Aku, Mbah Bisri Syansuri dan Secuil Kenangan

Pondok

mmWritten by:

Share
  • 37
    Shares

“Mbak, Sampeyan alumni pondok mana?”

“Saya alumni Jombang, Jawa Timur.”

“Oh, Tebuireng, ya? Gus Dur?”

“emm.. bukan.”

“Lalu, mana? Tambak Beras? Kiai Wahab?”

“Bukan juga. Saya alumni Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar. Pendiri pertamanya KH. Bisri Syansuri. Kakeknya Gus Dur dari pihak ibu.”

“Wah, yang mana ya? Kok asing.”

Kretekk! Seketika saya tahu bagaimana rasanya seseorang yang amat berharga bagi negeri ini ternyata sudah banyak yang tak mengenalnya. Bahkan dari kalangan santri sendiri, terutama NU. Masih ada yang belum mengenal KH. Bisri Syansuri? Mari saya kenalkeun, sosok ulama yang begitu tawadhu’ dan faqih ini.

Biografi Singkat serta Riwayat Pendidikan

Kh. Bisri Syansuri lahir pada tanggal 23 Agustus 1887 Masehi dari pasangan Kyai Syansuri dan Ibu Mariah. Beliau lahir di sebuah desa bernama Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah. Terlahir dari keluarga yang menghasilkan ulama-ulama besar, KH. Bisri Syansuri akhirnya tumbuh menjadi sosok yang taat dalam beragama, teguh pendirian dalam mengamalkan fiqh serta tawadhu’. Sejak kecil pembelajaran beliau dibimbing langsung oleh Ayahandanya, yaitu Kyai Syansuri.

Kemudian pada usia 9 tahun beliau mulai berguru dengan guru-guru yang ada di Tayu. Seperti KH. Abdusshomad, Kyai Amin yang masih merupakan keturunan Syekh Mutamakkin, Kyai Sirodj dan beberapa Kyai besar lainnya. Ilmu yang beliau pelajari dari para gurunya ialah yang pertama Alquran dan tajwid, ilmu tauhid, fiqh dan ilmu keislaman lainnya. Ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu ialah, keurutan ilmu yang dipelajari. Pertama ialah membaca Alquran, ilmu tauhid kemudian disusul dengan beberapa fan ilmu lainnya.

Kemudian saat beranjak remaja tepatnya pada tahun 1906 beliau mulai berguru pada Syaikhuna Kholil di Bangkalan, Madura. Beliau belajar ilmu alat (tata bahasa) seperti Nahwu dan Shorf. Pengembaraan beliau dalam mencari ilmu di Bangkalan juga merupakan awal persahabatan beliau dengan KH. Wahab Hasbullah dari Tambak Beras, Jombang yang kelak menjadi kakak iparnya.

Setelah berguru dengan Syaikhuna Kholil, beliau melanjutkan perguruannya di Pesantren Rembang kepada KH. Umar bin Harun, KH. Syuaib, Kyai Kholil Kasingan. Di situlah beliau menghafalkan bait nadzom Alfiyah serta menghatamkan Fathul Qorib dan Fathul Muin. Ternyata pengembaraan ilmunya tidak sampai di situ, beliau masih melanjutkannya dengan berguru kepada KH. Hasyim Asy’ari pendiri Pondok Pesantren Tebuireng yang memiliki peran besar dalam mencetak kader ulama di nusantara.

Peran Beliau Sebagai Pendiri Pesantren

Seusai nyantri dengan beberapa ulama besar di Indonesia, KH. Bisri Syansuri meneruskan nyantrinya di Mekkah bersama sahabat karibnya, KH. Wahab Hasbullah. Kemudian berguru kepada para ulama seperti Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Ibrahim Madani dan Syaikh Muhammad Said Yamani.

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmunya, akhirnya pada tahun 1914 KH. Wahab Hasbullah menjodohkan adiknya dengan KH. Bisri Syansuri, yaitu Bu Nyai Khodijah. Mereka berdua dipertemukan saat melangsungkan ibadah haji. Sepulang dari Mekkah Kyai Bisri dan Nyai Khodijah membantu Kyai Hasbullah, Ayahanda Kyai Wahab untuk mengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang. Sekitar 4 tahun lamanya beliau mengabdi, akhirnya atas dorongan Kyai wahab dan usai sowan dengan Kyai Hasyim Asy’ari beliau mendirikan pondok pesantren di sebuah desa bernama Denanyar. Sebuah desa yang mulanya dipenuhi oleh orang-orang berbuat maksiat.

Ada cerita mengenai asal usul penamaan Jombang yang merupakan kependekand dari Ijo Kambe Abang yang berarti hijau dengan merah. Kedua warna yang melambangkan kebaikan dan keburukan. Perjuangan beliau dalam menebarkan dakwah tidaklah mudah. Seringkali beliau mendapat tentangan dari masyarakat sekitar. namun beliau tetap gigih dalam menjalankan misi dakwah, menyebarkan syariat.

Hal yang menarik dari cara berdakwah beliau adalah, beliau tidak pernah memaksa warga sekitar untuk mengikuti atau patuh dengan apa yang dibawakannya. Melainkan, memberi kesempatan bagi siapa saja yang hendak belajar. Peran penting lainnya di dunia pesantren, Kyai Bisri merupakan pendiri pesantren putri pertama di pulau jawa atau bahkan di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan seorang perempuan yang akan melahirkan bibit-bibit bangsa.

Peran Beliau di Jajaran Parlemen

Pada era orde lama, Kyai Bisri menjabat sebagai anggota DPR pada tahun 1971 hingga 1980. Jabatan beliau niatkan sebagai bentuk pengabdian terhadap negara dan penerapan hukum fiqh. Terbukti dalam peran beliau dalam perancangan Undang-Undang Pernikahan dan Pendukung program Keluarga Berencana yang dicanangkan hingga saat ini. Meskipun begitu, beliau tidak pernah meninggalkan perannya dalam mengajar para santrinya.

Ada sebuah kisah yang menunjukkan ketawadhu’an beliau, yaitu ketika beliau terpilih sebagai Rais ‘Am pasca wafatnya KH. Hasyim Asy’ari, beliau maju ke podium dan dawuh, “selama ada Kyai Wahab yang lebih alim dan sepuh, saya menyatakan untuk mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan Rais ‘Am kepada beliau.”

Kisah Menarik

Ada sebuah kisah yang takkan terlupakan oleh saya dan beberapa santri alumni Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar ialah saat ada seorang yang bertanya mengenai hewan kurban. Cerita ini selalu diulang saat acara peringatan berdirinya pondok dan haul Kyai Bisri.

Suatu ketika ada seorang lelaki bertanya tentang problem yang ia alami mengenai jumlah hewan kurban yang mestinya ia sembelih untuk 8 anggota keluarga. Kyai Bisri yang dikenal teguh pendirian dan tegas terhadap hukum fiqh menjawab, “kalau sapi hanya boleh maksimal untuk tujuh orang. Tidak bisa lebih.” Namun lelaki tersebut masih mengelak dan bertanya kembali, “Masa ndak boleh, Kyai?” Kyai Bisripun dengan tegas menjawab, “tidak. Harus tujuh orang saja. Kalau mau delapan ya harus nmbah satu kambing.” Namun dengan lugunya lelaki itu menjawab, “nanti ada saya yang balita sendirian dong, tidak ikut naik bareng-bareng menyebrangi shiroth.” Merasa tidak puas akhirnya beliau bertanya kepada Kyai Wahab di Tambak Beras dengan pertanyaan yang sama. Dengan santai Kyai Wahab menjawab, “oh ya boleh. Tapi karena ada anakmu yang masih balita, dia butuh tangga untuk bisa naik sapi bersama anggota keluarga lainnya. Tangganya harus hewan kurban juga. Tambahkan saja seekor kambing untuk mendaki menaiki sapi.”

Sebentar, yo. Sabar sek. Ada satu kisah lagi yang menunjukkan sifat wara’ (menjauhkan diri dari perbuatan makruh dan haram) beliau, yaitu kisah yang dituturkan oleh Bu Nyai Muhassonah Iskandar, beliau merupakam cucu pertama Kiai Bisri Syansuri.

Saat pelaksanaan umroh, Bu Nyai Muhassonah yang kala itu masih berusia remaja sedikit iseng memegang kursi roda dan memainkannya. Kemudian Kyai Bisri mengetahuinya dan langsung menegurnya. Beliau dawuh kita tidak boleh sembarangan menyentuh barang orang yang belum mendapatkan ijin dari pemiliknya. Kuh, rungokne. Santri jo podo nggosob, yo. Wehehe.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 37
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung