Jama’ah Nyarung Jangan Ngawur, Ini Hukum Merebut Tunangan Teman

Jama’ah Nyarung Jangan Ngawur, Ini Hukum Merebut Tunangan Teman

Share
  • 149
    Shares

“Selama janur kuning belum melengkung, aku masih bisa nikung”

Beberapa bulan yang lalu, istilah pelakor alias perebut laki orang naik daun. Setiap buka yutub, pesbuk, twitterrr, yang muncul pelakor, di pondok bahasnya pelakor, tetangga sebelah gegunem soal pelakor, bahkan sampai Nyarung yang katanya web santri yang santun, progresif, revolusioner dan kontemporer ini, juga tak ketinggalan ngomongin soal pelakor.

Mengutip dari situs NU Online menyebutkan bahwa merebut suami orang hukumnya haram. Jelas sekali hadis menjelaskan tentang hukum merebut suami orang, yaitu:

عن ابي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ليس منا من خبّب امرأة على زوجها او عبدا على سيده (روا ه ابو داود)

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “bukan bagian dari kami orang yang menipu perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya” (HR. Abu Daud)

Hadis ini menjelaskan haramnya melakukan pembohongan terhadap perempuan atas suaminya dengan maksud ingin merusak hubungan keduanya.

Rumah tangga seorang santri tentu saja tak usah dipusingkan oleh hal itu. Ngaji di depan guru sambil bantalan kitab kuning saja setia sampai bertahun-tahun, apalagi hanya sekadar untuk bertahan berdiri kokoh di samping pasangan yang kita cintai. ealahhh kecillll, Kang.

Nah, tapi yang sering terjadi di kalangan santri adalah soal tikung menikung, bahkan ada istilah menikung di sepertiga malam.  Lalu bagaimana kalau yang direbut ini tunangan orang yang masih belum sah menjadi suami orang? Apa pandangan Islam mengenai ini?

Mengenai status tunangan dan suami yang sah, sebenarnya memang berbeda. Mereka belum halal untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya diharamkan. Ngerti, toh? Meskipun ada pepatah mengatakan, “Selama janur kuning belum melengkung aku masih punya kesempatan.” Eh, tunggu dulu. Bukan berarti kesempatan tetap ada ya,  meski pernikahan belum terjadi.

Tunangan hanyalah istilah lain dari khitbah dalam hukum Islam. Yaitu, lelaki meminta perempuan untuk dijadikan sebagai istri. Dalam fiqh sighot (pelafalan) khitbah atau melamar ada dua yaitu, shorih (jelas) dan ta’rid (isyarat atau ‘kode’). Contoh dengan ucapan yang jelas adalah, “Dek, kamu mau ya jadi istri abang?” sambil muter lagu “Akad” milik Payung Teduh. Uhuy. Nah kalau contoh kode, “Dek, banyak lho yang seneng sama sampean. Moso sampean ngga mau milih salah satu gitu buat jadi pendamping?”, wah kode banget.

Hal yang perlu dipahami dari konteks merebut adalah bagaimana cara merebut tunangan itu dari yang sudah dilamar. Apakah merebut itu seperti ibu-ibu yang sudah mendapatkan baju yang ia inginkan lalu tiba-tiba ada ibu yang lain hendak merebut dengan cara paksa? Merebut pada konteks ini adalah merusak, entah dengan melakukan penuduhan dengan menceritakan hal-hal yang buruk tentang si perempuan kepada lelaki yang diinginkan atau dengan menggagalkan acara demi acara menjelang pernikahan agar kedua pasangan tidak berhasil hingga pelaminan. Jelas sekali Allah melarang perbuatan ini  karena hal tersebut merupakan perbuatan dusta. Rasulullaah shollaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عليكم بالصدق… و اياكم و الكذب (رواه مسلم)

Artinya: wajib bagi kalian untuk jujur, dan janganlah sekali-kali berbohong. (HR. Muslim)

عن حفص بن عاصم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كفي بالمرء كذبا ان يحدث بكل ما سمع ( رواه مسلم)

Artinya: dari Hafs bin ‘Ashim berkata Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “cukuplah seseorang dikatakan pendusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Menceritakan semua yang kita dengar disebut pendusta, sebab kita belum tahu fakta yang sesungguhnya karena hanya sekedar dari mulut ke mulut. Begitu saja sudah dosa, apalagi melakukan penuduhan dengan sengaja. Jelas itu merupakan perbuatan yang dilarang agama.

Dalam hal khitbahpun, Rasulullah melarang seorang Muslim untuk melamar seorang perempuan yang sudah dilamar oleh saudara muslimnya.

عن ابن عمر رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا يبيع بعضكم على بيع بعض و لا يخطب بعضكم على خطبة بعض (روا ه مسلم)

Artinya: Dari Ibnu Umar Radhiyaallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah sebagian dari kalian membeli (sesuatu) yang telah dibeli oleh orang lain, dan jangan pula sebagian dari kamu meminang (perempuan) yang telah dipinang oleh orang lain.” (HR. Muslim)

Jadi sudah jelas, bahwa merebut tunangan orang dengan cara melakukan penuduhan dan kebohongan-kebohongan keji adalah haram, Mbak, Kang. Jadi istilah “Sebelum janur kuning melengkung” sepertinya sudah tidak ampuh untuk memberi imun kepada diri yang berjuang merebut tunangan orang. Relakan saja, seperti senja yang pergi dan akan ada senja esok hari maka akan ada seseorang yang hadir lagi setelah kepergiannya. Eaks.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 149
    Shares

28 thoughts on “Jama’ah Nyarung Jangan Ngawur, Ini Hukum Merebut Tunangan Teman

Leave a Reply

Your email address will not be published.