Positive Thinking Saja, Tidak Kunjung Kembali, Habib Rizieq Masih Sibuk Ber-Khalwat

Positive Thinking Saja, Tidak Kunjung Kembali, Habib Rizieq Masih Sibuk Ber-Khalwat

Share
  • 94
    Shares

Keputusan Habib Rizieq yang tidak kunjung kembali ke Tanah Air menimbulkan reaksi dan tanda tanya besar bagi mereka yang pro maupun yang kontra dengan Habibana. Keputusan Habibana patut dinanti, mengingat sebentar lagi Indonesia akan menghadapi hajat besar pada tahun 2019, apakah Habibana al-Mukarram Shohibul Laskar, Habib Rizieq akan tergoda, luluh dan kemudian pulang ke Tanah Air, ataukah beliau tetap kukuh dengan ambisinya untuk memecahkan rekor Bang Thoyyib? Jawabannya patut sekali untuk dinanti.

Meskipun telah banyak respon yang disuarakan oleh publik, seperti ; surat terbuka yang ditulis untuk Habibana hingga meme-meme ejekan, namun hingga detik ini belum dapat meruntuhkan tekad Habibana menjadi pemecah rekor MURI kategori Minggat Terlama.

Daripada hanya menjadi bacaan yang disebarluaskan dan diperdebatkan semata, banyaknya surat terbuka atau meme yang tersebar di media sosial tersebut, seharusnya mampu menginisiasi Pemerintah untuk menyelenggarakan “Sayembara Menulis Surat Tebuka dan Meme untuk Habib Rizieq” sebagai sarana penyalur aspirasi masyarakat. Nanti, 20 surat terbaik, dibukukan dengan sertifikasi ISBN, dan diarsipkan agar lebih produktif. Dengan begitu, Habibana mungkin akan merasa tersentuh dengan apresiasi yang diberikan para akademisi dan pada akhirnya bersedia pulang ke Tanah Air. Atau barangkali, para pegiat film, para produser atau sutradara ternama perlu membuatkan film berjudul “Sang Habib” untuk merayu Habibana agar mau kembali ke Indonesia.

Sebagai orang awam, kita ber-husnudzan sajalah, mungkin Habibana saat ini masih ber-khalwat melakukan kontemplasi mendalam sebelum kembali ke Indonesia. Apalagi mendekati 2019, tentu kontemplasi ini sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan kekuatan cakra atau tenaga dalam yang memang sangat dibutuhkan di tahun 2019 nanti. Mungkin dengan kontemplasi, Habibana dapat menemukan jurus baru yang dapat membuat kedudukan beliau dibelantara panggung Indonesia semakin kuat. Atau justru kontemplasi ini membuat Habibana menjadi seseorang yang berbeda dengan biasanya, kita tunggu saja kepulangannya.

Sembari menunggu kepulangan Habibana, kita ber-husnudzan, mungkin saat ini Habibana masih sibuk ber-khalwat seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul. Di mana pada saat itu Kanjeng Nabi risau dengan pergaulan yang ada di tengah masyarakat Quraisy, ber-khalwat-lah Nabi untuk mencari ketenangan.

Mungkin apa yang dilakukan Kanjeng Nabi, ditiru oleh Habibana Rizieq Shihab, bedanya hanya di tempat, kalau dulu Kanjeng Nabi di Gua Hira, mungkin Habibana cukup di Apartemen. Dalam khalwat-nya, Haibana pasti gelisah memikirkan keadaan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami kesulitan dalam memenuhi hajat hidup. Sambil memegang tasbih di tangan kanannya, ditemani secangkir kopi Arab, Habib Rizieq larut dalam kontemplasinya, memikirkan rakyat-rakyat kelas ekonomi menengah ke bawah yang serba sulit hidupnya, memikirkan harga bahan pokok yang terus merangkak naik, para petani dan buruh yang tidak menentu nasibnya serta terkekang oleh tengkulak dan cara kerja sistem kapitalis, dan harus pula dihadapkan pada perampasan tanah dengan dalih pembangunan.

Habib Rizieq

Pada akhirnya, saat melakukan kontemplasi, tiba-tiba Habib menanggalkan tasbihnya, rupanya beliau teringat pada tokoh Karl-Marx yang mampu merumuskan perjuangan kelas proletar di masyarakat. Kemudian tanpa fikir panjang, bergegaslah beliau menuju toko buku untuk mencari buku Das Kapital milik Karl-Marx. Tidak puas dengan satu buku, kemudian Habibana juga membaca buah karya Hasan Hanafi, dan beberapa buku sosialis-komunis lainnya.

Setelah dirasa cukup, bergegaslah Habibana kembali ke apartmen untuk melanjutnya kontemplasi. Sesampainya di apartemen, Habibana mulai membaca buah karya Marx dan Hasan Hanafi dengan seksama, dengan harapan untuk mengetahui  konsep kelas sosial dan bentuk perlawanannya seperti apa.

Dapat satu-dua halaman, Habibana berhenti, kembali melakukan kontemplasi dan merekonstruksikan teori dan keadaan realistis di tengah masyarakat Indonesia. Begitulah yang dilakukannya hampir tiap hari. Setelah hampir selesai membaca buku, beliau tersenyum lebar, dan mulai menyusun siasat untuk membentuk poros dan paradigma baru bagi  FPI. Setelah pulang ke Tanah Air, nampaknya beliau menginginkan FPI untuk bergerak bersama serikat pekerja buruh dan merubah paradigma untuk tidak lagi menyoroti persoalan cabang-cabang dalam ilmu agama.

Setelah mengamati keadaaan masyarakat kecil, kontemplasi Habibana bergerak menuju pada pergaulan di masyarakat. Beliau meneteskan air mata, menangis sajadi-jadinya, seolah beliau pernah melakukan dosa yang begitu besar. Beliau menangis karena melihat keadaan masyarakat Indonesia yang sekarang ini gemar mengkafir-kafirkan sesama muslim, gemar melakukan tindakan-tindakan intoleran, diskriminatif, anarkis, serta sering melakukan tindakan intimidasi terhadap suatu kemungkaran dengan cara yang tidak bijak.

Habibana merasa kalau konsep amar ma’ruf nahi mungkar yang ada di masyarakat adalah keliru. Masyarakat seharusnya tidak boleh melawan ke-dzaliman serta ke-munkaran dengan kekerasan, melainkan dengan cara yang halus. Habibana semakin deras tangisannya, ketika mengingat nama Allah SWT dan gema takbir yang begitu sakral, dewasa ini kerap dibawa masyarakat untuk kepentingan mobilisasi masa dalam kontestasi politik. Untuk itu, Rizieq betekad, sesampainya di Indonesia nanti, beliau ingin menjaga kerukunan di tengah masyarakat. Tidak lagi mengkafir-kafirkan orang, beliau akan mencontohkan kesantunan terhadap orang-orang minoritas, dan tidak lagi ikut campur dalam urusan politik.

Beliau ingin FPI-nya nanti hanya sibuk dengan kegiatan sosial, membangun fasilitas di desa-desa terpencil, menjaga kerukunan dengan umat beragama yang lain, dan tidak lagi melakukan sweeping dengan cara yang kasar karena beliau rasa dapat mematikan pereokonomian masyarakat, toh kalau memang terpaksa, Habibana ingin melakukannya dengan cara yang santun agar tidak membuat gaduh masyarakat.

Dalam masa kontemplasi Habibana gelisah, beliau ingin melakukan perombakan besar dalam hidupnya, termasuk gaya berpakaian dan bicaranya.  Beliau ingin menjadi orang biasa yang tidak dibesar-besarkan oleh umat, karena beliau sadar bahwa tanggung jawabnya begitu besar. Beliau ingin masuk ke Nahdlatul ’Ulama (NU), berjuang bersama Kyai-Kyai kampung yang begitu ikhlas mendidik dan menjaga umat. Beliau ingin memakai sarung, memakai batik, dan peci hitam agar tidak dibesar-besarkan oleh masyarakat. Beliau ingin meneruskan amalan thariqoh-nya, melakukan wirid dan tidak lagi ikut dalam kontestasi politik. FPI miliknya berstatus sebagai relawan santun yang mendampingi buruh, dan sibuk dengan kegiatan sosial, serta tidak ingin dibawa-bawa untuk demo politik. Habibana merupakan panutan. Dalam kontemplasinya, beliau dapat berubah seketika, menjadi orang yang berbeda, yang santun dan sangat memikirkan keadaan masyarakat kecil.

Namanya juga ber-husnudzan, tentu kita menghendaki yang baik dan layak untuk Habibana. Kita berdoa bersama-sama, semoga Habibana sehat selalu, berada dalam lindungan Allah SWT, dan selalu tercukupi hajat dzohir dan batinnya. Kita ber-husnudzan saja, semoga Habib Rizieq tidak berubah menjadi kurus kering. Amiin.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 94
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.