Pasukan Allah yang Dijebak Gusti Allah

Mbeling

mmWritten by:

Share
  • 12
    Shares

Allah Maha segalanya. Termasuk Maha Menjebak.

Saya barangkali satu dari sekian juta umat manusia yang bodoh karena hidup -sedikit-banyak- mengikuti buah pikir Mbah Nun. Padahal Mbah Nun sendiri sudah ngewanti-wanti jangan pernah hidup menurut jare-jarene (kata), termasuk jarene Mbah Nun.

Tapi kalau ditelaah lebih mendalam, siapapun tokoh yang saya atau Sampean tiru, bahkan menyitir kalimat-kalimat mutiara kehidupan ala tokoh maknyus seperti Mario Teguh, misalnya, tetap saja Sampean tidak hidup menurut jarene. Kenapa? Karena setelah Sampean ngaji ini, baca itu, mendengar ini dan melihat itu, Sampean menyimpulkan pemahaman dan bertindak sesuai apa yang krentek di hati Sampean. Jadi, selama ini Sampean hidup tidak menurut jarene-jarene, tapi murni kehendak Sampean. Bila kemudian orang lain berkata, oh dia niru si Marijos, ya diumbarkan saja.

Meski tidak pernah sekali pun mengikuti acara Maiyah, Macapat Syafaat atau Kenduri Cinta, saya begitu dalam mencintai dan mengagumi Mbah Nun.  Puluhan bukunya seperti, Kiai Sodrun Menggugat, Surat kepada Kanjeng Nabi, Markesot Bertutur, Slilit Sang Kiai sampai sebarek buku yang menyangkut Mbah Nun, telah berjajar rapi di rak buku saya. (padahal ini ngapusi)

Mbah Nun begitu membius, mempesona, menggairahkan dan selalu menawarkan kemerdekaan berpikir. Apa yang Mbah Nun ucapkan selalu bersifat substantif, tidak remeh temeh semisal tahlil bid’ah, makan pakai sendok bid’ah, atau lain-lain.

Saya tidak dalam rangka menulis biografi Mbah Nun, karena sudah banyak buku tentang beliau. Pun tidak dalam rangka caper, barangkali tulisan saya dibaca Mbah Nun, tidak. Tulisan ini hanya semacam catatan hasil tidur semalam. Maksudnya, riyep-riyep sambil mendengarkan pengajian Mbah Nun di Youtube. Itu saja tak lebih. Dan ingat, tulisan ini sedikit saya lebih-lebihkan. Lha aku saiki rodo lebay, je!

Maka jangan terlalu sepaneng membaca ini:

Ada kelompok yang sedikit-sedikit mengucap takbir: suaranya kencang, serentak dan menggelegar: sangar. Pokoknya biar Allah mendengar jelas, kalau sampai detik ini masih ada pasukan-Nya di bumi. Jadi Allah tak usah repot-repot membasmi ‘kafir’ atau umat Islam yang mbalelo kepada-Nya. Tinggal kasih instruksi saja ke pasukan Allah yang ada di bumi itu. Pasti mereka sigap membasmi. Bahkan pasukan jihad fi sabilillah ini berani menjadi hakim untuk menggantikan Allah.

Lho, ndak salah to, pasukan itu harus cerdas mengambil inisiatif.

Jangan disandingkan kelompok ini dengan pendzikir takbir efisien (pendak lima waktu), takbir hemat (salat maghrib dan isya’ thok till) atau takbir irit (pendak Jum’atan tok). Karena mereka adalah golongan orang-orang yang jaraknya jauh dengan surga dan sedikit menjorok ke neraka. Karena mereka adalah orang-orang yang biasanya dicap kafir. Masa iya, pasukan Allah nongkrongnya sama muslim selooo dan begajulan seperti itu?

Namanya pasukan Allah tentu menempati tempat yang spesial, baik dalam artian dohir maupun yang lain. Simpelnya, lihat film-film tentang kerajaan, pasukan menempati posisi yang lebih enak ketimbang rakyat biasa. Pasukan tidur dan makan di dalam keraton dengan makanan serta minuman yang kecukupan (kadang-kadang ada bonus dedek-dedek emez) meski dari hasil memeras rakyat pribumi. Tetapi ini kan bukan cerita kerajaan, ini kehidupan dan segerombolan pasukan Allah yang siap sarkas bila melihat kebatilan. Tentu mereka lebih swuuuip ketimbang cerita-cerita sepopuler pasukan Majapahit. Iya tho?

Saya tidak tahu apa penilaian Allah kepada segerombolan pasukan ini, karena Allah tak pernah mengirimkan pesan penjurian kepada saya. Tapi, dengan pasukan ini berani menumpas kebatilan lengkap beserta orang-orang yang dicap batil oleh mereka, saya berkesimpulan bahwa pasukan ini memang top markotop. Kalau berani ngecap dan membantai kebatilan, berarti ia mengetahui kebaikan dan merasa dirinya benar. Saya kira  demikian. Karena mereka mengaku pasukan Allah, maka saya berkhusnudhon, bahwa tindakan mereka adalah tindakan benar sesuai instruksi Allah Sang Hyang Agung.

Allah Sang Maha Segalanya. Setelah saya pikir-pikir, Allah tak butuh menteri, kuda, benteng, ster atau bahkan pasukan (peyon) untuk membantu menjalankan kehendak-Nya. Lalu kenapa Allah membiarkan segerombolan orang yang mengaku pasukan-Nya, berbuat onar dan anianya berdasar perintah Allah?

Oh karena mereka adalah pasukan. Pasukan atau peyon-peyon itu tugasnya di lapangan. Mereka tak begitu memahami konsepsi dan strategi yang disusun oleh yang mereka bela. Karena bagi mereka, siapa yang terlihat mencurigan, maka tangkap atau pukuli adalah tindakan yang dibenarkan.

Bila sedang turunlapangan untuk sweping kemaksiatan, pasukan Allah itu akan selalu berkata “Kamu salah! Kamu kafir!” dan merekalah pokoknya yang paling benar. Padahal mereka sedang tidak sadar dijebak Allah. Setiap salat mereka selalu berkata “ihdinas shiratal mustaqim” untuk mengakui bahwa mereka masih berada di jalan yang belum benar. Urusan menyalahkan orang lain itu lain lagi.

Jangan sok membela Allah, karena sejatinya Allah adalah pembela dan tak butuh pembelaanmu. Jangan sok bela Allah, ntar dibelasungkawain tau rasa lho.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 12
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung