Pondok Salaf, dari Kitab Kuning sampai Ta’dzim Kiai

Pondok

Written by:

Share
  • 50
    Shares

Kata salaf dalam pengertian pesantren di Indonesia dapat dipahami secara literal maupun terminologi khas Indonesia. Secara literal istilah salaf berarti kuno, klasik, dan tradisional. Sedangkan secara terminologi pesantren salaf adalah sebuah pesantren yang mengajarkan ilmu agama saja, adapun jika ada ilmu umum itu hanya sebagai tambahan dan sangat sedikit. Pada umumnya materi yang digunakan pesantren salaf adalah materi yang berbahasa Arab dan buku yang digunakan biasanya disebut kitab kuning, kitab gundul, kitab turant. 

Mayoritas pesantren salaf dalam aktivitas belajarnya menggunakan metode sorogan, weton dan klasik. Adapun metode sorogan adalah suatu metode belajar seorang santri membaca sebuah kitab didepan guru atau kiai. Sedangkan metode weton adalah sebuah metode seorang guru atau kiai membaca sebuah kitab beserta menjelaskannya dan diikuti oleh santri yang mendengarkan serta memberi makana dalam kitabnya masing-masing. Sedangkan metode klasik adalah sebuah metode yang digunakan sebagaimana metode belajar di pesantren modern atau di dalam kelas pendidikan formal, namun materi yang diajarkan tidak meninggalkan tradisi pelajaran di pondok pesantren salaf, yaitu meteri agama yang bersumber dari kitab kuning.

Sisitem pendidikan di pesantren menempatkan seorang santri sebagai penuntut ilmu, kawulo, abdi kepada seorang kiai. Seorang santri rela melakukan apapun yang dikehendaki kiai-nya dengan rasa ikhlas, tawadu, tidak merasakan terbebani, dan tidak merasa sebagai pembantu atau budak oleh kiai. Konsep tersebut sangat di pegang teguh oleh para  santri di pondok pesantren salaf. Perilaku santri yang demikian merupakan manifestasi apa yang dipelajari dari salah satu kitab kuning yang merupakan tuntunan bagi para santri dan kiai, yaitu kitab Talim Mutaallim karya Imam Zarnuji. Kitab tersebut dinisbatkan kepada Sayyidina Ali yang menyatakan “aku adalah kaulo orang yang pernah mengajarkan huruf kepadaku. Apabila mau, dia boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku.”

Seorang kiai mempunyai karismatik tersendiri dihadapan para santrinya, karena menurut mereka kiai adalah ulama, dan ulama adalah warisan para nabi. Dengan demikian, santri menganggap bahwa seorang kiyai adalah tempat bergantung, apapun yang dikatakan kiyai selalu diyakini kebenarannya. Selain itu, santri selalu tunduk dan tidak pernah membantah kepada kiai. Santri akan selalu memandang para kiyai menjadi orang yang harus dihormati, karena kiai adalah orang yang memiliki spiritual yang bisa membawa keberuntungan. Hubungan antara kiai dan santri tersebut merupakan hubungan keyakinan seorang santri kepada konsep barokah kiai.

Konsep barokah tersebut merupakan salah satu tradisi di pesantren salaf yang masih terjaga hingga saat ini. Jika dipikir secara rasio (berdasarkan pemikiran akal sehat), konsep barokah tersebut tidak mungkin bisa diterima. Namun, jika secara empiris (berdasarkan pengalaman) konsep barokah akan bisa diterima dan diyakini, karena barokah adalah bertambahnya kebaikan dalam kehidupan dan pengaruh baik yang mendatangkan keselamatan serta kebahagiaan dari Allah melalui perantara orang yang dihormati atau dianggap suci. Misal, guru, ulama, kiyai dan lain sebagainya. Barokah juga biasa disebut  ziyadatu al-khair bi al-khair (sesuatu yang dapat menambah kebaikan kepada sesama). Konsep barokah tersebut sangat luas, tergantung konteks yang dihendaki. Pengertian barokah diatas merupakan konsep barokah di lingkungan pondok pesantren salaf.

Banyak tradisi di pesantren salaf untuk memperoleh barokah (istilah dipesantren salaf adalah ngalap berokah) diantaranya adalah makan atau minum bekasnya kiai, ngabdi kepada kiai (ngladeni kiyai), roan (kerja bakti), mengikuti pengajian dan lain sebagianya yang merupakan sikap memulyakannya santri terhadap kiyai atau sikap kepedulian santri di lingkungan sekitar. Di antara cara mencari barokah santri tersebut secara rasio tidak mungkin bisa membantu santri menjadi lebih mudah memahami sebuah ilmu atau bisa membantu memudahkan kehidupan kelak setelah keluar dari pesantren. Tapi memang itu lah kenyataannya, para santri mempunyai keyakinan secara empiris terhadap barokah. Karena secara empiris, santri yang ketika mondoknya tidak begitu pandai atau tidak begitu dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya, namun dia selalu sendiko dawuh (mengikuti apa yang dikatakan) kiai dan ngalap barokah, maka dia yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat kelak dan ilmunya akan lebih manfaat daripada seorang santri yang masa mondoknya hanya belajar dan tidak mempedulikan  kiai-nya.

Selain tradisi ngalap barokah,  di pesantren juga melestarikan sanad keilmuan, kiai dan santri merupakan seorang yang masih memedulikan sebuah tradisi sanad keilmuan yang tidak dimiliki oleh para guru-guru dan murid- murid pada umumnya. Mayoritas kiai dan santri menjaga sanad keilmuannya meskipun sanad tersebut tidak sampai kepada Rasulullah. Namun setidaknya ilmu yang diperoleh dari seorang kiai yang diyakini kredibilitasnya. Dengan kata lain, santri belajar harus dengan didampingi oleh guru sehingga ilmu yang diperoleh tidak ada kemungkinan kesalahan dalam memahami.

Meskipun demikian, tidak sedikit juga di antara para kiai dan santri yang masih memedulikan  sanad keilmuan hingga Rasulullah. Mereka rela menjelajahi pesantren dan mencari kiai demi mendapatkan sanad sebuah keilmuan hingga Rasulullah. Sanad keilmuan menjadi sangat berharga karena tanpa mengetahuai sanad keilmuan merupakan hal yang hina bagi pemiliknya. Hal tersebut berdasarkan pendapat Syaih Yasin al-Fadani (seorang ulama hadis dari padang yang hidup di negri Arab dan mempunyai banyak julukan yang berkaitan dengan hadis, salah satunya adalah musnid dunnya atau ahli sanad dunia) bahwa:

Sanad merupakan sesuatau yang sangat penting bagi pemilik Ilmu, dan keutamaan derajad sanad tidak diragukan lagi karena sanad adalah sesuatu yang sangat penting dan dicari-cari. Maka setidaknya bagi para pengajar dan pencari ilmu untuk mengetahuinya. Bila keduanya tidak mengetahui pennntingnya sanad maka itu merupakan yang hina baginya. Mereka yang mengajarkan ilmu lengkap dengan sanad laksana ikon agama yang menjadi panutan dimana-mana. Sanad merupakan mediator mendekatkan diri kepada sang Maha Kuasa. Ketahuilah bahwa seorang murit itu disuruh untuk mendoakan  dan mengambil pelajaran dari guru-gurunya. Maka bagaimana mereka bisa mendoakan dan mengambil suri tauladan jika tidaka mengetahui siapa saja guru-gurunya” (Karyadi. Mengkaji (budaya) Sanad Ulama Tanah Jawa, 2013: 66 )

Banyak kiai yang melestarikan tradisi sanad tersebut, hampir seluruh pengasuh pondok pesantren di Indonesia seperiode atau sesudah Syaih Yasin (sekitar abad XX) yang mempelajari kitab klasik di pondok pesantren mempunyai sanand keilmuan yang bersumber dari Syaikh Yasin. Seperti, KH. Mahrus Ali (Lirboyo, kediri), KH. Abdul Basyir Hamszah (Meranggen, Demak), KH. Maimun Zubair (Sarang, Rembang), KH. Syafiq Nabhan (Kudus), KH. M. Chilil Bisri (Raudhatu al-Thalibin, Rembang), KH. Abdullah Faqih (Langitan, Tuban), KH. Syafii Hadzami (Jakarta), dan lain sebagainya. (Karyadi: 63-64). 

Banyaknya para kiai terdahulu yang mempunyai sanad keilmuan dan  tersebar di berbagai daerah menunjukkan bahwa para santri dan kiai pondok pesantren salaf mempunyai sanad keilmuan hingga Rasulullah. meskipun sebagian besar para kiai tersebut sudah meninggal, namun tidak menuntut kemungkinan para santri-santrinya banyak yang mendapat ijazah sanad dan dilestarikan hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, tradisi ijazah sanad sudah mulai berkurang. Meskipun demikian masih bisa diyakini bahwa para kiai pondok pesantren salaf saat ini masih mempunyai sanad yang bersambung dari gurunya hingga Rasulullah.

Tradisi yang lebih penting adalah tradisi adab sopan santun. Sopan santun merupakan pelajaran yang sangat diutamakan di pondok pesantren salaf, karena derajad adab sopan santun lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan. Dengan adab tersebut seorang santri akan lebih mulia derajadnya di hadapan Allah maupun mahkluk-Nya. Memiliki ilmu pengetahuan tinggi namun tidak mempunyai adab yang baik lebih buruk daripada mempunyai adab yang baik tidak mempunyai ilmu yang tinggi. Untuk mengimbangi keduanya, pesantren salaf tetap menjaga tradisi adab sopan santun terhadap yang lebih tua dengan mengimbangi pelajaran  ilmu agama yang luas. Tak heran jika santri salaf akan lebih sopan dan santun daripada santri pondok pesantren  modern. Dengan demikian, santri akan mulia dengan adab beserta ilmu pengetahuan agama yang diperoleh.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 50
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung