Ini Kriteria Pendamping Idaman Gus Azmi

Pondok

mmWritten by:

Share
  • 28
    Shares

Gus Azmi || Ada berita terbaru tentang Gus yang satu ini. Beberapa hari lalu, tepatnya 23 April 2018 adalah hari ulang tahun beliau. Beliau kelahiran 2004, berarti tahun ini beliau memasuki usia yang ke-14. Seperti yang kita ketahui, bahwa panggilan Gus adalah julukan yang disematkan oleh masyarakat kepada seorang lelaki yang masih berusia muda yang masih memiliki garis keturunan kiai. Tentu, panggilan Gus yang disematkan kepada beliau memang betul-betul karena beliau merupakan keturunan kiai, bukan meengaku-ngaku, seperti Kang Siapa kemarin? ups.

Beliau merupakan putra dari Kiai Ahmad Ulil Abshor Ishomuddin yang merupakan cucu KH. Ahyad Muntahar pendiri Pondok Pesantren Mahayjatul Qurro, Wonodadi, Blitar. Sedangkan dari jalur ibunya yang bernama Lailatuzzahro, merupakan putri dari KH. Askandar pendiri pondok pesantren Mambaul Ulum, Berasan, Banyuwangi. Sumber ini insyaallah shohih, dinukil dari hasil penelusuran akun Instagram resmi milik Bpk. Ahmad Ulil Abshor sendiri.

Bertepatan pada hari ulang tahun Gus Azmi, saya berkesempatan mengunjungi Pondok Pesantren Nurul Qodim, Kalijakar, Paiton Kota Probolinggo tempat beliau menimba ilmu. Selain aktif belajar di sana, beliau juga aktif di grup hadroh Syubbanul Yaum dan menjadi salah satu munsyid (vokalis) paling populis di grup hadroh tersebut.

Selain wajahnya yang teduh nan rupawan, suaranya yang sejuk semakin memikat hati siapapun yang melihatnya dan mendengarkan lantunan sholawatnya. Saya bersama dengan Gus Azmi Fans Club memberikan surprise untuk merayakan ulang tahun beliau. salah satu dari kami membawakan kue ulang tahun, dan Gus Azmi menyambut kami malu-malu.

Setelah potong kue dan foto bersama saya sebagai (milisi militan Nyarung) menyempatkan diri untuk mewawancari beliau. Ojo cemburu yo, Mbak-mbak, hihihi. Dengan hati yang masih deg-degan dan nafas yang belum teratur, mula-mula saya berusaha menenangkan diri dan mengambil posisi duduk yang baik. Duh, sebuah kesempatan langka bisa mewawancarai Gus ganteng ini. Tentu dengan jarak yang sewajarnya saya duduk di depan beliau.

Gus, selamat ulang tahun, nggeh. Mugi-mugi segala hajate Panjenengan qobul.”

“Nggih, Mbak. Matur suwun.”

“Gus, ulang tahun Sampeyan yang ke-14, apa keinginan Gus Azmi yang terbesar untuk kedepannya?”

“Terbesar ya, Mbak? Berarti Cuma satu? Hehe.”

Walah, ternyata beliau bisa guyon juga. Eh tapi bener juga, sih.

“Oh nggih, sakersane Sampeyan.” (oh ya, terserah Sampeyan)

“Keinginan saya yang pertama tentunya agar Allah senantiasa memberi kesehatan kepada kedua orang tua saya dan keselamatan. Begitu juga untuk adik-adik saya. Juga, semoga Allah senantiasa memberi keberkahan bagi saya dan teman-teman tim hadroh Syubbanul Yaum agar bisa terus berdakwah, mengajak masyarakat untuk mencintai Rasulullah Shollollaahu ‘alaihi wa sallam.”

Tentu kalian tahu, bahwa Gus Azmi melantunkan sholawat serta pujian kepada Rasulullaah dengan merubah lirik-lirik lagu aslinya. Contoh, lagu Cinta Dalam Istikhoroh yang diubah dari lirik lagu Jaran Goyang namun tetap menggunakan instrumen lagu yang sama. Sebuah kreasi yang ajib.

“Lalu, keinginan lainny nopo, Gus? Mungkin ada kriteria istri idaman gitu, hehehe,” tanya saya malu-malu.

“Lha, kok tanya begitu, Mbak. Masa saya mau melangkahi Sampeyan, hihihi.”

“Ya, ndak gitu, Gus. Mungkin Sampeyan udah ada kriteria gitu.”

Dengan wajah yangn tersipu dan memerah akhirnya beliau menjawab,

“Apa ya, Mbak. Saya sih maunya dapet yang santri juga. Bisa baca kitab kuning. Pecinta sholawat, dan teduh jika dipandang. Seperti Dawuhnya Nabi, wanita yang paling baik adalah wanita yang menyenangkan saat dilihat suaminya, taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya dan suaminya.”

Tuh, Mbak santriwati. Insya Allah deh masuk kriteria istri idaman Gus Azmi ya.

“Oh ngoten. Matur suwun, Gus.”

Saat saya hendak mematikan recorder pada hape, tiba-tiba hape saya terjatuh.

Glutaakk!

“Eh Zahro kenapa? Ngigau kamu?” Tanya teman sekamarku karena aku tiba-tiba terbangun tengah malam. Ternyata pertemuan dan percakapanku tadi hanya terjadi dalam mimpi. Ah, Gusti.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 28
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung