Ciri Kesalehan dari Amaliah, Bukan Jenggotnya

Ciri Kesalehan dari Amaliah, Bukan Jenggotnya

Share
  • 27
    Shares

amaliah jenggot lionel messi

Kita, atau barangkali hanya saya, lebih banyak menilai seseorang dari segala sesuatu yang tampak di mata. Dengan berpedoman pada apa-apa yang tampak itu, seringkali kita, atau barangkali hanya saya, melakukan tindakan-tindakan yang buruk: menyepelekan orang lain; menganggap seseorang lebih tinggi atau lebih rendah; melakukan penghakiman-penghakiman dengan standarisasi subjektif dan lebih parahnya, mengabaikan serta merendahkan orang lain. ciri kesalehan dari amaliah, bukan jenggotnya.

Katakanlah kita, atau barangkali hanya saya, melihat seorang berjenggot, berjidat hitam, bercelana cingkrang dan kalo ngomong suka menyisipkan bahasa Arab “ana” atawa “engte”, dengan spontan kita menghakimi bahwa ia golongan wahabay, kolot, saklek, anti-tahlil, anti-washilah, kaku atau hobi poligami.

Faktanya, banyak sekali orang berjenggot dan lain-lainnya yang tidak wahabay, doyan tahlil, lebih moderen daripada kaum muda moderen, doyan berwashilah dan sangat moderat sekali.

Lihat saja Messi, ia berjenggot, bahkan ia sering tampil dengan celana yang tidak hanya di atas mata kaki, tetapi ia –barangkali tidak tahu— apa itu wahabay, washilah, tahlil, dll. Heuheu

Kawan saya, sebut saja almukarrom Ustadz Doro. Beliau pemuda berjenggot, pengasuh pondok tahfidz quran, kalau ketemu rekan yang berstyle sama ngomongnya berubah ana wa engte, kadang-kadang pakai celana cingkrang, jidatnya bertanda hitam plus hafal Alquran dan apa yang ia lakukan selalu berdasar, minimal Alquran, hadis, ijma’ dan qiyas. (barangkali ada emak-emak yang cari mantu idaman, atau dedek-dedek santri gemes mendambakan punya suami solih, maka ustadz Doro adalah pilihan yang tepat). Tetapi sama sekali ia tidak terkontaminasi wahabay, amaliyahnya NU banget, masih doyan tahlil, kalo mau ngaji kitab suka washilah sampai mana-mana, doyan misuh, doyan udud, hobi nglenik dan tukang modus sejati.

Ada pula yang lebih mulia dengan pandangan lebih positif: bahwa simbolik di atas tadi menandakan bahwa seseorang itu rajin ibadah dan lurus dalam menjalani hidup (pokoknya, apapun karena Allah: Mencintai karena Allah; marah karena Allah; bahkan, membunuh pun karena Allah).

Nyatanya, masih banyak orang-orang bejat, meski berjenggot lebat. Banyak yang doyan korupsi, padahal berpeci. Banyak yang hobi mengamalkan penindasan, padahal bersurban. Dan ngerinya, banyak yang doyan mencabuli, padahal jubahnya menyapu bumi.

Jenggot, jidat hitam atau celana cingkrang (termasuk simbol-simbol dohir yang dipercaya sebagai tanda kemusliman) adalah style kaum moderen, tak peduli pemaikai style tersebut beragama apa. Maka, dengan begitu gagal pahamlah kita (atau barangkali hanya saya) jika menjadikan hal itu sebagai hujjah dan asas untuk menilai orang lain. Mereduksi substansi Islam itu sendiri dengan hanya berdasar pada gaya tampil kaum muslimin atau muslimat. amaliah

Entah siapa yang memopulerkan, bahwa pakaian muslim itu harus koko, jubah, pakai peci, surban dan perangkat lainnya, hingga sukses membuat frame masyarakat bahwa yang disebut muslim itu ya harus mengenakan benda-benda itu. Tuhan sekalipun tak pernah memaksa dan mewajibkan hamba-Nya yang menganut agama Islam untuk berpakaian demikian. Hanya sebatas sitrul aurat (menutup aurat), bahkan kalaupun itu dengan dedaunan.

Parahnya lagi, frame berpikir simbolik itu semakin melebar ke ranah-ranah yang lain. Kita, atau barangkali hanya saya, semakin gegabah menyimpulkan si A itu seperti ini, atau Si B itu seperti itu, tentu dengan hanya melihat yang kasat mata. Misalkan, dengan tidak mendukung Anies, berarti Si A mendukung Ahok, begitu pun sebaliknya. Contoh lainnya, dengan Si Mamat membonceng motor Kepala Desa yang terindikasi korupsi, berarti Mamat kebagian jatah. Padahal, saat Mamat jalan kaki, tiba-tiba Pak Lurah yang naik motor berhenti dan menawari joknya diduduki Mamat, karena sungkan dan tak enak jika menolak, maka Mamat mengiyakan.

Sekali lagi. Kita, atau barangkali hanya saya, sekadar melihat apa yang tampak dan membubuhi dengan teori-teori gagal di otak kita, tanpa berusaha menelaah lebih sebab di balik yang tampak itu, sehingga kesimpulan-kesimpulan atau judge-judge sesuai kesenangan kita bermunculan begitu saja.

Tampaknya kita, atau barangkali hanya saya, perlu belajar dari Romo Kiai Hamim Jazuli (Gus Miek), Ploso, Kediri. Romo Kiai yang sering keluar masuk diskotik, tempat perjudian, tempat pelacuran dan suka kongkow dengan para bromocorah. Agar otak kita terefresh dan menemukan gaya guna mengambil sudut pandang atas segala sesuatu.

Jangan kerdilkan sesuatu yang seharusnya besar dengan sudut pandang, penilaian dan pengetahuan kita (atau barangkali hanya saya) yang ternyata masih sangat kecil. Jangan besarkan pula, sesuatu yang seharusnya kecil dengan angan kita yang tida batas itu.

Dan nilailah seseorang dari amaliah nya, bukan dlohirnya, meski begitu nila-menilai bukanlah otoritas kita sebagai sesama manusia.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 27
    Shares

37 thoughts on “Ciri Kesalehan dari Amaliah, Bukan Jenggotnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.