Ngopi ala Tarekat Syekh Syadzili

Mbeling

mmWritten by:

Share
  • 35
    Shares

Kopi menjadi komoditas yang paling merakyat dan selalu ada dimanapun tempatnya. Tak peduli peminumnya berasal dari mana, jabatannya apa, sampai jomblo atau tidaknya, kopi tetaplah kopi dengan rasa pahit yang senantiasa dirindukan.

Membincang kopi memang tidak akan pernah ada habisnya. Ia ibarat telinga yang setia mendengarkan saat peminumnya dirundung duka. Ia ibarat selimut tebal yang menghangatkan. Dan ia ibarat Sukarno –yang katanya— penyambung lidah rakyat. Kopi juga seperti gadis, rasa dan kenikmatannya tergantung bagaimana peminum memperlakukannya, tentu dengan khas pahit yang selalu melekat saat menyentuh lidah. Kopi.

Kopi adalah minuman para sufi, sehingga wajar jika kopi dikatakan sarat filosofi.Telingaku sendiri telah banyak mendengar banyak cerita mengenai kopi, lebih tepatnya di balik kopi. Yang paling terakhir kudengar di kantor beberapa hari yang lalu. Ada seorang senior yang mengajari bagaimana selayaknya para penghisap memperlakukan kopi. “Kopi itu minuman para sufi, jangan perlakukan ia ala kadarnya!” kritiknya terhadap penyeduh kopi.

“Kopi itu alat beribadah. Media untuk berdzikir. Jembatan, suluk agar semakin mendekatkan kita dengan Yang Maha Kuasa. Jadi, mulai besok, jangan sembarangan memperlakukan kopi! Ngopi harus benar” Ia berulang kali menegaskan agar kami tidak asal menyeduh kopi. Ada ritualnya, ada tata caranya!

Ia menukil dhawuh Syekh Abu Hasan As-Syadzili (entah ia berkata benar atau tidak), ada tata cara sakral yang harus diperhatikan dan senantiasa dipraktekkan para penikmat kopi. “Saat memasukkan kopi ke dalam gelas, bacalah fatiha yang barokahnya dihadiahkan kepada Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, ulama, para wali dan seluruh makhluk di dunia ini.”

“Lalu…?” Jawab kami serentak. Saya sendiri tidak membantah dalam rangka menghormati orang yang umurnya begitu jauh di atas saya.

“Setelah menuangkan air panas, jangan kemudian asal-asalan dalam mengaduknya. Kopi itu diminum supaya peminumnya kuat melawan waktu. Maka arah mengaduknya harus ke kiri, melawan jarum jam bergerak, sambil membaca shalwat 17 kali. Ini bukan omongan ndobos (ngibul: bohong). Yang saya sampaikan ini adalah dhawuh para kiai. Insyaallah kalau kalian mengamalkan ini, tidak akan ada yang sakit perut, kembung, karena minum kopi. Bilhaq!” Serunya begitu mantap.

“Tapi kopi tetaplah kopi. Bagaimana kalian memperlakukannya, ia tetap punya pahit yang menggairahkan. Silahkan campur gula sebanyak apapun, pahit kopi akan tetap ada. Lalu, jika kopi saja selalu punya pahit, kalian punya apa?” Pungkasnya. Ia merengkuh songkok besarnya dan kemudian pergi begitu saja. Sedang kami hanya diam saling pandang. Memahami apa yang baru saja senior itu katakan.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 35
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung