Abuya Syaifullah dan Gus Para Pelacur

Mbeling

mmWritten by:

Share
  • 9
    Shares

Namanya Sunarno. Seorang anak petani jagung di desa terpencil di lereng pegunungan Kendeng, Rembang. Memasuki usia remaja, Sunarno merantau ke Jakarta menjadi kuli bangunan dengan gaji harian kurang dari Rp.50 ribu.

Di lingkungan kerjaannya, Sunarno bertemu satu rekan yang menarik perhatiannya. Rekannya itu, di setiap sela-sela istirahan ‘nguli’, selalu saja mengagungkan Habaib (jama’ Habib: keturunan Rasulullah), menceritakan sejarahnya, mengagumi karomah-karomahnya dan ingin menulis serta menceritakan perjuangan para Habaib kepada anak cucu dan masyarakat luas.

Hal yang paling membuat kagum Sunarno adalah keistiqomahan rekannya tersebut yang tak pernah absen mengikuti pengajian para Habaib, meski dalam kondisi tubuh lelah selepas seharian nguli.

“Untaian nasehat Habaib itu laksana air dingin yang membasahi kerongkongan seorang musafir di tengah samudera pasir. Ketegasannya itu bak Sayyidina Umar yang siap menumpas siapapun yang melecehkan agama. Dan, pidatonya selalu berapi-api, membakar semangat jiwa-jiwa yang lelah dan putus asa,” begitulah kalimat yang selalu diulang rekannya. Anehnya, setiap kali kalimat itu diucapkan, Sunarno selalu girang dan senang yang teramat sangat.

Ketertarikan dan rasa penasaran atas Habaib yang diceritakan rekannya itu, akhirnya Sunarno memutuskan untuk mengikuti pengajian. Padahal, semasa di kampung, Sunarno tak pernah sekalipun tertarik dengan ceramah-ceramah Mbah Jakpar, Kiai Desa yang sudah membutuhkan tongkat untuk berjalan.

Semakin intens mengikuti pengajian, Sunarno berniat menemui salah satu habib untuk mengutarakan niatnya menjadi abdi.

Habib Rizki, satu dari sekian banyak habib yang membuatnya jatuh hati. Habib ini, menurut Sunarno, sudah alim, tegas dan tak takut siapapun pula. Habib Rizki juga pimpinan laskar pembela agama. Hal itulah yang membuat ia kagum. Tak pernah sekalipun ia melihat ada muslim yang seberani itu dalam membela agamanya. Di kampungnya ada Barisan Serbaada, tetapi tugasnya paling banter mengamankan pengajian dan ngedum berkat. Tidak seperti laskar pembela agamanya Habib Rizki.

Akhirnya pada suatu petang, tepat di malam yang begitu tenang, rembulan yang bertengger tagak tak sempoyongan, Sunarno memberanikan diri mengunjungi Habib Rizki. Ia menceritakan latar belakang dan maksud-tujuannya sedetail dan sejujur mungkin.

Habib Rizki terkekeh mendengar nama anak petani jagung itu. “Nama kok Sunarno, jelek sekali,” Habib Rizik masih terkekeh, ‘Su’ itu berarti ‘asu’; ‘Nar’ itu berarti ‘neraka’; dan “no” itu dlomir jama’, berarti “kita. Nama ente bermakna ‘anjing neraka kita’. Najis bukan main nama ente itu.” Sunarno hanya bisa menunduk senang menjadi bahan ejekan dan tertawaan seisi rumah Habib Rizki.

“Ente betul pengen jadi muridku?” Suara Habib Rizki meninggi.

“Pengen, Bib!” Sunarno mantap.

“Kalau begitu, sudah ikhlas nama ente, ane ganti? Semua murid ane, laskar ane dan pengikut ane beragama Islam, maka dari nama pun harus mencirikan Islam, baru kemudian pakaian dan seterusnya. Siapkah, Ente?” Suara Habib Rizki semakin meninggi. Setiap akhir kalimatnya, selalu disahut takbir oleh murid dan laskarnya yang kebetulan hadir di majelis itu.

Malam itu, Sunarno melepas nama pemberian sesepuh desanya dan menggunakan nama baru Syaifullah yang berarti pedang Allah. Tentu nama Syaifullah lebih islami dan terdengar baik, ketimbang Sunarno yang selalu diikuti konotasi ndeso, katrok, dan kolot.

Baru seminggu Sunarno mengenakan nama Syaifullah untuk mengenalkan dirinya kepada hadirin, ia merasa ada perubahan yang sangat drastis. Apalagi ia semakin fasih menyebut ‘ana’, ‘ente’, ‘antum’, ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’.

Bermula dari nama yang islami, pakaian islami dan bertutur kearab-araban yang menjadi bahasa Alquran dan akhirat, dan kedekatannya dengan Habib Rizki, Sunarno merasa semakin menjadi muslim yang hakiki. Orang-orang semakin menaruh hormat kepadanya. Anak-anak mencium telapaknya saat berjabat. Ia dihormati. Ia semakin disegani.

Lebih menyenangkannya, banyak akhwat bercadar yang sepertinya melancarkan kode agar Sunarno segera mena’arufi. Maka, yang ada diotak Sunarno alias Syaifullah adalah belajar lebih giat lagi, minimal menghafal hadis-hadis dan ayat-ayat yang umunya dihafal kaum muslimin. Supaya obrolan dengan sesama jama’ah lainnya semakin hangat dan islami.

3 tahun berlalu. Sunarno sudah hidup di rumah sederhana, bersama kedua istri dan kelima anaknya. Di depan namanya sekarang ada tambahan ‘Abuya’. Setiap pengajian ia tak lagi duduk di baris belakang, melainkan berdiri di atas mimbar, tepat di hadapan ribuan jama’aah. Abuya Syaifullah, Sang Murid Habib Rizki yang istiqomah menyiarkan agama dan kebenaran.

********************

Gus Behek adalah salah seorang putra Kiai Kholid yang paling mbeler (liar). Gus Behek, lebih suka berlama-lama di tempat-tempat pelacuran ketimbang pondoknya sendiri. Gus Behek, lebih suka menimba ilmu dari para pelacur, preman pelacuran, lelaki penikmat jasa pelacur dan semua orang yang menggantungkan keuangannya dari pelacuran: tukang baso, tukang cendol, penjual baju, tukang cuci dan sebagainya, ketimbang menimba ilmu dari Abah dan para guru pondok pesantrennya.

Di kalangan pelaku pelacuran, Gus Behek lebih dikenal dengan sebutan Gus Ngehek. Sebuah makian gaul ala Jakarta yang mirip-mirip pisuhan Jawa Timur-an,  jancuk. Disebut Gus Ngehek bukan lantaran Gus Behek kondang dalam medok, mendem dan judi, melainkan kekuatan idealismenya tidak bermain dan memanfaatkan semua aset pelacuran tidak pernah goyah, kecuali hanya untuk memperkaya pengetahuan.

Barangkali Gus Behek tidak akan menonjol, bila ia berkelakuan sama dengan para tamu pelacuran lainnya. Datang, pesan minuman, gandeng perempuan, bersenang-senang, keluar kamar celana kedodoran. Sama halnya ketika ada preman tanpa melepas identitas premannya, baik dohir dan batin, yang bergabung dengan komunitas muslim. Bisa dipastikan preman itu akan mendapat lebih banyak perhatian dan cacian.

Hobi Gus Behek keluar masuk pelacuran telah tersiar ke seluruh telinga penduduknya, bahkan tak jarang menjadi hidangan percakapan utama ibu-ibu saat menghadiri pengajian atau sekadar jagong di teras-teras rumah. Banyak orang yang menyayangkan hobi Gus Behek itu. Seharusnya, sebagai seorang anak kiai besar, Gus Behek lebih suka duduk menghabiskan waktu di depan kitab kuning dan ikut mendidik santri-santri Abahnya, bukan malah ikut menjadi bagian pelacuran.

“Aku ndak percaya kalau Gus Behek itu masih joko ting ting,” kata Mak Sinah, ahlul Ghunem perkotaan paling masyhur, kepada para sami’atnya, “siapa yang tahan melihat wong ayu-ayu dengan pakaian minim plus serba menor itu? Jangankan Gus Behek yang masih bau kencur, wong misal ada kiai besar diungsikan di situ saja belum tentu kuat menahan nafsunya.”

Gus Behek sendiri tidak pernah menanggapi bahkan sakit hati atas ucapan-ucapan para tetangganya. Karena, baginya, urusan akhlak itu tidak terbatas pada apa yang dapat disaksikan mata. Tak terbatas pada pantas dan tidak pantas saja. Lebih dalam dari permukan dlahir itu, akhlak atau kepantasan seseorang juga harus diukur dari seluruh kedalaman bathin.

Terlepas dari apapun kesimpulan nyeleneh Gus Behek mengenai hukum-hukum atas perkara tertentu, ada satu hal yang sering terbenam dalam otak dan sanubari penghuni pesantren Abahnya. Persoalan siasat apa yang digunakan Gus Behek untuk bisa diterima warga pelacuran-pelacuran, bahkan bisa gayeng hahihi seperti tiada batas-batas tertentu, tanpa Gus Behek harus ikut nenggak korak dan pesan wanita.

Pada suatu kesempataan, Gus Behek terlibat oborolan serius dengan Kang Umar, khodim ndalem Abahnya. Sebagai orang yang paling dekat dengan pusat pemerintahan pesantren, Kang Umar biasa dijadikan penyambung lidah para santri untuk menggali informasi. Sikap selow dan dicintai keluarga ndalem membuat Kang Umar tak begitu susah dan sungkan untuk bertanya ini atau itu kepada orang-orang ndalem, apalagi kepada Gus Behek yang juga selow dan ngenomi.

“Gus, saya pengen nanya, Gus,” kata Kang Umar.

“Nanya apa, Kang?” Meski lahir di Jakarta, Gus Behek akrab dengan budaya-budaya Jawa. Hal ini tak lain karena Kiai Kholid adalah orang orang Jawa yang masih memagang adat budaya, terlebih Gus Behek juga pernah nyantri berpuluh-puluh tahun di Jawa Timur.

“Nganu, Gus. Amalan dan strategi Gus Behek apa?” Tiba-tiba Kang Umar merasa tak enak untuk bertanya secara terang-terangan.

“Maksudnya bagaimana, Kang?”

“hehehe…” Kang Umar menimpali.

“Kayaknya Kang Umar perlu kopi. Sini duduk samping saya, Kang, ini ada rokok dan gorengan masih hangat. Ngerokok-ngerokok dulu, biar santai,” Gus Behek mendekatkan rokok dan gorengan ke depan Kang Umar.

“Gini lho, Gus,” sambung Kang Umar sembari masih mengunyah gorengan, “saya menyampaikan rasa penasaran santri-santri, tentang amalan dan strategi apa yang Gus Behek pakai supaya bisa diterima dimanapun tempatnya?”

“Sampean ini aneh-aneh saja. Amalan saya itu cuma satu: jangan pengen dihormati. Posisikan diri kita selalu sama dengan lawan komunikasi. Terkadang, kita merasa lebih tinggi, lebih benar dan lebih suci saat berkumpul, atau bahkan hanya bertemu, dengan para pelacur, pemabuk dan penjudi. Jika frekuensinya tak sama, apalagi sampai frekuensinya bertolak. Saling berbenturan. Tak menyatu. Bisa dipastikan, pilihannya cuma aku atau kamu yang mental.”

“Yang dimaksud menyamakan posisi diri dan menyamakan frekuensi dengan lawan komunikasi kita itu bagaimana, Gus? Apa kalau lawan komunikasi dalam suatu kelompok itu suka mabuk-mabukan, apakah kita juga harus ikut mabuk terlebih dahulu?”

“Ya tidaklah, Kang. Bila kita menganggap pemabuk itu berdosa, maka kita pun harus sadar bahwa dalam diri kita juga punya dosa yang seimbang dalam bentuk melakukan kesalahan yang berbeda. Misalnya, kita memang bersih dari alkhol, jangankan minum, melihat botolnya saja tak pernah. Tetapi kita menggunjing, mencuri hak-hak orang lain, merasa lebih baik, sombong, yang menurut saya juga dosanya lebih besar ketimbang minum-minuman keras.”

“Sederhanya, Kang Umar, mereka yang dalam lingkungan masyarakat dianggap sebagai pendosa adalah cermin saya untuk berkaca. Mereka adalah mikroskop untuk melihat dosa-dosa terkecil saya yang tak terlihat, bahkan ‘ada’ dan ‘punya’nya pun tak saya sadari. Dan lebih menyenangkannya…….”

Gus Behek menghentikan ucapannya. Ia merengkuh rokok Djarum Super yang sedari tadi tergeletak di atas meja, menyulutnya, kemudian menghempaskan asapnya ke udara. Sementara itu, Kang Umar ngeweh terbawa penuturan Gus Behek.

“Yang lebih menyenangkannya, di balik baju ketat yang perempuan-perempuan itu kenakan, ia memiliki hati yang begitu longgar dalam memandang pelik kehidupan. Di balik bilik-bilik sempit dan kumuh tempat tinggal mereka,  ternyata mereka memiliki kelapangan jiwa yang amat sangat lapang. Di balik kegusaran lelaki penikmat mereka dan hujatan para tetangga, ternyata mereka memiliki mekanisme kesabaran, –yang kita— sedari kecil belajar sabar saja belum tentu bisa mengamalkan sabarnya mereka. Bertahun-tahun saya belajar kitab-kitab tasawuh, ternyata mereka sudah mengamalkan terlebih dahulu.”

Ada sedikit notasi-notasi yang begitu menyiratkan keseriusan diucapkan Gus Behek dari kedalaman raga.

“Tapi Gus Behek apa tidak khawatir kalau dijerumuskan dan mencoreng nama besar Abah Khalid?”

Gus Behek tertawa sedikit kencang. Kang Umar malah bingung dibuatnya.

“Saya sudah terjerumus, Kang. Terjerumus pada konsepsi-konsepsi keikhlasan mereka menjalani kehidupan dan menghamba kepada Gusti Allah, meski cara saya dalam mempraktekkan konsep tersebut tidak sama dengan cara mereka. Kemudian mencoreng nama Abah?” Kali ini jidat Gus Behek sedikit berkerut.

“Saya ini bagaikan sebiji garam yang dibuat dari asinnya lautan. Lautan itulah Abah. Serusak apapun sebiji garam, tentu tidak akan memengaruhi asin, dalam dan luasnya lautan. Toh saya ini cuma anak Abah, Kang. Dihadapan Tuhan, bukan Abah yang mempertanggungjawabkan kesalahan saya. Kita kadang-kadang lebih takut mendapat cap buruk dari manusia, ketimbang dari Yang Maha Kuasa. Makanya, seringkali yang dibicarakan hanya pantas dan tidak pantas. Benar dan salah.”

Obrolan pun terhenti karena Kiai Khalid memanggil Kang Umar. Gus Behek sendiri kembali menikmati kopi dan rokoknya, sambil mencatat jadwal imam tahlil di acara mingguan pelacuran, tentu jama’aahnya para preman dan permpuan yang dianggap jalang. Seminggu sekali mereka tahlilan, mengingat Tuhan, meski setelahnya tenggelam pada dunia kesenangan masing-masing.

*********

Kiai Kholid pagi-pagi sekali kedatangan tamu berjubah putih. Ia sempat tertegun sejenak untuk mengingat siapa pemilik wajah tak asing di matanya itu. Beberapa saat kemudian ia menyadari, bahwa tamunya itu adalah Sunarno.

“Apa kabarmu, No?” sapa Kiai Khalid setelah mempersilakan duduk Sunarno.

“Maaf, Pak Kiai, nama saya sekarang Syaifullah, pedangnya Allah. Tidak lagi Sunarno, Pak Kiai,” sergah Sunarno.

“Wah kamu ini memang nurun bapakmu sekali. Suka melawak,” ujar Kiai Khalid kemudian diiringi senyum sumringah.

“Saya tidak melawak, Pak Kiai. Dan tolong jangan samakan saya dengan Bapak.”

Kiai Khalid sudah merasakan keganjilan dari tamunya sejak tadi. Kiai Khalid sendiri adalah teman main Bapak Sunarno sewaktu kecil, sewaktu Kiai Khalid diemong dan dididik oleh simbahnya di daerah Pegunungan Kendeng.  Saat Sunarno merantau ke Ibu Kota, kedua orang tuanya sengaja menyuruh untuk terlebih dahulu menghubungi Kiai Kholid di sana. Dari situlah, hubungan Kiai Khalid dan Sunarno terjalin.

“Pak Kiai itu siapa?” tanya Sunarno sambil menunjuk lelaki yang sedang duduk sambil memangku kitab kuning di teras rumah. Sepintas, wajah lelaki itu tak asing bagi Sunarno. Seperti baru semalam bertemu.

Kiai Kholid pun segera menengok ke belakang. “Owalah. Itu kan Behek, No, ehSyaifullah.”

“Behek putra Pak Kiai, maksudnya?”

“Iya…” jawab Kiai Khalid. “Behek, sini, Le!”

“Iya, Bah…”

Sesampainya Gus Behek di depan Abahnya, tiba-tiba ia tertegun melihat tamu yang sepertinya ia kenal.

“Astaghfirullahaladzim,” teriak Sunarno. Kiai Khalid heran dengan sikap Sunarno.

“Masih ingat sama Behek, Syaifullah?”

“Ingat, Pak Kiai. Anak ente ini yang semalam menghadang saya dan laskar memberantas kemaksiatan. Anak ente ini yang semalam menghadang saya dan laskar beramar ma’ruf dan nahi munkar.” Teriak Sunarno berapi-api.

Sentak hal itu semakin membuat bingung Kiai Khalid. Gus Behek masih saja diam, seperti tak ingin menanggapi kemarahan Sunarno. Mendengar teriakan yang sangat kencang tersebut, santri-santri berhampuran ke teras kamar masing-masing, ingin tau apa yang sedang terjadi.

“Ono opo, Hek?” Kiai Khalid berbisik ke telinga Gus Behek. Gus Behek tetap diam.

“Pak Kiai, Ente bisa mendidik ribuan santri, tapi Ente gagal mendidik anak sendiri. Ente ajari apa anak ini, sehingga berani menghalang-halangi kebaikan, melindungi para preman dan pelacur bayaran?” Wajah Sunarno semakin memerah. “Ane pamit undur diri. Asslamualaikum!” Sunarno berlalu begitu saja.

Selang sejam kemudian, datang lagi tamu. Kali ini aki-aki dan nini-nini. Mereka satu sak jagung, pisang setandan dan seplastik beras. Dari kejauhan Kiai Khalid sudah bisa menebak, tamunya ini adalah Sutomo dan Lestari, teman kecilnya sewaktu di Pegunungan Kendenga, yang tak lain adalah orang tuanya Sunarno.

Mereka saling berpeluk erat. Melepas dahaga rindu yang bertahun-tahun tertahan.

“Aku ke Jakarta mencari Sunarno, Pak Kiai Kholid. Setelah ia pulang mengenakan jubah, bertengkar dengan pemuda yang sedang berjudi dan marah karena kunasehati, beberapa tahun lalu, ia tak pernah sekalipun pulang dan memberi kabar. Setiap kutelfon, tak pernah diangkat.” Sutomo menangis sesenggukan di pelukan sahabatnya.

Sambil mengelus pundak sahabatnya yang kering keronta itu, Kiai Kholid berujar lirih, “Sunarno  sudah tiada….”

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 9
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung