Syaikh Yasin Padang, Murid 700 Guru

Syaikh Yasin Padang, Murid 700 Guru

Share
  • 18
    Shares

Syaikh Yasin mempunyai nama lengkap ‘Alam al-Din Abu Fayd Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa bin Udik al-Fadani al-Makki al-Syafi’i. Gelar al-Fadani merupakan nisbah dari daerah Padang Indonesia karena Syaikh Yasin merupakan keturunan dari Padang, Sumatera Barat, Indonesia, gelar al-Makki merupakan nisbah dari tempat kelahirannya yaitu kota Mekkah Arab Saudi, dan al-Syafi’i merupakan gelar untuk penganut Mazhab Imam Syafi’i.

Ayahnya bernama Isa dan kakeknya bernama Udik, sedangkan anaknya bernama Muhammad dan Fayd. Oleh karenya Syaikh Yasin mempunyai julukan Abu Fayd (ayahnya Fayd).

Syaikh Yasin dilahirkan di kota Hayyi Misfalah, Mekkah al-Mukarramah pada hari selasa tanggal 27 Sya’ban, tahun 1337 H/1917 M. kelahirannya membuat  kebahagiaan tumbuh dalam diri kedua orangtuanya. Keduanya berharap kelak anaknya akan menjadi Ulama besar yang akan meneruskan panji-panji yang dikibarkan Nabi Muhammad Saw.

Pada masa anak-anak Syaikh Yasin diasuh dan dididik secara langsung oleh ayahnya, Syaikh Isa al-Fadani dan ibunya Nyai Maimunah binti Abdullah al-Fadani. Ia mendapatkan ilmu dasar-dasr agama Islam langsung dari ayahnya, seperti ilmu membaca al-Qur’an, Tauhid, Fiqih, Gramatika Arab, dan lain-lain. Ia juga mendapatkan ilmu membaca dan memahami al-Qur’an dari ibunya yang notabennya adalah seorang yang hafal al-Qur’an. Atas bimbingan ibunya kurang lebih berumur 8 tahun Syaikh Yasin mampu menghafal al-Qur’an dengna baik dan benar.

Menginjak usia 12 tahun (1927 M), Syaikh Yasin diperintah ayahnya untuk mencari ilmu di madrasah Shaulathiyyah selama 6 tahun. Masyayikh Shaulathiyyah merasa kagum dengan kelebihan yang dimiliki Syaikh Yasin. Karakter akhlak yang  mulia dan kecerdasan yang dibarengi dengan wira’i membuat keilmuan yang dipelajari di Shaulathiyyah semakin ‘alim.

Di madrasah tersebut Syaikh Yasin dididik oleh para masyayikh, diantaranya Sayyid Muhsin al-Musawwa, Syaikh Mukhtar Utsman Makhdum, Syaikh Abdullah muhammad Niar, dan Syaikh Muhammad Hasan al-Masysyath.

Selama 6 tahun Syaikh Yasin merasa nyaman belajar di Shaulathiyyah, namun pada suatu hari kenyamanan tersebut terganggu karena terdapat konflik antara pelajar al-Jawi dengan Syaikh Shaulathiyyah. Konflik tersebut bermula dari Syaikh Shaulthiyyah yang memaki-maki bangsa Jawi dengan perkataan “bangsa jawi ialah bangsa yang rendah budi pekertinya”.

Karena merasa direndahkan hargadirinya, Ulama Nusantara mendirikan madrasah Dar al-Ulum pada tanggal 16 Syawal 1353 H/22 Januari, 1935 M. Madrasah ini dipimpin oleh Syaikh Muhsin ibnu Ali Musawa. Kejadian tersebut tidak membuat spontan Syaikh Yasin pindah madrasah. Namun menunggu beberapa saat hingga tamat pada tahun 1353 H/1935 M. bersamaan dengan deklarasi Dar al-Ulum sebagai lembaga pendidikan formal klasik di Hijaz, Syaikh Yasin bergabung di dalam madrasah tersebut untuk melanjutkan pendidikannya.

Selama di Madrasah Dar al-Ulum Syaikh Yasin belajar kepada Sayyid Muhsin al-Musawwa, Syaikh Ibrahim Dawud al-Fathani, Syaikh Muhammad ali al-Makki, Syaikh Zubair ibn Ahmadal-Filfulani, Syaikh Abdul Muhaimin al-Lasemi, Syaikh Husain ibn Abdul Ghani al-Falimbani, Syaikh Ahmad al-Qishthi, dan lain-lain.

Ketika Syaikh Yasin dinyatakan lulus tingkat Aliah pada tahun 1356 H/1937 M, beliau langsung ditunjuk untuk mengajar di madrasah Dar al-Ullum. Pada tahun 1359 H/1940 M. Syaikh Yasin diangkat sebagai wakil Munzir Madrasah. Pada tahun 1375 H/1956 M, jabatan yang Syaikh Yasin peroleh sebagai Munzir madrasah adalah atas kesepakatan masyayikh madrasah Dar al-Ulum.

Selain mengajar di ad-Dar al-Ulum, Syaikh Yasin juga mengajar Ilmu Al-Hadis, Fiqih, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Falak dan lain sebagainya di Masjid al-Haram, tepatnya diantara pintu Ibrahim dan pintu Wada’. Banyaknya santri yang minat belajar bersama Syaikh Yasin, sehingga Syaikh Yasin membuka pelajaran tambahan di kediamannya.

Selain aktif mengajar di madrasah, Masjid al-Haram dan di kediamannya, beliau juga mempunyai kebiasaan setiap tahun pada bulan Ramadan menghatamkan Kutub alSittah. Kajian ini berjalan sampai 15 tahun lamanya. (Muqrabi, 2015: 37).

Meskipun sudah menjadi guru, Syaikh Yasin  masih tetap menuntut ilmu di pendidikan non formal dengan fokus pada spesialis keilmuan tertentu.  dalam belajarnya tersebut Syaikh Yasin banyak berguru kepada Ulama Timur Tengah. Syaikh Yasin belajar ilmu al-Hadis dan Sanad kepada, Syaikh Umar Hamdan al-Mahrusi, Syaikh Muhammad Ali Husain al-Maliki, Syaikh ‘Umar Bajunaid, Mufti Syafi’iyyah makkah, Syaikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani, dan Syaikh Hasan al-Yamani.Dalam disiplin ilmu Usul al-Fiqih, gramatika Arab, Qawaid al-fiqiyyah, Syaik Yasin belajar kepada Syaikh Muhsin ibn ‘Ali al-Falimbani al-Maliki dan Sayyid ‘Alwi bin ‘Abas al-maliki al-Makki. Dalam disiplin Ilmu Falak dan Miqat kepada Syaikh khalifah an-Nabhani.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikh Yasin ketika menunaikan ibadah Haji pada Tahun 1371 H/1951 M kepada kiai Zubair Dahlan bahwa beliau mempunyai kurang lebih 500 sanad keilmuan (guru) yang terkemuka.

Pendapat lain mengatakan bahwa Syaikh Yasin mempunyai guru mecapai 700 lebih laki-laki maupun perempuan, baik mengaji secara langsung, surat, atau dengan melalui orang terhormat agar mendapatkan ijazah dari orang alim tertentu.

Setelah menjelajahi ilmu pengetahuan dari ratusan guru,  menghasilkan banyak karya dan mencetak kader-kader pejuang agama di dunia dan Nusantara, pada pukul 03.00 hari jum’at, 28, Zulhijjah, 1410H/23 Juli, 1990 di kampung ‘Utaibiyyah Allah telah memanggil Syaikh Yasin selama-lamanya. Jenazahnya dishalati setelah usai shalat Jum’at dan di kebumikan di pemakaman Ma’la Makkah.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 18
    Shares

29 thoughts on “Syaikh Yasin Padang, Murid 700 Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published.