Teladan Kiai As’ad Syamsul Arifin

mmby:

Pondok

Share
  • 8
    Shares

Kiai As’ad Syamsul Arifin menerima gelar Pahlawan Nasional pada 9 November 2016 sesuai Keputusan Presiden Nomor 90/TK/Tahun 2016. Tokoh Nasional asal Asembagus Sukorejo Situbondo ini merupakan ulama kharismatik yang disegani kawan dan lawan.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyyah Asembagus yang terkenal dengan Ma’had Alinya ini memang menyimpan segudang prestasi. Pondok Pesantrennya menjadi saksi kembalinya Nahdlatul Ulama ke khittah 1926 dalam Muktamar ke 28 tahun 1984. Pada tahun 2003, digelar Muktamar Pemikiran Islam NU di pondoknya oleh para tokoh-tokoh muda NU yang mengkampanyekan pemahaman Islam yang rahmatan lil-alamin, bukan Islam yang marah, radikal, ekstrim, dan menghalalkan segala cara. Pemikiran dan perjuangan Kiai As’ad mengokohkan nasionalisme dan patriotisme dalam bingkai keislaman yang sangat kuat.

Di antara jejak perjuangan Kiai As’ad adalah: Pertama, menggalakkan perlawanan terhadap penjajah, khususnya Belanda dan Jepang di daerah Situbondo dan sekitarnya. Dengan Laskar Hizbullah dan Sabilillah, Kiai As’ad mengobarkan semangat anti penjajah, sehingga lahir perlawanan sengit kepada penjajah. Kedua, mempunyai peran besar dalam pendirian organisasi sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama. Kiai As’ad diperintah Syekh Khalil Bangkalan Madura untuk menyerahkan tongkat dan QS. Thaha kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

Keduanya menjadi isyarah restu yang diberikan Syekh Khalil kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama yang mengibarkan Islam ahlussunnah wal jama’ah yang moderat, toleran, dan progresif.

Ketiga, peran dalam dunia pendidikan dengan merintis pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo bersama ayahnya K.H. Samsul Arifin dan mengembangkannya dengan mendirikan Ma’had Aly Salafiyah Syafiiyyah. Ma’had Ali ini menjadi rujukan nasional karena berhasil menyusun kurikulum yang hebat, menjalankan tata kelola lembaga secara professional, menerapkan pembelajaran dialogis dan dinamis, dan mampu mengeluarkan alumni yang berkualitas.

Pendirian Ma’had Ali ini tidak lepas dari keyakinan Kiai As’ad bahwa kitab yang dipelajari di pesantren mampu merespons tantangan zaman jika dipahami secara kontekstual, tidak hanya tekstual. Untuk memahami kitab secara kontekstual, dibutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap ushul fiqh. Sebagai pengelana pengetahuan yang belajar di berbagai pesantren dan Mekkah, Kiai As’ad mempunyai wawasan yang luas dan pemikiran visioner tentang kitab kuning secara khusus dan prospek pesantren di masa depan secara umum.

Di Pondoknya sekarang berdiri lembaga pendidikan dari tingkat paling bawah sampai Perguruan Tinggi sebagai bukti kontribusi besar pesantren dalam pembangunan moral dan prestasi bangsa.

Keempat, menjadi rekonsiliator nasional. Figur Kiai As’ad diterima oleh semua kalangan, sehingga ketika terjadi konflik berkepanjangan antara kubu KH. Idam Khalid dengan kubu KH. Ali Ma’shum Yogyakarta, maka Kiai As’ad dalam Muktamar NU ke-27 di pondoknya tahun 1984 berhasil mencari solusi dengan menetapkan KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Ahmad Shiddiq sebagai nahkoda baru NU supaya NU lepas dari konflik dan pemimpin yang baru mampu membawa kejayaan NU.

Kelima, berhasil melahirkan kader-kader muda yang berkualitas yang bertebaran di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu contohnya adalah KH. Afifuddin Muhajir, KH. Abdul Moqsith Ghazali, KH. Abdul Jalil, dan lain-lain. Kebesaran seorang ulama dibuktikan dengan keberhasilannya mendidik dan melahirkan generasi penerus yang berkualitas tinggi yang mampu menggantikan posisi dan perjuangannya dalam mengembangkan potensi umat. Lima indikator di atas menunjukkan besarnya perjuangan dan pengabdian Kiai As’ad kepada bangsa dan Negara dengan memperkuat basis-basis nasionalisme dan patriotisme religius yang menjadi identitas utama umat Islam Indonesia, khususnya dalam naungan organisasi Nahdlatul Ulama.

 

Melanjutkan Perjuangan

Perjuangan besar yang dirintis oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin seyogianya diteruskan oleh generasi sesudahnya, baik oleh santri-santrinya maupun umat Islam secara keseluruhan. Radikalisme dan fundamentalisme keagamaan yang booming sekarang ini harus direspons dengan pendekatan kontekstual dalam pemahaman agama. Kiai As’ad dengan Ma’had Ali mengajarkan kepada umat Islam untuk memahami agama secara kontekstual, yaitu pemahaman agama yang sesuai dengan tantangan zaman, sehingga mampu menjadi solusi, bukan memperkeruh suasana. Pemahaman kontekstual sesuai berorientasi kepada maqasidus syariah (tujuan-tujuan syariat Islam) yang menekankan lima aspek, yaitu agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.

Dalam konteks doktrin amar ma’ruf nahyi munkar yang baru marak sekarang ini seyogianya dipahami secara bijaksana. Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddinmisalnya menjelaskan bahwa kewenangan umat Islam secara umum adalah memberitahu (al-ta’rif), memberikan nasehat (al-wa’dlu), dan memberikan peringatan keras(al-takhsyin fil qaul). Sedangkan melakukan kekerasan dan mencegah dengan paksa adalah otoritas Negara yang tidak boleh diintervensi oleh masyarakat supaya tidak menimbulkan instabilitas sosial politik.

Dalam konteks Indonesia, sebuah pelanggaran harus diserahkan ke meja hukum dengan undang-undang yang berlaku. Masyarakat tidak boleh memaksakan kehendak. Aspirasi dan partisipasi masyarakat dihargai, tapi stabilitas sosial politik tetap terjaga. Pemahaman yang moderat inilah yang mencerminkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.

Selain itu, gejala disintegrasi bangsa harus diatasi dengan rekonsiliasi nasional dengan memperbanyak shilaturrahim dan memperkuat barisan. Konflik antar elemen bangsa harus direkatkan kembali dengan memperbanyak titik temu dan memperkecil perbedaan. Kiai As’ad berpengalaman mendamaikan konflik yang terjadi dengan solusi yang diterima kedua belah pihak. Umat Islam sebagai umat mayoritas harus memosisikan diri sebagai pelindung bagi kaum minoritas. Sedangkan kaum minoritas harus menghargai kaum mayoritas dan tidak boleh menyulut statement dan perilaku yang mengobarkan permusuhan dan kebencian.

Persaudaraan antar sesama umat Islam (ukhuwwah Islamiyyah), antar sesama warga Negara (ukhuwwah wathaniyyah), dan antar sesama umat manusia (ukhuwwah basyariyah) harus diperkuat dan ditingkatkan terus menerus dengan mengeliminir potensi konflik. Dengan persaudaraan yang kokoh, persatuan akan terjalin dengan baik sebagai kunci meraih kejayaan. Semoga keteladanan KH. As’ad Syamsul Arifin menginspirasi dan memotivasi seluruh elemen bangsa untuk menampilkan Islam yang rahmatan lil-alamin dan merajut persaudaraan menuju kebangkitan bangsa di masa depan.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 8
    Shares

One Reply to “Teladan Kiai As’ad Syamsul Arifin”

  1. Rani S says:

    bagus sekali artikelnya, semoga bermanfaat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *