Rocky Gerung, Filsafat dan Politik

Rocky Gerung, Filsafat dan Politik

Share
  • 23
    Shares

Di ILC, Rocky Gerung menyerukan pemulihan nama baik kata “fiksi.” Fiksi, menurut Rocky, bermakna mengaktifkan imajinasi. “Fiksi” lawan katanya realitas, bukan fakta. Fiksi itu baik, yang buruk itu fiktif. Fiktif di mata Rocky sama dengan kebohongan, tetapi saat ini, kata Rocky, fiksi dibunuh oleh politisi.

Benarkah? Setahuku, tak satupun kamus-kamus Inggris yang membenarkan klaim Rocky tersebut. Dalam kamus Inggris, fiksi itu karya karangan/rekaan, pernyataan yang tak benar/ menipu. Dan Fiktif adalah kata sifat fiksi. Dua-duanya berkonotasi khayalan yg tak sesuai realitas. Kamus KBBI juga sama.

Tapi kalo kita merujuk kata asli fiksi dalamm bahasa Latin, yakni “Fictio,” pemaknaan Rocky tentang fiksi ada benarnya. Fictio  berasal dari kata fingere, yang artinya: to fashion, to form, to construct, to invent, to fabricate (Ignas Kleden, Jurnal Kalam, 1998).

Jadi dalam bahasa aslinya, “fictio” adalah sesuatu yang dikonstruksikan, dibuat, dikreasi, tapi juga bermakna dibuat-buat. Jadi Rocky ada benarnya ketika bilang fiksi sama dengan mengaktifkkan imajinasi. Tapi itu bukan makna satu-satunya fictio, karena fictio juga berarti fabrikasi, tidak ada tapi diada-adakan.

Kalo Rocky konsisten dengan arti fiksi sebagai fictio, dikotominya bukan antara “Fiksi itu baik, dan fiktif itu kebohongan. Juga bukan antara fiksi versus realitas. Tapi antara anggapan bahwa kenyataan itu hasil konstruksi vs sesuatu yang dianggap given, alami, terberi.

Dengan kerangka ini, Rocky ngawur degan pernyataannya bahwa kata “fiksi” dibunuh baru-baru ini aja oleh politisi. Ngawurnya di mana? Satu, pembunuhan makna fiksi yang tadinya luas menjadi identik dengan khayalan itu terjadi sejak akhir abad 19. Yg bunuh? Positivisme.

Dominasi Positivisme yang menganggap bahwa yang disebut fakta adalah sesuatu yg riil dan empiris pada akhirnya memosisikan “fiksi” sebagai sesuatu yang melulu identik dengan khayalan, tak sesuai dengan realitas.

Dari situlah muncul dikotomi antara fiksi sebagai khayalan vs realitas sebagai sesuatu yang alami. Tapi sejak pertengahan abad 20, dikotomi tersebut mulai dipertanyakan. Makna Fiksi yang tadinya direduksi sebagai “khayalan” diperkaya lagi maknanya, mencakup sesuatu yang dikonstrusi dan dikreasi.

Dalam filsafat, tren perluasan makna fiksi tersebut dimulai sejak fenomenologi awal abad 20, tapi paling nampak muncul dalam ide sosiolog Peter BeRockyer dalam The Social Construction of Reality. Di sini bahkan realitas pun bukan alami, tapi hasil fictio, produk konstruksi sosial.

Dalam ilmu politik, khususnya kajian tentang nasionalisme, dikenal aliran konstruksivisme seperti Ben Anderson dan Ernest Gellner. Anderson bilang nasionalisme itu fiksi (dlm arti fictio): komunitas yg dibayangkan/ diimajinasikan.

Yang ingin saya katakan, seruan Rocky agar fiksi dimaknai sebagai pengaktifan imajinasi menarik secara keilmuan, meski itu bukan hal baru. Masalahnya, Rocky menjadikannya sebagai “senjata” utk menyerang politisi (Jokowi/ Jokower) dan menuduhnya sebagai pembunuh makna kreatif fiksi.

Reduksi makna fiksi yang diidentikkan dengan khayalan terjadi sejak positivisme dominan di akhir abad 19. Tapi bagi Rocky, pembunuh fiksi itu bukan positvisme, tapi politisi, Jokowi, Jokower. Di sini Rocky terjatuh pada fiksi dalam arti fabrikasi: mengada-ada, ngarang.

Inilah menurut saya problem utama pandangan Rocky tentang fiksi sebagai pengaktifan imajinasi, bukan fiksi sebagai khayalan. Hal yang mestinya merupakan discourse ilmiah filosofis dipelintir  Rocky untuk nyerang Jokowi.Yang bermasalah bukan isi discourse-nya, tp penggunaannya untuk tujuan politik.

Klaim Rocky: Kitab Suci Adalah Fiksi

 Rocky bilang, “kalau saya pake definisi fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi. Karena belum selesai, belum tiba itu.” Dalam soal ini, kitab suci menurut Rocky sama dengan Babad Tanah Jawi.

Bagaimana respon kaum yang hobi koar-koar antipenistaan agama tehadap pernyataan Rocky bahwa kitab suci adalah fiksi? Ternyata mereka memaklumi dan bisa mengerti, paling-paling mau minta tabayun ke Rocky.

Cara mereka mendukung Rocky juga macam-macam. Ada yang bilang: oh ga apa2. Fiksi yg dimaksud Rocky adalah “al-ghaib,” dan muslim meyakini ‘al ghaib.”  Ada yg berkilah, kan Rocky bilang “kitab suci”, dan tak secara eksplisit menyebut “Qur’an.” Jadi itu bukan penistaan terhadap Qur’an.

Ada juga yg mengaimini distingsi yang dibuat Rocky antara “fiksi” dan “fiktif”, terus dimaknai sendiri secara mengarang bebas untuk nyinyirin pemerintah. Padahal distingsi tersebut tak dikenal sepanjang sejarah filsafat, karena baru lahir 3 hari lalu, hasil karangan Rocky sendiri.

Tapi lepas dari akrobat pembelaan kubu sebelah terhadap Rocky yang bernada apolojetik tersebut, pernyataan Rocky buat saya bukan penistaan kitab suci, dan konyol kalo dipolisikan. Buat saya, ini bkn soal penistaan kitab suci, tp soal sikap pengecut Rocky dalam mempertahankan aRockyumennya sampe pol.

Sikap pengecut Rocky ini terlihat saat merespon pertanyaan Bang Akbar Faizal tentang apa yang dimaksud Rocky dengan “kitab suci adlh fiksi.” Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Apakah menurut Rocky qur’an adalah fiksi? Kalo mau konsisten secara logika, Rocky harusnya mengiyakan… Tp ia ngeles.

Ngelesnya Rocky ini saya sebut pengecut karen sebagai orang yang selalu membanggakan tingginya mutu keruntutan nalarnya, Rocky tak berani menyatakan implikasi logis dari pernyataannya:

Rocky bilang “kitab suci adalah fiksi.”
Qur’an adalah kitab suci.
Berarti menurut Rocky, Qur’an itu fiksi.

Di sini Rocky yang selalu bangga-banggain logika tiba-tiba jadi takut berlogika, menolak utk menegaskan silogisme sederahana dari pernyataannya sendiri. Harusnya Rocky berani bilang, kalo saya bilang kitab suci itu fiksi, maka qur’an juga termasuk fiksi, dalam arti pengaktifkan imajinasi.

Andai Rocky punya nyali untuk menyatakan implikasi logis dari penyataannya tersebut, Rocky bisa saja bilang bahwa kalo dia menyatakan qur’an itu fiksi, itu artinya qur’an sebagai kitab suci berperan mengaktifkan imajinasi. Tapi taruhlah dimaknai demikian, tetep pernyataan Rocky problematis.

Penyataan bahwa kitab suci adalah fiksi (dalam arti mengaktifkan imajinasi) mengandaikan adanya human agency/ author di belakangnya yg mencipta imajinasi tersebut? Dengan kata lain, pandangan Rocky ini mengasumsikan kitab suci merupakan produk budaya manusia sebagaimana Babad Tanah Jawi.

Dalam kasus Qur’an, Rocky bisa masuk dalam perdebatan teologi skolastik Islam tentang apakah Qur’an itu eternal karena merupakan kalam Ilahi, atau makhluk yg haadits (profan). Mungkin menarik mengaitkan pandangan Mu’tazilah yang bilang Qur’an itu makhluk dengan ide Rocky bahwa kitab suci itu fiksi. Penyataan

Rocky tentang kitab suci adaag fiksi sebenarnya bisa memunculkan perdebatan menarik, di luar forum ILC, tentang filsafat dan teologi kitab suci, termasuk quran. Itu kalo tujuan Rocky murni ilmiah. Tapia apa yang dikemukakan Rocky tentang fiksi di ILC tujuannya ke yang lain: menyerang Jokowi.

Fiksi, Filsafat dan Jokowi

sarung kesayangan jokowi

Ketika Rocky bicara fiksi di ILC, focus utamanya sebenarnya bukan tentang kitab suci. Itu hanya dipakai sebagai ilustrasi saja oleh Rocky. Tatockyetnya sebenarnya menyerang Jokowi, dengan pretense berfilsafat.

Rockyu menyerukan perlunya rehabilitasi makna fiksi sebagai pengaktifan imajinasi, dan membedakan antara fiksi dengan fiktif. Kata Rocky, fiksi itu kreatif (baik), fiktif itu kebohongan (buruk). Distingsi semacam ini jelas tak berdasar sama sekali dari sudut ilmiah.

Seperti penjelasan di awal, fiksi sebagai pengaktifan imajinasi bisa ditemukan rujukannya dalam Bahasa Latin “fictio”. Beda dengan kamus Inggris yang menyempitkannya jadi semata=mata khayalan. Tetapi kata “fictive” juga di Latin akarnya “fictio”. Yang satu nomina, satu adjectiva.

Kalo Rocky ngotot memperlawankan antara “fiksi” dan “fiktif”, itu bukan penjelasan ilmiah, tp mengarang bebas. Boleh-boleh saja sih, tapi kalo atas namanya ilmu, ya lucu. Itu kan sama aja dengan menulis artikel ilmiah tapi dengn footnote yang sepenuhnya pandangannya sendiri. Tanpa referensi lain.

Yang menarik buat saya, kenapa Rocky ngotot dengan distingsi antara fiksi sebagai narasi yang kreatif (positif_ dengan fiktif sebagai narasi kebohongan? Ada beberapa kemungkinan penjelasan yang dapat saya ajukan di sini.
Pertama, dengan merehabilitasi makna fiksi sebagai hal yang positif, Rocky membranding narasi antiJokowi dalam bentuk-bentuk semacam hastag, kaos ganti presiden 2019 sebagai narasi yang mengaktifkan imajinasi yang kreatif. Sebaliknya, narasi kubu Jokowi yang kontra terhadapnya adalah fiktif, narasi kebohongan.

Bahkan menurut Rocky, kubu Jokowi tidak hanya berkubang dalam fiktif, melainkan membunuh fiksi yang mengaktifkan imajinasi dari kubu penentangnya. Jokowi bahkan diledek oleh Rocky sebagai “kaosfobia”, punya ketakutan purba terhadap eneRockyi kreatif yang mendasari kaos ganti presiden 2019.

Bagi saya, cara bernalar Rocky ini “ajaib”: berkutat membahas konsep-konsep secara filosofis(meski suka ngarang sendiri), tapi ujung-ujungnya selalu dipalai untuk menyerang Jokowi. Dan cara melakukannya pun arbitrer (sewenang-wenang), cenderung culas.

Misal, bagi Rocky, narasi apapun yang keluar dari kubu Jokowi langsung dicap negative, sebagai fiktif, fobia terhadap imajinasi kreatif dan lain-lain. Sedang apapun yang keluar dari kubu haters Jokowi diapresiasi dan diberi justifikasi filosofis oleh Rocky. Dasarnya cuma satu: antipasti terhadap Jokowi.

Saya tidak bilang Rocky atau siapapun mesti memuja Jokowi. Antipati terhadap Jokowi sah-sah saja. Yang jadi masalah, pemujaan atau antipasti dijadikan sebagai batu pijakan untuk berfilsafat. Filsafat tak lagi sebagi sarana kritik, tapi sebagai pemoles fanatisme terhadap sesuatu/seseorang, baik antipasti atau pemujaan.

Repotnya, kecenderungan Rocky untuk berfilsafat sebagai pemoleh antipatinya terhadap Jokowi mendapat aplaus dari kaum sumbu pendek, dan Rocky tampaknya oke oke saja, meski tak otomatis Rocky sepaham dengan mereka. Mungkinkah karena saat ini mereka disatukan oleh common enemy.

Apapun alasannya, cara perfilsafat Rocky yang didasari antipati terhadap Jokowi begitu luas di subyo-subyo kaum sumbu pendek. Di Abad Pertangahan, yang terjadi philosophia ancilla theologiae” (filsafat menjadi pelayan teologi). Dalam kasus Rocky, “philosophia ancilla sumbupendekae.”

Saya tak bilang Rocky sumbu pendek. Rocky tetaplah pemikir liberalis, sekuler, feminis, pendukung kebebasan berpikir. Tapi tidakkah ia sadar, bahwa meski saat ini kaum sumbu pendek mengelu-elukannya, kalo mereka menang dan berkuasa, yang akan jadi korbannya ya sosok kek Rocky?

Artikel ini diambil dari kultwit Kiai Akhmad Sahal (@sahal_as)

Kultwit Kiai Sahal:

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 23
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.