Dakwah Selo dan Kekinian Ala Gus Nadirsyah Hosen

Share
  • 31
    Shares

Gus Nadir, begitulah ia sering disapa. Pemilik nama lengkap Nadirsyah Hosen ini merupakan Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU di Australia dan New Zealand. Kiai muda yang satu ini begitu aktif dan berperan besar dalam dunia akademik. Beliau juga merupakan dosen tetap di Monash University, Australia. Meraih dua gelar sekaligus pada waktu yang bersamaan merupakan prestasi beliau yang cihuy. Yaitu, gelar Phd in Law dari Universitas Wollongong dan Phd in Islamic law dari National University of Singapore.

Di samping profesinya sebagai dosen tetap beliau juga rajin menulis artikel di jurnal-jurnal internasional dan melakukan riset bersama para pakar hukum. Ajiib.

Prinsip beliau adalah, semakin menulis dan melakukan riset itu berarti beliau semakin terus belajar. Hingga saat ini selain kesibukan beliau sebagai Rais dan dosen tetap, beliau tetap menjalankan aktivitas dakwah dengan baik. Terbukti, beliau merupakan Kiai muda yang prduktif. Sudah 12 buku yang ia tulis.

Buku terakhir yang saat ini terbit adalah buku yang berjudul Islam Yes, Khilafah No terbitan UIN SUKA Press 2018. Buku yang merujuk pada kitab-kitab turots, menguliti sejarah tentang khilafah setelah masa Khulafaurrasyidin.

Keaktifan beliau di dunia literasi tidak hanya ditumpahkan melalui buku, melainkan juga melalui media sosial seperti fesbuk, twiter dan beberap akun blog pribadinya. Bahkan tidak jarang beliau menanggapi cuit-cuitan orang-orang yang mengklaim bahwa dirinya radikal. Tentu dengan banyolan yang jenaka. Beliau juga aktif menulis ulasan tentang Khilafah melalui akun fesbuknya. Menguak sejarah kelam pada masa khilafah.

Saya jadi teringat dengan kisah Farag Fouda yang ditembak oleh segolongan kelompok Jamiyah Islamiyah di Mesir sebab beliau menulis buku yang berjudul Alhaqiqotul Ghooibah dalam terjemahan bahasa Indonesia ialah Kebernaran yang Hilang. Buku tersebut mengulas sejarah tentang kepemimpinan masa khilafah sebagai upaya melawan kelompok yang dengan ‘ngotot’ memperjuangkan khilafah. Bahkan buku itu terbit di Indonesia dan dinikmati oleh masyarakat dengan bebas, tanpa rasa takut seperti yang dialami penduduk Mesir saat itu. Semoga Gus Nadir selalu dilindungi oleh Allah subhanahu wa ta’alaa dimanapun berada. Aamiin.

Cara beliau menyampaikan suatu ilmu atau ma’lumat, baik melalui tulisan atau lisan begitu praktis. Di zaman milenial, tentunya dakwah harus dengan cara yang mudah diterima, dan tidak njlimet. Contoh, beliau sering menyampaikan suatu ilmu atau menanggapi isu-isu dengan menyajikan tulisan dalam bentuk poin per poin. Kalimatnya mudah diterima dan masuk akal.

Ah, sudah tidak terhitung berapa kali beliau dicibir dan divonis radikal oleh orang-orang yang mungkin saja belum paham dan mumpuni keilmuannya, namun beliau tetap menanggapinya dengan santai bahkan sepertinya yang mencibir makin gemas. Sini cubit kalo gemas.

Jangan-jangan mereka yang justru berpaham radikal, eh. Beliau sangat rajin nge-twit. Hal-hal yang beliau alami dalam kehidupan sehari-hari pun beliau tulis di akun twitternya dalam bentuk poin per poin agar bisa diambil manfaatnya bersama. Begitu juga dakwah dalam bentuk vidio yang berdurasi satu menit kemudian diposting di akun intstagram. Beliau mengatakan bahwa saat ini dakwah harus dengan cara yang lebih sederhana. Persis seperti yang beliau lakukan.

Ada kisah lucu yang pernah beliau alami. Melalui akun twitternya beliau pernah mengupload gambar screenshoot aplikasi pemutar musik. Rupanya beliau sedang mendengarkan lagu yang berjudul Ada Bayangmu yang dinyanyikan oleh Yuni Sarah. Tapi netijen malah galfok sama gambarnya Mbak Yuni dengan nge-twit, “Ya Allah Gus, kok Njenegan malah upload gambar perempuan yang buka aurot. Punten, saya hanya mengingatkan.”

Eh, alih-alih beliau menanggapi dengan berucap terimakasih karena diingatkan beliau malah balas dengan memosting ulang gambar screenshot tadi dengan mencoret seluruh badan Yuni Shara kecuali wajahnya. Hehehe.
Begitulah, Gus Nadir, Kiai muda sekaliber dengan Kiai-kiai sepuh. Namun tetap dengan rasa tawadhu’nya dan guyonannya yang khas. Silakan ikuti tulisan-tulisan beliau melalui akun media sosialnya dengan nama aslinya.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 31
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *