Ibadah Pangkal Pesta Seks di Surga

Ibadah Pangkal Pesta Seks di Surga

Share
  • 14
    Shares

“Kelak di surga kita akan bebas menggelar pesta seks dengan para bidadari, mabuk-mabukan setiap hari dan melakukan apapun yang telah kita tahan di dunia ini. Hidup di dunia, kalau kata orang Jawa, mung mampir ngombe, artinya sangat sebentar. Maka, jangan sesekali berani melakukan segala hal yang dilarang oleh Pengeran. Apalagi melepaskan burung dalam sangkar sempakmu terbang mencari lobang-lobang milik perempuan yang bukan istrimu. Puasalah, tahanlah, karena kelak kita akan menikmati nikmatnya nikmat berada di surga. Ya, ngeseks rame-rame. Kapan saja, dengan siapa saja!”

“Begitu lho kata Ustadz Syamsuddin, Dul! Kita itu harus menahan syahwat. Jangan nuruti hawa nafsu. Burungmu itu harus dipastikan masuk pada lubang yang tepat. Biar masuk surga dan bebas ngeseks dengan siapa saja!” Kata Sudrun kepada Dul Karim yang sedang ukrak-ukrek radio jadulnya.

Merasa tidak mendapat tanggapan dari rekan ngerondanya itu, Sudrun kesal. “Dul, Dul, kupingmu itu memang persis radiomu. Rusak!”

Daripada semakin kesal lantaran tak kunjung mendapat tanggapan, Sudrun menghunus rokok lintingan dewe dari dalam sakunya, kemudian membakarnya dengan korek zippo –yang katanya—peninggalan para leluhurnya.  Asap tembakau bercampur kemenyan itu menusuk hidung dan memaksa Dul Karim menghentikan kegiatannya ngopeni radio jadul –yang katanya juga—peninggalan nenek moyangnya.

“Minta lintinganmu dong, Drun….” kata Dul Karim.

Racikan rokok Sodrun memang telah masyhur di kalangan pemuda daerah lereng Gunung Sumbing. Racikannya gurih, nyaman di tenggorokan dan tentunya memiliki aroma yang membuat hidung beregoyang.

Sebagai teman karib angon sapi dan ngarit, Dul Karim terkadang heran dengan bakat Sodrun yang nyeni itu. Padahal, bahan baku lintingannya tak beda dengan rokok pada umumnya, tapi rasanya jangan tanya. Gurih. Nagih. Racikan Sodrun memang tiada duanya. Tak cuma lihai menciptakan cita rasa rokok yang nyaman dinikmati seluruh elemen dan membubuhi rajah-rajah tertentu untuk kebutuhan tertentu, Sodrun ternyata memang memiliki anugerah racik meracik dari Sang Hyang Asyik. Apapun yang Sodrun racik, selalu membuat perut, hati dan perasaan seseorang didekatnya selalu gemericik.

“Drun,” panggil Dul Karim, “ngopo to kamu ini suka ngebahas hal-hal yang tidak penting?”

“Maksudmu?”

“Sampean itu terlalu berlebihan dolanan hp, Drun! Kelewat apdet. Gampang termakan isu-isu dan keramaian dunia maya yang fana itu. Lagi ramai DPR rep mangan KPK, saben ndino bahsanmu kui wae. Ramai Felix Siauw masuk NU, doyan tahlilan, manaqiban dan berjanjenan, awakmu malah topo broto di puncak Sumbing ikut mendoakan. Lha sekarang, lagi rame ustadz muda yang menjanjikan pesta seks di surga, dirimu sepertinya semangat sekali. Aku sampe bingung lho, Drun!”

“Jadi, yang seperti itu tidak penting kanggomu?” Sodrun sepertinya mulai naik darah. “Aku cuma merasa tak nyaman saja dengan orang-orang kota itu. Hidup mereka sudah moderen, lha kok mikirnya, kelakuannya, masih saja primitif. Pejabat-pejabat podo doyan sikut-sikutan, kiai-kiai tipi podo kedonyan dan haus pujian.”

Dul Karim diam saja menikmati rokok linting Sodrun made. Dul Karim memang sengaja memancing kawannya itu berbicara lebih panjang lagi, karena ia tau bahwa Sodrun adalah santri tulen yang memiliki nalar logika dan pandangan yang top abis terkait bermacam persoalanMeskipun setiap hari Sodrun akrab dengan sapi dan rerumputan.

“Bayangkan saja, Dul, seorang bocah yang kualitas keilmuannya belum tentu lebih baik dari Romo Kiai Maimoen Zubair atau Mbah Mus, sudah dapat berdakwah di stasiun tipi besar dan setiap ucapannya selalu diaminkan oleh banyak kalangan. Sedang kalau para kiai sepuh ngendiko malah dianggap ngapusi, mengada-ada dan disalahkan. Ini ndonyo sudah kuwalik-walik.”

“Drun,” Dul Karim menimpali, “Mungkin romo-romo itu yang tidak kerso tampil di tivi karena ingin menjaga keikhlasan berdakwah dan ngemong umat. Coba ingat dhawuh Mbah Miek, Drun, nilailah orang dengan kacamata hakikat dan nilailah diri kita sendiri dengan kacama syariat. Barangkali Syasmsudin itu kepeleset, wong memang manusia itu tempatnya salah dan lupa. Mosok masalah begitu saja mbuk pikir nemen?”

“Bukan begitu, Dul. Tivi itu konsumsi publik, sudah seharusnya mereka menjamin segala sesuatu yang tayang bermanfaat dan mengarahkan penonton berpikir serta berperilaku yang baik. Bukan malah mempertontonkan hal-hal yang bisa saja memantik orang untuk berlaku tidak lumrah.”

“Ah kowe ini, Drun. Namanya stasiun televisi itu perusahaan. Perusahaan punya karyawan. Karyawan butuh makan. Maka mereka harus merancang acara yang disenangi masyarakat luas, meskipun acara itu tak mendidik, yang penting menghibur. Masyarakat senang. Iklan pun berdatangan, maka dapur dan dompet karyawan terselamatkan. Kalau acara tivinya ngaji kitab kuning, ya ra enek sing ndelok!

“Lagian,” lanjut Dul Karim, “tivi itu kan mengikuti tren dan pola pikir masyarakat. Bisa jadi kalau seluruh masyarakat punya pikiran seperti kowe ini, acaranya pun akan lebih bermanfaat dan bermartabat. Toh, seharusnya kita yang lebih cerdas, banyak stasiun televisi, maka pilihlah yang baik, tinggalkan yang kita anggap buruk. Sesederhana itu kok.”

Sodrun menyalakan lintingan lagi. Ia berpikir sejenak, kemudian angkat suara lagi.

“Aku ndak setuju ucapanmu, Dul. Tivi itu tidak mengikuti tren masyarakat. Seharusnya tivi yang keren itu bisa membelokkan tren masyarakat. Lihat coba lihat, setidak kerennya tivi, tetap saja ia dapat memengaruhi pola pikir masyarakat. Artinya tivi memiliki andil besar dalam tumbuh kembang keboedajaan masyarakat! Bukan malah sebaliknya!”

“Hemmm,” Dul Karim memgang kepala. “Minta lintinganmu lagi, Drun!”

Sodrun mengeluarkan segebok rokok dari dalam saku celananya dan meletakkan di depan Dul Karim. Lalu ia melanjutkan omongannya.

“Sebagai orang yang pernah menimba ilmu di pondok-pondok sepanjang jalan Pantura, sejujurnya aku tersinggung dengan ucapan pemuda itu. Mosok jungkir walik ibadah umat Islam selama ini hanya untuk meraih pesta seks? Dobolen ndase! Kok iya mesum banget itu surga.”

Dul Karim tersenyum. “Lha kowe ibadah itu buat apa? Buar dapat surga atau istri soliha yang cantik jelita, seperti Kurniasih anak Kiai Ndorori itu? Hahahaha”

“Sikakem. Aku ngibadah, ya, karena aku merasa perlu untuk beridah. Syukur-sykur kalau ibadahku diganjar surgo karo Gusti Alloh, kalau misalnya ora, ya tidak apa-apa. Aku ngelakoni ibadah mung caper maring Gusti Alloh, nindaaken perintah sing dituturno Kanjeng Nabi dumugi poro kiai. Aku tidak ngarep surga atau neraka, apalagi pesta seks!” Sodrun menggebu-gebu.

“Ah, jawabanmu itu diplomatis. Tidak realistis. Terlalu apoligis. Aku mendengarkan menjadi merasa najis.” Dul Karim kembali tertawa terbahak-bahak.

“Pokoke aku merasa terhina dengan statemen dakwah seperti itu. Kalaupun niatnya ngiming-ngimingi masyarakat supaya giat beribadah, mbuknya iming-imingannya yang tidak saru begitu lho!”

“Iyo, Drun, iyo. Santai. Ududmu disedot dulu. Eling, Drun, segala sesuatu itu perlu pancingan. Wong sanyo mati saja perlu dipancing.” Sudrun tetap diam mendengar kelakar Dul Karim. “Aku eling dhawuh e Pak Yai pas ngaji kitab bidayatul hidayah, katanya khusyu’ saja harus dipancing. Pancingannya, misalnya terus saja salat meski masih kepikiran cewekmu, sapimu, atawa segomu. Nanti insyaallah akan menemukan cara untuk khusyu’. Lha ustad itu pengen mancing umat agar rajin beribdah, meski dalam beribadah masih bersikap pragmatis agar mendapatkan pesta seks di surga. Saya anggap wajar. Yang tak wajar, ucapan itu bila sampai pada telinga anak-anak dan menimbulkan praktik-praktik seks bebas dan membuatmu nambah kebelet kawin. Lho, rak nyambung rak, Drun!”

“Kowe itu memang selalu sok bijak! Pokoknya aku ora terimo! Mosok rajin ibadah pangkah pesta seks!” Sodrun semakin ngotot, pertanda Dul Karim harus segera mengakhiri forum cangkrukan tersebut. Akhirnya Dul Karim pamit undur diri lantaran telah waktunya kembali ke kebun masing-masing.

“Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita kukut. Lungo ngarit. Golek duit. Tidak perlu anggap serius ucapan kiai muda hasil branding tivi itu, sing penting kita harus semakin baik, madep mantep maring Gusti Kang Moho Suci.”

 

Ciputat, 20 Juli 2017 | 02.00

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 14
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.