Pegon, Huruf Sandi Arab-Jawa yang Semakin Hilang Ditelan Zaman

mmby:

kajian

Share
  • 88
    Shares

Bagi orang-orang yang pernah menimba ilmu di pesantren kampung, pasti tidak asing lagi dengan kitab kuning. Kitab kuning ditulis dalam bahasa Arab asli dengan menggunakan huruf hijaiyah asli, kemudian diartikan dengan menggunakan Bahasa Jawa yang ditulis dengan menggunakan huruf arab pegon (huruf arab sandi).

Mungkin orang awam banyak yang tidak mengenal apa itu huruf pegon. Sederhannya huruf pegon sendiri bisa dianalogikan seperti huruf dalam aksara Jawa tapi versi huruf hijaiyah Arab yang sedikit ada tambahan. Kalo dalam huruf Arab asli tidak ada huruf yang merepresentasikan alfabet C, G, J, P, NGA, dan NYA, sedangkan dalam huruf Arab pegon ada huruf yang dapat meprepresentasikan alfapet tersebut.

Huruf Pegon mengambil namanya dari kata “pego” yang berarti menyimpang, karena menggunakan abjad Arab (Hijaiyah) untuk menuliskan bahasa Jawa atau Sunda. Berbeda dengan huruf Gundul atau Gundhil, Pegon sejatinya adalah huruf konsonan sebelum digandeng dengan huruf vokal atau sandangan huruf lainnya. Penggunaan huruf vokal ini bertujuan untuk menghindari kerancuan dengan bahasa Melayu yang tidak terlalu banyak memakai kosakata vokal.

Huruf Pegon sendiri diyakini dikembangkan pada tahun 1400-an oleh Sunan Ampel, atau dalam teori lainnya dikembangkan oleh murid Sunan Ampel yaitu Imam Nawawi Al-Bantani. Yang pasti, huruf ini lahir dari kalangan pemuka agama Islam dan diajarkan secara umum di pesantren-pesantren selama masa penjajahan Kolonial Belanda.

Pada masa itu, muncul fatwa yang menolak untuk menggunakan produk-produk penjajah (Belanda), termasuk tulisan mereka. Maka kalangan ini menggunakan Pegon sebagai simbol perlawanan, juga sebagai bahasa sandi untuk mengelabuhi penjajah (Belanda) pada saat berkomunikasi dengan sesama anggota pesantren dan juga beberapa pahlawan Nasional yang berasal dari golongan santri.

Dalam manuskrip dan literatur pesantren, huruf ini juga banyak ditemukan, seperti dalam Serat (Nabi) Yusuf. Dalam ilmu sosio-linguistik, huruf pegon ini juga bisa dikatakan sebagai bahasa komunitas pesantren (speech community) karena ini juga berfungsi untuk meng- excluding penjajah dari percakapan internal kelompok. Hal ini hampir sama dengan Bahasa Walikan Malang yang sejarahnya juga digunakan oleh para pejuang kemerdekaan di Kota Malang sebagai bahasa sandi untuk mengelabuhi penjajah (Belanda).

Ketika Kemal Attaturk menggulingkan kesultanan terakhir Utsmaniyah, huruf Pegon mengalami pergeseran oleh huruf Latin dan juga huruf Romawi, dimana hal tersebut diresmikan pada tahun 1950-an di Singapura dalam sebuah kongres yang akhirnya melahirkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Saat itu, hampir semua penerbit Koran, majalah, dan buku terpaksa mengganti huruf Pegon dengan huruf Romawi, termasuk majalah At-Turats yang dikenal menggiatkan Pegon untuk semua tulisannya. Majalah ini memiliki gagasan bahwa matinya huruf Pegon adalah matinya Ulama.

Dikenal sebagai Pegon di Nusantara, huruf ini mendapat nama huruf Jawi di Malaysia, namun secara luas dikenal sebagai huruf Arab Melayu karena huruf ini juga akhirnya menyebar hingga ke Brunei, Thailand, dan Filipina. Uniknya, meski digunakan untuk menulis kosakata Jawa, huruf ini tetap ditulis dari kanan ke kiri layaknya penulisan Arab, dengan kaidah penyambungan yang sama.

Sayang, saat ini huruf Pegon kian menghilang meski dulunya digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, dari kalangan kyai hingga sastrawan. Selain memang bersifat temporary (sementara), hilangnya Pegon juga karena kolonial Belanda menekan pergerakan perlawanan dari pesantren.

Meski pakem asli dari huruf Pegon tak pernah ditemukan, namun dalam beberapa buku daerah klasik dapat ditemukan huruf Pegon dengan karakter yang hampir sama satu sama lain. Dalam manuskrip Islam di Jawa kuno, huruf ini seringkali digunakan untuk menulis jenggotan, yakni terjemahan bahasa Jawa atas naskah berbahasa Arab.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 88
    Shares

One Reply to “Pegon, Huruf Sandi Arab-Jawa yang Semakin Hilang Ditelan Zaman”

  1. Rani S says:

    your website is good, success..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *