Mengenal Guru Besar Tariqah Qodariyah wan Naqsabandiyah

mmby:

Pondok

Share
  • 31
    Shares

Syekh Tholha bin Tholabuddin adalah salah satu Guru Besar Tariqah Qodariyah wan Naqsabandiyah. Beliau termasuk cucu dari Syekh Syarif Hidayatullah generasi ke-9. Syekh Tholha lahir disaat tarekat menjadi ajaran yang paling ditakuti oleh pemerintah kolonial. Dalam beberapa riwayat menyatakan Syekh Tholha lahir di Desa Trusmi, kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon diperkirakan tahun 1825. Namun terdapat banyak perbedaan mengenai tahun tepatnya beliau dilahirkan. Menurut data yang tertulis di Pengadilan, Beliau dilahirkan tahun 1833. Akan tetapi, menurut Achmad Opan Safari (Filolog Cirebon), beliau lahir pada tahun 1878.

Syekh Tholha belajar Ilmu Agama diawali di Pesantren Rancang (Pesantren Ayahnya), kemudian melanjutkan ke Pesantren Babakan Ciwaringin. Dan dilanjut di Pesantren Lirboyo yang kemudian diteruskan di Gresik. Saat berada di salah satu Pesantren tersebut, menurut cerita tuturan, Syekh Tholha pernah bermimpi memakan senjata tajam. Di siang harinya beliau membaca semua Kitab yang ada di lemari Kyainya tanpa belajar terlebih dahulu. Dan akhirnya Kyainya menyarankan Syekh Tholha untuk belajar di Mekkah. Syekh Tholha juga dianggap memiliki ilmu “rasa”. Karena saat Ibu Nyai Syekh Tholha mengidam Ikan Lele, Syekh Tholha memang telah mengambil Ikan Lele sebelumya, yaitu saat banjir melanda Pondok Pesantren tersebut.

Setelah dari Gresik, beliau pulang dan ikut serta mengajar di Pesantren ayahnya. Setelah itu beliau menunaikan Ibadah Haji dan terus tinggal di Mekkah, belajar Tasawuf dan Thoriqoh kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas Ibn. Abdul Gaffar khusus tentang Thoriqoh Qodariyyah wan Naqsyabandiyyah (TQN) beserta murid lainnya yaitu Syekh Abdul Karim Al-Bantani dan Kiai Ahmad Hasbullah.

Setelah bertahun-tahun di Mekkah hingga menjadi Wakil Talqin dan membantu Syaikh Ahmad Khatib Sambas, beliau kembali ke Indonesia. Ditengah perjalanan, kapal yang dinaiki beliau mengalami kecelakaan. Menurut cerita turun temurun, beliau terombang ambing di lautan dengan sebuah kayu dari serpihan kapal hingga rambutnya memanjang. Dan dalam beberapa riwayat, Syekh Tholha singgah terlebih dahulu di Singapura dan mengajarkan TQN di Singapura (Dalam penuturan yang lain, kapal yang rusak adalah saat perjalanan Syekh Tholha kedua ke Mekkah).

Sesampainya di Indonesia, sekitar tahun 1873. Beliau kembali mengajar di Pesantren Rancang (Pesantren Ayahnya). Pada tahun 1876, Syekh Tholha mendirikan Pondok Pesantren Begong, Kalisapu, Cirebon. Tahun 1892 beliau diangkat sebagai Penasihat Keagamaan Kesultanan Kasepuhan-Cirebon, Bupati Kuningan, serta pejabat tinggi pemerintahan dan para bangsawan di Cirebon. Pada tahun 1889, Syekh Tholha ditangkap olel Kolonial Belanda karena dianggap menghina Ratu Belanda dan mempersiapkan perlawanan kepada kolonial.

Karena kecintaan Syekh Tholha kepada TQN, beliau mempersilahkan siapa saja untuk ikut belajar bersamanya. Syekh Tholhah mengajarkan tarekat di Cirebon dan sekitarnya. Beberapa murid beliau yang sampai hari  ini masih dikenal adalah Syekh Abdul Mu’in, pendiri Pesantren Ciasem, Subang, Pangeran Sulendraningrat di Cirebon dan Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya.

Pada tahun 1935 Syekh Tholha wafat dan dimakamkan di Gunung Djati Cirebon. Namun menurut riwayat lain, beliay meninggal pada tahun 1915. Dari beberapa Istrinya, beliau dikaruniai 26 anak, 16 orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Selanjutnya kekhalifahan TQN berkedudukan di Suryalaya (Godebag) Tasikamalaya.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 31
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *