Khasiat Kidung Mantrawedha dan Sukmawati yang Terlalu Banyak Memberikan Micin dalam Puisinya

Menyarung

mmWritten by:

Share
  • 79
    Shares

Bak makanan yang terlalu banyak diberi micin, bukannya menambah gurih dan lezat saat disantap, puisi Sukmawati justru menyebabkan orang darah tinggi. Kalau memang puisi tersebut dibuat untuk memberikan apresiasi bagi perempuan-perempuan Indonesia, atau dimaksudkan untuk merefleksikan keprihatinan terhadap sikap keberagaman masyarakat, atau justru hanya sekedar mengekspresikan kesenian dan kebudayaan, Sukmawati seharusnya tidak perlu menambahkan ornamen-ornamen agama yang memang dia sendiri tidak mengetahui betul nilai falsafinya.

Saya tidak habis pikir, sebagai orang yang melek politik, seharusnya Sukmawati paham dengan kondisi perpolitikan Bangsa yang sedang memanas. Akan tetapi, di luar dugaan, Sukmawati seolah tidak mengetahui apa-apa, dia justru penuh percaya diri maju ke muka, tampil di even besar sebagai penyulut api, atau memang seperti itu sikap politiknya, atau entah bagaimana. Mungkin biar dibilang hebat dan peduli dengan local wisdom sepertinya, atau mungkin Sukmawati ini biar dikata seorang budayawan atau seniman yang peduli dengan sikap keberagamaan masyarakat yang kian ekstrem. Kalau memang niatannya seperti itu, duh Mbakyu, apes benar nasib Jenengan.

Munculnya kontroversi sebenarnya lebih dikarenakan Mbakyu ini “latah” menggunakan elemen agama dalam bait puisinya, biar dibilang keren mungkin. Padahal kalau Mbakyu tau, sebenarnya agama itu seperti micin. Dan malangnya, Mbakyu ini memasukkan micin tanpa pengetahuan dan takaran yang sewajarnya. Bukannya jadi gurih saat dinikmati, hasilnya malah bikin penyakit.

Dikatakan sebagai micin, karena agama sekarang ini kerap dijadikan penyedap dalam beberapa momen, contohnya; ingin menang nyaleg, nyagub, nyapres, bawa agama, ingin biro travel dan umrohnya laris, bawa agama, dan yang terbaru, berkesenian dan berekspresi-pun nampaknya terasa tidak afdhol, kalau tidak bawa-bawa agama. Kita jadi sok-sokan latah dan selalu saja sibuk berorientasi pada sekat-sekat agama yang telah diberi micin, misal ; kita toleran, mereka radikal. Kita aswaja, mereka wahabi. Kita terbuka, mereka tertutup, dan lain sebagainya.

Menyoal kontroversi puisi Mbakyu, saya jadi teringat Kang Basuki yang terjerembab dalam kasus penodaan agama. Saat peristiwa tersebut terjadi, orang-orang banyak mengkaji kasus ini dalam beberapa tinjauan, mulai dari segi tafsirnya, linguistiknya, psikologi dan lain sebagainya. Namun sayang, puisi Mbakyu yang menimbulkan kontroversi ini, jarang sekali dikaji lebih dalam dari segi positifnya seperti kasus Kang Basuki, malah lebih banyak nilai kontroversinya.

Walaupun terlalu banyak micin, sebenarnya puisi milik Mbakyu tidak terlalu buruk. Banyak pemakaian kata yang memiliki nilai-nilai positif dan sangat menarik untuk dikupas, salah satunya adalah pemakaian kata “Kidung”. Kalau ditelisik lebih dalam, kidung bukan sebatas lantunan tembang yang elok seperti kata Mbakyu. Lebih dari itu, kidung adalah tembang yang sarat akan makna, tidak hanya dilantunkan untuk hiburan, tapi digunakan pula sebagai mantra, pengusir makhluk halus, dan media dalam menyebarkan dakwah seperti halnya Adzan. Saya tidak yakin, Mbakyu dapat menangkap makna lebih dari kata kidung, kalaupun tahu, paling sebatas kidung yang dilantunkan sebagai hiburan.

Daripada mengupas sisi negatif puisi Mbakyu, alangkah lebih baik kalau kita mengupas sisi positifnya.  Seperti yang telah disampaikan, kidung bukan hanya tembang yang digunakan untuk menghibur masyarakat, tapi juga digunakan sebagai mantra, pengusir makhluk halus, dan media dakwah, salah satunya Kidung Mantrawedha milik Sunan Kalijaga.

Kidung Mantrawedha memiliki 10 pupuh dhandhang gula (jumlah suku kata dan rima yang membahas tentang ketentraman, keagungan, dan kegembiraan) pada tiap barisnya. Bait yang menjadi inti Kidung Mantrawedha adalah bait 1-5 yang berisi doa dan permohonan atas keselamatan. Bagi Anda yang menginginkan kesaktian, dibacok tidak mempan, sekaligus menggaet pujaan hati, baca saja Kidung Mantrawedha ini, terutama bait 1-5. Jika Anda mencari dan menemukan Kidung ini, bacalah bait 6-10, disana akan terterta penjelasan dan beragam khasiatnya.

Mbakyu nampaknya juga perlu membaca Kidung Mantrawedha ini selama proses penyidikan agar selamat dan diberikan kelancaran.

Kalau ingin lebih manjur, usahakan Mbakyu menemukan silsilah ilmiah yang sampai ke Sunan Kalijaga, dan tentunya dibarengi niat lillahi ta’ala. Dalam mengamalkan Kidung Mantrawedha, sebelum membaca sangat dianjurkan mengawali dengan bacaan basmalah serta syahadat sebagai kunci. Dalam bait 6-10 dijelaskan kalau khasiat Kidung Mantradhewa ini, selain untuk mengusir penyakit, makhluk halus, dan kekebalan, dapat digunakan pula untuk mencari pasangan hidup, juga amalan untuk melunasi hutang serta ajian agar tidak gagal panen.

Di balik kontroversi dan tekanan, serta penggunaan micin dalam puisi dengan takaran yang berlebih, Mbakyu juga berjasa membawa kita masuk ke dalam dimensi metafisik, yang sebelumnya jarang dibuka atau dijadikan pembahasan.

Kita dipaksa mencari makna “kidung”, meskipun hanya menemukan dalam arti yang sempit, yang ternyata di dalamnya terdapat doa-doa serta azimat yang banyak dipelajari oleh orang-orang dahulu. Untuk urusan percaya atau tidak, itu kembali pada diri masing-masing.

Kidung Mantrawedha ini milik Sunan Kalijaga yang tidak perlu lagi saya jelaskan latar belakangnya. Silahkan Mbakyu cari pada orang-orang tua terdahulu agar lebih shohih, baik dalam disiplin ilmiahnya sampai tata cara amaliyah-nya. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menggiring pembaca agar berlaku syirik atau menjadi seorang yang hanya pasrah dengan azimat atau amalan.

Saya curiga, jangan-jangan Mbakyu ini perlu belajar menakar micin di tengah banyaknya masyarakat yang gampang mendidih ini.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 79
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung