب و شعبان و بلّغنا رمضان و اغفر لنا ذنوبنا

“ya Allah berikanlahl kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan serta ampunilah dosa-dosa kami”

Doa tersebut biasanya dilantunkan di mushola atau surau saat hari pertama memasuki Rajab. Tidak terasa ternyata  bulan Sya’ban akan berakhir kemudian datanglah Ramadhan, bulan suci yang dirindukan oleh seluruh umat muslim. Nah, warga Nyarung pasti tau kalau Indonesia yang penduduknya terdiri dari berbagai suku dan daerah tentu memiliki adat atau kebiasaan yang berbeda untuk menyambut bulan yang suci dan mulia ini.

Menyambut pacar yang ngapel ke rumah aja dengan gembira dan penuh persiapan, mosok yang ini ndak disambut dengan suka cita sih, heheh. Meski hilal belum terlihat dan jodoh belum nampak, juga dipastikan tahun ini sahur dan berbuka masih jomblo, eh apasih nggak lucu. Krik. Oke Nyarungmin, kuy scroll terus laman ini untuk tahu apa saja sih kebiasaan masyarakat Indonesia untuk menyambut  jodoh eh bulan Ramadhan maksudnya. Semua ini berdasarkan hasil survei dari pertanyaan yang saya bagikan di story Whatssapp. Cekidot~

Ziarah kubur dan berbagi makanan dengan warga sekitar

Ziarah ke makam orang-orang terdahulu dan sanak keluarga merupakan salah satu kebiasaan masyarakat suku Jawa dalam menyambut bulan mullia ini. Bahkan kebiasaan ini tetap dilakukan oleh penduduk suku Jawa yang tersebar di pulau Sumatra. Selepas ziarah kubur pada hari berikutnya yang telah disepakati oleh masyarakat setempat mereka akan membagikan makanan kepada para tetangga. Esensi dari kedua kegiatan ini adalah bahwa sebagai manusia perlu mengingat kembali orang-orang yang telah pergi mendahului sebagai teguran pada diri sendiri bahwa sejatinya manusia adalah makhluk yang fana, akan kembali pada Sang Pencipta.

Juga agar mereka tak lupa untuk terus mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Kemudian membagikan makanan kepada para tetangga adalah untuk mensyukuri apa yang ada pada diri kita dan tetap memiliki rasa berbagi kepada sesama. Saling membantu dan bergotong royong. Karena pada hakikatnya, segala yang ada pada diri kita adalah titipan Allah. Wah, warga Nyarung pasti lebih paham dungs apa esensi dari kegiatan tersebut.

Dugderan

Mungkin selain warga Semarang masih asing asing dengan istilah ini. Tradisi Dugderan berasal dari Kota Semarang, Jawa Tengah. Diisi dengan mengeilingi kota. Semacam pawai pada peringatan hari kemerdekaan. Ada penampilan drumb band, orang-orang yang berpakaian adat dan beberapa pementasan seni daerah yang berkeliling hingga berakhir di Masjid Agung. Lalu di sepanjang jalan akan banyak orang-orang berjualan aneka makanan khas Semarang. Wih, pasti rame dan seru banget tradisi Dugderan ini. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan tepat sehari sebelum berpuasa.

Dandangan

Belum beralih dari Jawa Tengah, ada pula kegiatan yang dinakamakn dengan Dandangan. Kegiatan yang berasal dari Kota Kudus ini biasanya dilakukan pada awal bulan Sya’ban hingga akhir. Dandangan itu apa, tho? Dandangan itu hanya semacam kegiatan berjualan yang dilakukan warga Kudus dan menjajakan barang dagangannya di sepanjang jalan Kota Kudus. Barang yang dijualnya pun beragam, mulai dari peralatan rumah tangga, pakaian dan mainan anak-anak. Mungkin kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kudus yang meningkat pada saat Ramadhan nanti yaa.

Cucurak

Dari tadi heran ndak, Lur? Nama-nama kegiatannya kok asing gitu. Oke, kapan-kapan saya akan mengulas tentang makna dan filosofi dari nama-nama kegiatan tersebut ya. Cucurak merupakan kegiatan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang biasa dilakukan oleh warga Bogor. Untuk asal mula kegiatan ini berasal belum dipastikan. Namun yang jelas di antara kegiatan yang telah saya sebutkan tadi kegiatan ini paling sederhana. Hanya dengan melakukan makan bersama di mushola sehari sebelum memasuki bulan puasa. Biasanya kegiatan makan bersama akan dilakukan selepas sholat Isya.

Damar Sewu

Kegiatan ini tidak jauh berbeda dengan Cucurag. Sebelum makan bersama di mushola atau masjid, para warga di desa akan melakukan pawai atau arak-arakan dengan membawa obor dan damar yang memiliki banyak sumbu kemudian dinyalakan api di atasnya. Meski bernama Damar Sewu yang artinya seribu lampu, bukan berarti obor dan damar yang dibawa itu jumlahnya tepat seribu ya. Ini hanya menunjukkan makna banyak. Sambil berkeliling warga akan melantunkan sholawat dan doa-doa sepanjang jalan. Adat penyambutan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa Tengah, salah satunya adalah Kabupaten Brebes.

Nah, beberapa adat masyarakat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan tersebut merupakan ekspresi euforia dan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’alaa atas nikmat dan karuniaNya. Apa kebiasaan masyarakat di daerahmu, Lur?

Silakan isi di kolom komentar ya~

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 24
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *