Sarung, Simbol Kesantrian sampai Alat Bunuh Diri

mmby:

Pondok

Share
  • 38
    Shares

Pada zaman penjajahan Belanda, memakai sarung merupakan suatu simbol perlawanan terhadap kebudayaan Barat yang dibawa oleh para penjajah. Pada masa itu, yang mengawali gerakan memakai sarung ini adalah kalangan pondok pesantren, dimulai oleh para kiyai yang kemudian diikuti oleh para santrinya. Seiring waktu, stabilitas keamanan negara semakin membaik, apalagi sesudah kemerdekaan. Pada akhirnya memakai sarung sudah menjadi tradisi dan budaya ala pondok pesantren. Bahkan, sarung menjadi identitas yang melekat pada santri.

Dengan semakin banyaknya santri yang menempuh pendidikan di pondok pesantren, semakin banyak pula alumni yang menyebar di seluruh pelosok negeri dan tetap membawa identitasnya sebagai santri dengan terus menghidupkan tradisi lamanya, yaitu sarungan, termasuk nyarungmin dan para jama’ahnya. Dengan menyebarnya alumni santri/pondok pesantren tersebut, sarungan semakin lama semakin menjadi hal yang umum di tengah masyarakat seacara luas. Bahkan hingga hari ini, kegunaan sarung pun terus berkembang dan multifungsi, apalagi pada era millineal ini yang katanya sih banyak santri atau jama’ah nyarung yang terlalu kreatif.

Daripada penasaran, kita simak yuk para sedulur dan jama’ah nyarung apa saja fungsi sarung saat ini.

Sarung Sebagai Penutup Aurat

Sarung tidak hanya sebatas simbol kesantrian dan kesalehan semata, lebih dari itu, sarung adalah penutup aurat untuk beribadah, yang memberikan sensasi anyes kepada pemakainya.

Sarung Sebagai Pengganti Tas

Jama’ah nyarung ngaku ya, siapa yang pernah pulang kampung dari pondok dulu bawa pakaiannya dibungkus sarung? Atau bawa sarung isi tas dan pakaian karena berusaha kabur dari pondok supaya tidak terlihat pengurus keamanan? hayolohh, ngaku yaa.

Seperti itulah, jama’ah, sarung juga bisa dipakai untuk membawa pakaian seperti halnya tas. Praktis bukan?

Sarung sebagai senjata

Kalian mempunyai masa kecil bahagia bukan ? kalau iya, kalian pasti ingat sarung sering digunakan menjadi senjata pecut, tapi tunggu dulu, pecut disini bukan untuk menghukum, apalagi lagi untuk menggiring sapi. Pecut ini hanya sebagai mainan, bahkan sesekali digunakan hanya sebatas untuk kejahilan.

Sarung Sebagai Pakaian Ninja

Wah ini nih, biasanya pas waktu kecil dulu jama’ah nyarung pasti tidak pernah ketinggalan setiap episode serial tv ninja hatori. Saya curiga, jangan-jangan karena terinspirasi serial kartun ini, banyak ninja jadi-jadian bermunculan di negeri ini. Apalagi tahun 90-an dulu, banyak ninja jadi-jadian bermunculan, tapi mungkin karena kekurangan bahan, sarunglah yang dijadikan bahan pakaiannya. Maklumlah namanya juga ninja jadi-jadian, biasanya sih kekurangan modal.

Sarung Sebagai Bahan Membuat Kerudung

Sarung bisa menjadi kain dan dimanfaatkan menjadi kerudung.

Sarung Sebagai Pengganti Handuk

Santri itu terkenal kreatif dan tidak pernah ambil pusing saat menghadapi suatu permasalahan. Ditengah keterbatasan, santri tidak pernah memikirkan gengsi. Ketika akhir bulan, santri lebih memilih berpuasa ketimbang mengemis kelaparan. Saat mau mandi dan tidak ada gayung, mangkok pun jadi. Saat tidak sabun, lempung pun jadi. Saat tidak ada sikat gigi, tangan pun jadi, apalagi saat tida ada handuk, sarung pun jadi.

Sarung Sebagai Pengganti Selimut

Tak ada selimut, sarung pun jadi. Begitulah kira-kira dawuh para santri, khususnya jama’ah nyarung. Tapi tunggu dulu, sarung disini bukan hanya sekedar  digunakan sebagai selimut untuk melindungi tubuh dari serangan udara dingin dan rasa sepi, tapi juga sebagai tameng atau alat peindung dari serangan jama’ah nyamuk yang sedang berburu makananan di malam hari, tapi itu juga tidak bisa bisa sepenuhnya melindungi dari serangan nyamuk tersebut, karena sarung hanya mampu menyelimuti badan setengahnya saja. Saat bagian badan dan kaki yang diselimuti, maka bagian atas dan muka yang dikerubungi, pun sebaliknya. Saat bagian atas yang diselimuti, maka bagian kakilah yang akan dikerubungi. Jadi serba salah ya, jama’ah nyarung heuheu.

Sarung Sebagai Perekat Romantisme    

Kalau jama’ah nyarung orang kampung dan doyan nonton wayang, pasti paham dong maksud dari romantisme tersebut. Iya, biasanya  jama’ah nyarung yang berasal dari kampung dan suka menonton wayang suka membuat romantisme semakin erat dengan memakai satu sarung berdua, baik dengan bapak, adik, saudara, atau jangan-jangan dengan pasangannya. Eh, jangan ding kalau pasangannya belum halal. Kalau sudah halal baru boleh-boleh saja, bahkan sangat dianjurkan. Cieee, sesarung berdua.

Sarung Sebagai Tali untuk Bunuh Diri

Bagi orang-orang yang putus asa biasanya menempuh jalan bunuh diri adalah suatu pilihan terakhir untuk mengakhiri penderitaan hidup. Dan sarung hadir sebagai solusi untuk menggantikan tali yang mungkin orang sekitar akan curiga ketika orang yang putus asa tersebut tiba-tiba membeli tali. Maka dari itu, Ia akan menggunakan sarung untuk mengikat dan menggantung dirinya, entah di pohon atau di atap rumah.

Selaku jama’ah nyarung yang notabene adalah santri, tentunya bunuh diri adalah hal yang haram untuk dilakukan. Maka dari itu, kegunaan yang terakhir ini bukanlah hal yang boleh untuk ditiru. Jangankan bunuh diri, putus asa saja tidak pernah, karena jama’ah nyarung tidak pernah murung dan selalu beruntung. Wah, hidup ini memang selalu diliputi keberuntungan, ya hehe.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 38
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *