Saatnya Bangsa Indonesia Berguru kepada Jonru

Saatnya Bangsa Indonesia Berguru kepada Jonru

Share
  • 12
    Shares

Jon Riah Ginting  atau lebih akrab disapa Jonru adalah pegiat medsos yang populer. Kepopulerannya di media sosial itu terbukti dengan mempunyai banyak follower,  hingga setiap status dan cuitannya selalu disukai ribuan orang dan dibagikan secara berulang. Selain itu juga, ia adalah seorang blogger yang sangat produktif dan pernah menjuarai beberapa kompetisi blogger tingkat nasional.

Namun dipertengahan tahun 2015 kontoversi seorang Jonru mulai mencuat. Ia banyak mengomentari pelbagai permasalahan dengan mengarah kepada fitnah atau hoax dan ujaran kebencian. Sasarannya adalah tokoh yang tidak sejalan baik dengan pandangan politik maupun ideologinya dan ia kaitkan dengan pelbagai isu sensitif dan kabar yang tidak benar (hoax) di tengah masyarakat seperti, isu kebangkitan PKI, isu penyebaran Syiah dan isu SARA lainnya di akun media sosial pribadinya. Korbannya beragam, mulai dari presiden Jokowi bahkan sampai kiai-kiai panutan warga NU pun pernah menjadi korbannya.

Akibat aktivitasnya itu ia dilapokan banyak pihak dan dianggap telah melanggar UU ITE lantaran telah menyebarkan hoax dan dugaan ujaran kebencian. Pada sidang terakhir yang dilaksanakan, statusnya meningkat dari saksi menjadi tersangka dan divonis 1,5 tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan jaksa. Meski demikian Jonru sama sekali tidak mengganggap dirinya bersalah dan justru mengganggap yang ia lakukan selama ini adalah bagian dari  perjuangan mempertahankan kebenaran.

Meskipun Jonru sudah ditangkap dan semua akun media sosialnya sunyi senyap, nasi terlanjur menjadi bubur karena semua apa yang telah Jonru katakan telah menyebar dan  menjadi pegangan banyak netizen.

Dengan cuitan seksi ala Jonru  yang tidak berdasarkan kepada fakta dan menyangkut sensitifitas masyarakat sontak sangat mudah menyebar, bahkan sampai menjadi viral hingga menjadi pembicaraan banyak warga net (netizen) di media sosial. Itu tak lain karena hampir semua cuitannya jonru dibagikan ulang oleh ribuan followernya hingga ribuan kali pula banyaknya. Lebih-lebih banyak netizen yang mengcopas cuitannya itu ke grup-grup facebook atau whats app sehingga menjadikan hoax tersebut seakan-akan menjadi suatu kabar yang benar.

Metode atau cara macam inilah yang selalu dipakai oleh oknum-oknum penyebar hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Mereka seakan-akan sudah mempunyai suatu sistem yang terstruktur dalam menyebarkan hoax tersebut dengan membagikan ke beberapa grup publik, lantas beberapa anggota grup tersebut membagikan ulang hingga menyebar ke banyak grup lainnya.

Pekerjaan Jonru inilah sering menjadi pertanyaan dan menjadi buah bibir di kalangan warga NU, mereka bahkan sering kecolongan dengan menyebarnya hoax yang menyerang NU dan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara secara seronok dan sarkas begitu saja. Apakah tidak ada orang dari mereka (NU) dan pihak lainnya yang mengisi media sosial dengan menyebarkan kabar-kabar benar mengenai Kebangsaan dan ke-NU-an? Sehingga hampir semua orang termakan begitu saja asumsi yang tidak-tidak mengenai NU dan kehidupan berbangsa, ataukah memang kekuatan basis media sosial Jonru dkk yang begitu kuat dan supremasif di media sosial ? Sehingga tidak ada ruang bagi kita untuk mengisi dengan konten positif dan kabar-kabar berkaitan dengan ihwal NU dan kebangsaan.

Tentu saja jawabannya “ada”, tetapi belum massif.

Penyebaran berita hoax yang menyulut perpecahan macam yang dilakukan Jonru adalah kritik bagi semua pihak khususnya warga NU yang selama ini menjadi corong muslim moderat di dunia, termasuk juga Nyarung yang harus hadir mengisi gagasan-gagasan santri progresif. Sudah saatnya untuk tidak berdiam diri begitu saja dalam menyambut era millenial di mana keterbukaan informasi semakin dijunjung setiap orang melalui pelbagai macam media seperti media sosial, mulai dari facebook, twiter, instagram dan saudara-saudaranya.

Selama ini banyak dari mereka berada  di zona nyaman dan lebih banyak membahas hal  yang sangat serius berkenaan dengan dunia akademis di media sosial dan lupa dengan kenyataan bahwa semakin banyak orang beralih mencari kabar terkini di dalamnya. Ini menjadikan ladang yang subur bagi para penyebar hoax termasuk Jonru untuk menghegemoni media sosial dengan pengaruhnya untuk menguasai informasi di dalamnya.

Selain itu juga kebanyakan dari mereka tidak menyadari betul bahwa lahan atau panggung berdakwah sudah mulai bergeser ke media sosial dan sudah menjadi barang tentu bahwa warga net (netizen) menginginkan mendapat pengetahuan agamanya melaui media sosial dengan mudah. Hal  ini sudah sangat terbukti dengan semakin banyaknya konten keagamaan baik berupa tulisan maupun visual seperti video dan gambar berseliweran dan bertebaran di media sosial hingga mendapat banyak like dan banyak disebar ulang kembali bagi yang menganggpannya itu bermanfaat.

Tapi lagi-lagi yang mengisi adalah mereka para penebar hoax dan ujaran kebencian. Bukan dari mereka yang dinilai sebagai muslim moderat penebar kesejukan bagi umat.

Tapi tidak ada terlambat bagi mereka untuk memulai, masih ada banyak kesempatan untuk mengembalikan ranah media sosial ke arah yang lebih sehat seperti semula. Tentunya dengan langkah-langkah yang harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan.

Tentu banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai semua itu, yaitu dengan membangun kesadaran bahwa media sosial adalah ranah yang penting untuk saling bertukar informaasi di era millenial saat ini dan bukan hanya sebatas hiburan semata.

Selain itu juga dirasa penting untuk memulai mengisi media sosial dengan konten-konten positif  dan membangun suatu jaringan dengan berbagai pihak termasuk NU untuk berkolaaborasi dalam hal tersebut sehingga melahirkan gerakan yang massif dan berkelanjutan untuk memenuhi timeline media sosial dengan konten-konten positif dan informasi yang benar dan sesuai fakta.

Tapi apakah mereka mau melakukan semua itu ? Ataukah mereka tetap berdiam diri dan merelakan semua warga net mengolok-ngolok mereka semua dengan tuduhan yang tidak-tidak hingga mengancam kehidupan rukun berbangsa dan berbegara ? Jawabannya itu ada pada diri dan tangan mereka semua.

Mari kita berguru kepada jonru perihal cara ia membangun dan memngaruhi publik. Tentu saja dengan konten-konten yang benar dan mempersatukan seluruh perbedaan menjadi satu kesatuan Indonesia. Wallahu ‘alam bi Asshawab

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 12
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.