Andaikan Fadli Zon Pernah Mondok

Andaikan Fadli Zon Pernah Mondok

Share
  • 33
    Shares

Hampir semua kegaduhan di negara kita disebabkan oleh beberapa gelintir orang dan kelompok saja, salah satunya Fadli Zonk, eh Zon.

Sebagai orang besar (pejabat), Fadli Zon kerap mengucapkan kata-kata yang memancing kegaduhan. Tidak hanya itu, pikiran-pikirannya yang brilian terkadang juga memantik para akdemisi mengernyitkan dahi dan mengujinya dengan berbagai teroti ilmiah. Silahkan telusuri sendiri riwayat kegaduhan yang dibuatnya di dunia maya, ketika sampean semua ketik keyword Fadli Zon di mesin pencarian, yang banyak keluar ya soal kuatnya branding dia sebagai oposisi pemerintah dan ucapan-ucapannya yang badai cetar membahana.

Fadli Zon sah jika kita sebut sebagai kaum oposan, pasalnya belio selalu tak pernah sependapat dengan kebijakan-kebijakan yang dilontarkan oleh lawan politknya, meskipun kebijakan itu baik dan menguntungkan masyarakat. Dan sebaliknya, belio membela mati-matian apapun yang berseberangan dengan pemerintah, meskipun hal tersebut belum tentu baik bagi masyarakat luas.

Coba saja kita tilik pada kasus pidato “Indonesia Bubar pada 2030” yang disampaikan oleh Romo Prabowo beberapa hari lalu. Pidato yang katanya disandarkan pada penelitian para pakar, ternyata hanya merujuk dari sebuah tulisan fiksi itu membuat masyarakat yang optimis Indonesia menjadi lebih baik marah, bahkan Pak Jokowi yang kalem nan santun itu marah besar.

Tapi apa kata Bung Besar Fadli Zon soal itu? Belio malah bersilat lidah untuk membelokkan persepsi masyarakat soal ucapan ndoronya tersebut dengan dhawuh seperti ini, “Jadi begini itu namanya warning ya. Kita itu ingin Indonesia lebih dari 1.000 tahun, 2.000 tahun selamanya sampai kiamat ya. Tapi kalau cara memimpin indonesia sama seperti sekarang ya bisa kacau.”

Bahwa ucapan yang semula diniatkan untuk bilang ke publik Indonesia akan hancur pada 2030, makanya pilih presiden dari militer supaya Indonesia ga jadi hancur, digeser menjadi kalimat yang agak mengelabuhi publik dengan ucapan halus seperti di atas tadi.

Tak berhenti sampai di situ. Selain sebagai oposan istiqomah dan melawan kebijakan pemerintahan Jokowi, Bung Besar Fadli Zon ternyata orang yang benar-benar setia terhadap Prabowo. Jangan bandingkan kesetiaan Bung Besar tersebut dengan kesetiaan santri yang suka mengkhianati kiai dengan tidur saat mengaji. Tentu saja tidak sebanding!

Bayangkan saja, sekelas Kiai Ma’ruf Amin yang alim dan memiliki kedalaman di berbagai lini keilmuan saja kena semprot hanya karena Kiai Amin meminta prabowo menjaga lisan untuk tidak menuduh orang tanpa data akurat saat pidato. Bung Besar Fadli Zon malah mengejek Kiai Ma’ruf Amin tidak memahami dunia politik.

Ucapan ngawur Fadli Zon tersbut barangkali dapat dimaklumi lantaran beliau orang sibuk sehingga tak punya waktu lagi untuk membaca perjalanan hidup Kiai Ma’ruf Amin. Bagaimana perjalanan dan kematangan Kiai Ma’ruf di kancah perpolitikan Indonesia. Harusnya Fadli Zon sadar, bahwa Kiai Ma’ruf Amin besar di pondok pesantren, dan di pondok pesantren juga mengkaji berbagai literatur kitab. Jangan soal politik yang menyangkut hajat orang banyak, wong persoalan detil seperti ngencuk aja dikaji!

Andaikan Fadli Zon pernah mondok, belio pasti paham kenapa Kiai Ma’ruf Amin menghimbau Pak Prabowo agar menjaga lisannya dari menuduh orang tanpa fakta yang jelas. Karena di pesantren tidak pernah diajarkan menduduh orang sembarang tanpa data dan fakta yang akurat. Atau barangkali Fadli Zon menganggap, soal politik adalah persoalan mustasnayat dari hukum norma dan agama, meskipun dalam beberapa kondisi kelompok Fadli Zon mencampuradukkan antara keduanya. (Kalau Fadli Zon tertarik belajar, nanti biar diajarin Editor Ganteng Nyarung, Kiai Irul Radliayallahu anhu)

Baiklah, kalaupun Fadli Zon tidak paham soal agama, seharusnya sebagai salah satu orang yang menghabiskan waktunya di gedung milik rakyat Indonesia, Gedung DPR, dia mengerti soal Undang-undang. Fadli Zon seharusnya menghafal isi Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP), khusunya Pasal 311 ayat 1 yang berbunyi:

“Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun.”

Tapi ya bagaimana lagi, Pak Prabowo kan hanya melempar, tanpa tau siapa yang disasar. Jadi, barangkali Fadli Zon mengaggap bahwa pidato Pak Prabowo tersebut lepas dari segala hukum.

Terlepas dari apapun, saya pribadi masih berharap Fadli Zon mondok, taka pa-apa di umur yang sudah menua karena di belajar di pondok tidak pernah mengenal umur.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 33
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.