KH. Maimun Zubair, Matahari dari Sarang Rembang

KH. Maimun Zubair, Matahari dari Sarang Rembang

Share
  • 32
    Shares

Sosok sinaran hati bagi kalangan santri, bak matahari yang menyinari bumi. Beliau Pribadi yang alim, santun, serta rendah hati ini lahir pada Kamis, 28 Oktober 1928. Adalah KH. Maimun Zubair, putra pertama dari Kiai Zubair. Ibundanya merupakan keturunan dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik dengan keteguhan pendirian. KH. Maimun Zubair berteman karib dengan KH. Sahal Mahfudz (Kajen) yang sama-sama nyantri di Jawa dan rihlatul ilmiyyah ke tanah Hijaz.

Ulama yang akrab disapa Mbah Mun ini lahir dari kompleksitas permata dan intan. Beliau meneladani ketegasan dan keteguhan dari ayahnya. Sedangkan dari kakeknya beliau meneladani kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang dan rendah hati seringkali memudarkan sikap ketegasan, namun dalam pribadi insan mulia ini semuanya tersinergi secara sempurna.

Maimun Zubair dikenal sebagai sosok yang alim, faqih, dan mukharrik (penggerak). Ketangkasannya dalam bidang keilmuwan fiqih dan ushul fiqih seringkali menjadikannya sebagai rujukan para ulama Indonesia. Keseharian beliau menyiratkan sikap keilmuannya yang agung dan rendah hati. Sang kiai dengan kearifan budi, kesederhanaan, dan sifatnya yang merakyat ini acapkali dijadikan sebagai peraduan keluh kesah masyarakat setempat. Dalam dawuhnya tentang ibadah dan muamalah, beliau selalu menyiratkan optimisme kepada insan yang sedang dihantam musibah bertubi-tubi. Tak heran jika banyak orang yang selalu menunggu dawuh-dawuhnya, karena pituturnya terasa menyejukkan suasana ketika terjadi masalah .

Kematangan ilmu beliau sudah tidak diragukan lagi. Hal ini tentu saja tidak didapat secara spontan dan kebetulan. Sejak balita kehidupannya sudah sarat akan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak usia remaja, Mbah Mun belajar menghafal dan memahami ilmu-ilmu shorof, nahwu, fiqih, mantiq, dan balaghoh pada ayahnya yang merupakan murid teladan dari dua ulama masyhur pada masa itu, yaitu Syaikh Sa’id Al-Yamani dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al Makky.

Pemikirannya yang cerdas dan cemerlang ini senantiasa menghiasi langkahnya. Pada usia muda berkisar 17 tahun, KH. Maimun Zubair sudah mampu menghafal kitab-kitab nadzom Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah Fil Faroidl. Kitab-kitab Asy-Syafi’i seperti Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahab pun telah dihafalnya sebagai perluasannya dalam mengarungi samudra ilmu agama.

Pada tahun kemerdekaan (1945) beliau menimba ilmu di Pondok Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Selama kisaran waktu lima tahun beliau “ngalap barokah” di Pondok Lirboyo yang merupakan binaan dari KH. Abdul Karim yang biasa dijuluki Mbah Manaf, KH. Mahrus Ali, dan KH. Marzuqi Dahlan.

Menginjak usianya ke 21 tahun, KH. Maimun Zubair menuruti panggilan jiwanya untuk melanjutkan rihlatul ilmiyyahnya ke Tanah Hijaz, Timur Tengah, yakni Makkah Mukarromah didampingi oleh kakeknya KH. Ahmad bin Syu’aib. Di Makkah beliau menimba ilmu pada banyak mata air, yakni ulama tersohor yang ahli pada bidangnya, diantaranya Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Al-Amin Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani, Syaikh Abdul Qadir Al-Mandaly, dan banyak ulama lainnya.

Setelah melewati masa dua tahun tholabul ilmi di Makkah Mukarromah beliau kembali ke tanah air untuk melanjutkan rutinitas ngajinya dengan menimba samudra ilmu dari ulama besar tanah air seperti KH. Baidhowi (mertua beliau) dan KH. Ma’shum yang keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum (Krapyak, Yogyakarta), KH. Bisri Musthofa (Ayahanda KH. Musthofa Bisri, Rembang), KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Muslih Mranggen (Demak), KH. Abbas (Buntet, Cirebon), Syaikh Ikhsan (Jampes, Kediri), KH. Abul Fadhul (Senori, Tuban).

Hari bersejarah dalam hidup KH. Maimun Zubair, keistiqomahan khidmatnya dalam pengabdian mendorong ketulusan hati beliau untuk mendirikan Pondok Pesantren Al Anwar yang berdiri kokoh disisi kediaman beliau, Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah pada tahun 1965. Pesantren ini menjadi rujukan para santri dalam mendalami kitab kuning dan turats secara kompleks dan komprehensif. Diantara kitab karangan beliau yang menjadi rujukan para santri yakni kitab Al Ulama Al Mujaddidun.

Bersama Gus Mus mengayomi umat.

Selain mengajar dan berdakwah, beliau masih sempat mengkhidmatkan dirinya sebagai mushonnef kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab taqrirat karanganya antara lain Jawharut Tauhid, Ba’dul ‘Amali, dan Alfiyah. Sedangkan kitab syarahnya yakni Syarah ‘Imriti. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren Al-Anwar.

Kiprah KH. Maimun Zubair dalam bidang penggerak (mukharrik) dibuktikan dengan pengalaman kongkrit beliau yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Rembang selama tujuh tahun. Selain itu beliau juga pernah menjabat sebagai anggota MPR RI utusan Jawa Tengah. Atas apresiasi kiprahnya yang luar biasa beliau pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kontribusinya pada bidang politik bukan hanya berdasar pada kepentingan sesaat, namun benar-benar didedikasikan untuk keadilan rakyat dan bangsa Indonesia. Kearifan sifat, kesederhanaan, keteguhan, dan ketegasan, keilmuan yang tinngi inilah yang menjadikan KH. Maimun Zubair selalu disegani. Tidak hanya dikalangan pesantren, namun di kalangan masyarakat, pemerintahan, dan birokrat pun beliau sangat disegani.

Keharuman nama beliau sudah tidak berbatas ruang dan waktu. Hal ini di integrasikan dengan santri didikan beliau yang sudah “jadi orang” berkat “ngalap barokah” di pesantren beliau. Samudra ilmu KH. Maimun Zubair tidak hanya mengalir dalam jiwa beliau saja, tetapi juga mengalir dalam jiwa santri-santri beliau yang takdzim dan senantiasa berusaha sungguh-sungguh. Diantara para santrinya yakni KH. Habib Abdullah Zaki bin Syaikh Al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Azim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamizah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas).

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 32
    Shares

1 thought on “KH. Maimun Zubair, Matahari dari Sarang Rembang

Leave a Reply

Your email address will not be published.