Santriwati Mbah Sholeh Darat Itu Bernama Kartini

Pondok

mmWritten by:

Share
  • 54
    Shares

Raden Ajeng Kartini dikenal dengan kalimatnya yang menginspirasi ‘habis gelap terbitlah terang’. Namun ada kisah yang sering luput dari pembicaraan mengenai awal mula munculnya kalimat yang melegenda itu.

Dilansir dari berbagai sumber, kisah ini bermula dari kegelisahan Kartini akan Alquran yang tak dipahaminya karena menggunakan Bahasa Arab. Kala itu, selain karena larangan Belanda, para kiai juga tak ada yang menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia.

Kegelisahan Kartini ini dia beberkan dalam suratnya kepada sahabatnya Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899. RA Kartini menulis:

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca,” katanya.

Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahi dia karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Alquran. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, Kartini sangat antusias. Saat itu Kiai Sholeh yang berasal dari Desa Darat, Semarang, sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Alquran diterjemahkan. Karena permintaan Kartini, dan panggilan untuk berdakwah, Kiai Sholeh menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Raden Ajeng Kartini dikenal dengan kalimatnya yang menginspirasi ‘habis gelap terbitlah terang’. Namun ada kisah yang sering luput dari pembicaraan mengenai awal mula munculnya kalimat yang melegenda itu.

Dilansir dari berbagai sumber, kisah ini bermula dari kegelisahan Kartini akan Alquran yang tak dipahaminya karena menggunakan Bahasa Arab. Kala itu, selain karena larangan Belanda, para kiai juga tak ada yang menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia.

Kegelisahan Kartini ini dia beberkan dalam suratnya kepada sahabatnya Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899. RA Kartini menulis:

“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?”

“Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca,” katanya.

Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahi dia karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Alquran. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, Kartini sangat antusias. Saat itu Kiai Sholeh yang berasal dari Desa Darat, Semarang, sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Alquran diterjemahkan. Karena permintaan Kartini, dan panggilan untuk berdakwah, Kiai Sholeh menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Alquran itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Salah satu tafsir di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam yang sesungguhnya.

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami,” kata Kartini.

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah Ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur). Kartini terkesan dengan kalimat itu karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Sholeh Darat. Juga dari anak cucu Kiai Sholeh Darat, Fadihila Soleh.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat ‘dari gelap kepada cahaya’ ini. Namun istilah yang dalam Bahasa Belanda ‘door duisternis tot licht‘ itu oleh sastrawan Armijn Pane diterjemahkan dengan kalimat “habis gelap terbitlah terang” yang kini begitu melegenda.

Mr Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Selamat meneladani ibu bangsa, Selamat Hari Kartini!

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 54
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung