Mengenal Kader PMII Garis Lawak

Menyarung

mmWritten by:

Share
  • 142
    Shares

Dik, kalau kalian telah paripurna belajar di pondok pesantren dan kini baru saja menempuh atau ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, pastikanlah kalian sudah didatangi, kemudian diajak kakak tingkat (kating) kalian yang sedang nyambi menjadi sales, untuk masuk ke dalam organisasi ekstra kampus. Kalau kalian sudah mengalami hal seperti itu, dik, sudah bisa dipastikan bahwa kalian telah menjadi mahasiswa yang terdaftar secara shahih, baik de facto maupun de jure di kampus.

Jika kalian ditampaki secara tiba-tiba, digoda, dan digentayangi oleh kating (kakak tingkat) kalian, harap kuatkan iman, tekadkan niat, dan banyak-banyak berdoa sembari beristikharah agar diberikan pilihan yang terbaik. Saran saya, hadapi saja kating-mu itu, dengarkan, dan simak secara baik-baik penjelasannya. Kalau sudah berhenti pada akhir pembicaraan, dan tiba-tiba memberikan kertas formulir dengan dalih untuk pendataan di jurusan, atau tiba-tiba mengajak untuk nge-camp, pergi ke puncak, inagurasi atau makrab satu angkatan, bilang saja, “Saya ingin menyelesaikan lalaran Al-fiyah, Bang”, sambil pasang muka polosmu. Lakukanlah hal tersebut tiap hari, sampai kating-mu bosan dan enggan mengajakmu lagi.

Hari-hari saat menjadi mahasiswa baru memang begitu menakutkan, hampir tiap hari penampakan kating dengan wajah dan jubah yang berbeda selalu muncul, mengumbar harapan manis kepada para mahasiswa baru macam adiks-adiks ini. Seolah mereka ingin mengajak para maba ini untuk masuk ke surga, namun nahasnya, mereka justru tidak siap berbaris ke neraka untuk memperjuangkan tujuan surgawi organisasi tempat mereka berproses.

Hampir semua kating di organisasi ekstra kampus justru alpa terhadap tujuan organisasi tempat di mana mereka bernaung, meskipun pada kenyataannya, masih ada satu-dua kader yang tetap lurus dan berusaha melaksanakan kewajiban mereka terhadap organisasi dengan penuh tanggung jawab. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, niat serta paradigma kader untuk belajar dan berproses di dalam organisasi tengah mengalami pergeseran.

Lebih memprihatinkan lagi ketika melihat para kating ini mengajak calon anggotanya dengan bualan yang justru tidak jarang, malah membuat para anggota baru tersebut merasa kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Kating yang telah menjadi senior atau kader dalam organisasi hanya memanfaatkan anggota baru pada batas konstituen dalam pemilihan BEM, atau saat rapat akhir atau biasa disebut juga rapat tahunan. Kalau tidak demikian, paling-paling hanya sebatas eksistensi di depan senior yang sudah mapan pekerjaannya. Ideologi, karakteristik kultural, dan pengembangan kapasitas para anggota justru jarang sekali disentuh dan dibahas secara terperinci, mendetil, dan sungguh-sungguh.

Sebagai organisasi ekstra yang malang melintang dan Nyarung, eh nyaring di lingkungan kampus, utamanya Perguruan Tinggi Islam, harus disadari kader PMII juga banyak yang mengalami degradasi, sebagaimana beberapa kader dalam organisasi ektra yang lain. Mereka inilah kader-kader sangar nan menggemaskan yang tergabung dalam aliansi kader garis lawak.

Bagaimana tidak, kader yang ngakunya paling NU atau yang paling dekat dengan kaum nahdliyyin dan yang paling Ahlussunnah wa al-Jama’ah (Aswaja) ini justru jarang sekali mempraktikkan amalan-amalan mendasar khas wong santri yang sederhana, kritis, dan manusiawi. Kalau hanya bisa menyuguhkan tahlilan dan ziarah, kader HMI dan organisasi lainnya (selain yang anti) pun juga bisa. Ya namanya juga kader garis lawak, terkadang memang lucu, hanya bisa menyuguhkan tahlilan kepada para anggota, ngakunya sudah paling NU.

Kalau memang ngaku paling NU, sebagai langkah kecil paling tidak mampu mengakomodir para anggotanya untuk melakukan kajian kitab-kitab klasik kontemporer. Hal kecil yang menjadi nilai tambah ketika dipromosikan ke tengah masyarakat, tentang bagaimana sistem belajar-mengajar di pesantren, namun ya kenyataannya hal seperti ini hanya disadari kader non-lawak. Kalau garis lawakannya dari atas sudah terlihat, naudzubillah, ya seterusnya akan jadi pelawak.

Mungkin kader garis lawak ini memandang kalau kajian tentang agama kurang mbois, tidak keren, kurang akademis, sudah pernah dipelajari, atau tidak mengikuti zaman. Lebih berat kajian filsafat, lebih keren kajian politik dan isu kekinian, misal. Memang tidak salah dan tidak juga harus dipertentangkan, hanya saja, penanaman nilai-nilai idientitas juga penting untuk pembentukan karakteristik anggota dan kader.

Kalau toh memang kajian agama ini sudah kuno dan ketinggalan zaman, cobalah sesekali kader garis lawak yang memiliki pandangan seperti ini diajak piknik ke rumah tetangga. Coba diajak ngopi di depan teras sembari menyaksikan begitu hebatnya tetangga kita dalam mengemas kajian keagamaan.

Coba sesekali kader garis lawak ini ditanya, masjid kampus siapa yang pegang? Berapa jumlah kader tetangga yang mendaftar tiap tahunnya hingga sekarang bisa berkontestasi dan membentuk beragam aliansi? Coba tanyakan pula kepada kader garis lawak ini, berapa jumlah kader yang tidak pulang dan justru nyaman tidur di rumah tetangga? Lantas masih berani bilang kalau kajian tentang keagamaan itu tidak penting? Kalau masjid saja tidak bisa memegang, lantas bagaimana ingin menguasai negara?

Ciri lain dari kader garis lawak adalah, apapun background rayon atau komisariat tempat para kader ini menimba ilmu, diskusi dan pembahasannya selalu menyangkut persoalan politik. Dari hal terkecil seperti pemetaan anggota dan strategi pemenangan yang pembahasannya satu tahun kepengurusan, hingga isu politik nasional yang dibahas sesuai jalur lawakan senior di atasnya.

Kalau bertemu dengan kader garis lawak model seperti ini, lemparkanlah senyuman, sembari diniatkan ngobrol untuk menimba ilmu. Wong politik itu juga penting kok. Mulailah melakukan basa-basi dengan pertanyaan sederhana di lingkungan kampus, seperti UKT yang tidak kunjung menemui titik terang, sampai pertanyaan yang rada berkelas, misalnya berapakah kader PMII yang saat ini menjadi menteri dan berapakah kader PMII yang menjadi anggota Komisi X? Jangan khawatir, kader garis lawak model seperti ini pasti dapat dengan mudah menjawab pertanyaan Anda satu persatu, asal jangan Anda tanya perihal siapakan pencetus huruf pegon.

Ada juga kader garis lawak bagian lapangan. Mereka ini kader-kader yang memiliki stamina ganda, apalagi kalau membahas soal pembagian hasil, serahkan semuanya pada kader garis lawak satu ini. Hadir pada saat-saat genting, RTK, pengajian di rumah senior, Pemira, dan Aksi, kader garis lawak satu ini pasti mampu menghadirkan anggota-anggota yang sebelumnya tidak pernah terlihat. Tapi ketika diskusi, boro-boro mengumpulkan masa, membawa diri saja terkadang terasa berat.

Perlu menjadi catatan bagi kader garis lawak, PMII itu adalah underbow-nya NU. NU itu sangat besar, melekat, dan mendarah daging karena masuk menggunakan pendekatan kultural, hadir di saat umat membutuhkan, siap sedia serta menjadi penyejuk saat keadaan genting. Dan perlu diingat oleh kader PMII garis lawak, jangan ngaku paling NU kalau tradisi dan keilmuan NU sudah hilang dari dalam kader PMII. Jangan pula mengaku paling Aswaja kalau keberpihakan saja hanya untuk kepentingan politik praktis dan “apa kata senior”. Kalau hanya berpihak dan kontra terhadap kaum ekstremis, kader HMI dan organisasi lain juga tahu akan hal itu.

Berbahagialah bagi kalian kader PMII non-lawak yang senantiasa menjaga muru’ah organisasi dengan mengabdikan diri secara ikhlas, mengemban kewajiban dengan penuh tanggung jawab, serta terus mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan praktis lainnya. Angkat topi buat kalian, Sahabat !

Dirgahayu PMII, semoga kader garis lawak semakin tercerahkan.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 142
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung