“Qulhu Sungsang” dan Isyarat Cinta yang Keras Kepala

Pondok

Written by:

Share
  • 16
    Shares

Sejenak tidak ada yang salah –bukan dalam pengaruh agama–  dari tindakan mengatasnamakan perasaan. Begitupun, tidak akan menemui kebenaran mutlak tentang pemahaman yang menyangkut perihal tersebut. Semua orang terlepas ia kecil atau besar, sempurna atau tidak secara fisik, memiliki pemahaman ilmu atau tidak, pasti mempunyai konsepsi dan aplikasi yang beragam. Keberagaman yang selayaknya dipahami tidak hanya dari satu sudut pandang saja  sehingga mengindahkan sudut pandang yang lain untuk, sekali lagi menegaskan bahwa selalu ada moralitas yang dibawa dalam prosesi sosial maupun keagamaan.

Suatu ketika, yang tersisa dari liburan tentu saja adalah sebuah-dua buah cerita yang menarik. Disaat liburan yang membuat rindu selain bertemu keluarga di kampung, juga bertandang ke kediaman Pak Kyai. Malam dengan taburan bintang dengan semilir angin dari laut sering menyambut kedatanganku. Idealnya kalau langit tidak dihiasi bintang-gemintang hampir bisa dipastikan kunjungan malam itu akan gagal.

Belum sempat saya sungkem tiba-tiba beliau nyeletuk, “lho tag bel-bel kok gak nyambung-nyambung!”. Saya hanya tersenyum dan membatin pasti beliau tidak punya digit nomor handphone saya. Begitulah, ada upaya untuk menghilangkan kecanggungan sekaligus, mungkin menghilangkan jarak yang selama ini ditimbulkan suatu sistem pesantren. “Ono cerito opo?”, tambahnya yang bahkan saya belum memulai percakapan sejak datang.

Malam itu, dua sahabat saya barangkali sedang mengalami fase yang sama dalam masalah perasaan. Seperti kebanyakan hati yang mudah berubah-ubah mereka pun terkena pesan Tuhan oleh seseorang yang dicintai dan pernah mencintai. Percakapan berlanjut hingga saya tiba-tiba menanyakan do’a apa yang bisa digunakan untuk merespon hati yang hilang agar bisa kembali, “qulhu sungsang” begitu jawaban dari beliau. Saya cekikikan sendiri dengan kedua sahabat yang saling memandang satu sama lain.

Usut punya sejarah “qulhu sungsang” merupakan amalan yang diajaran Sunan Gunung Jati. Lebih dari itu, saya tidak tahu kelanjutan juga selebihnya. Salah satu teman yang berasal dari Cirebon menyarankan untuk puasa beberapa hari dan tidur di persinggahan Sang Syeikh kalau ingin mendapatkannya.

Yang barangkali mengganjal dari “qulhu sungsang” sudah barang tentu bagaimana bentuk dan modelnya. Melalui pelafalan dan bacaan dari belakang surat, ayat terakhir  dibaca terlebih dahulu sampai selesai atau sekadar ditulis dengan tata huruf terbalik. Yah, seperti itulah keunikan al-Qur’an, bisa digunakan untuk hal-hal yang nceleneh sekalipun. Penanggalan baik maupun buruk ada pada siapa yang memberi dan niat yang ditujukan. Al-Qur’an hutan belantara yang bisa menyesatkan atau sebaliknya, memberi jalan keluar.

Setidaknya itu yang saya tangkap dari perbingcangan malam libur semester kemarin. Kegetiran orang-orang disekitar yang sulit ditebak sampai mana muaranya. Juga macam-macam pengambilan keputusan menanggapi kerikil kehidupan. Lalu, bagaimana orang itu akan menyelesaikan masalah yang dialami, semakin jatuh terpuruk atau mampu berdiri dan melanjutkan cerita yang akan terus berlanjut sebagai bukti masih adanya nafas yang terus berhembus.

Untuk mereka yang sedang melanjutkan jejak langkah bahwa “di saat-saat terakhir hanya ada dua kemungkinan yang bisa kita pilih, benteng-benteng kecil untuk bertahan, aku meledakkannya sebagai sebuah pelajaran”. Sedangkan harus ada sikap pasrah yang jauh di atas segalanya juga cermin bagi liyan “tidak ada lagi yang perlu ditangisi. Kalau ada yang mau mengambil pelajaran dari itu, ambillah, aku sudah tidak begitu peduli”. Lantas memberikan penilaian atas apa yang terjadi “lalu aku kembali belajar bergerak. Lebih tepatnya bergerak agar bertahan. Dan di sana, aku merangkai jarak. Jika kamu tanya padaku, adakah kusumatku padam? Ada. Lalu adakah terima kasihku padamu? Ada”. Kemudian semuanya akan berlanjut menjadi semacam romantisisme masa lampau “aku merasa bagaimanapun harus ada sebuah prosesi untuk menziarahi sirus-situs masa laluku denganmu”. Pada akhirnya sebagai hamba “aku justru harus berani menghadapi seluruh peristiwa yang telah lewat dan bukan justru menghindarinya. Kenangan hanya bisa dihadapi atau dieram dengan risiko membusuk di dalam”. (Isyarat Cinta yang Keras Kepala; Putut EA)

Semoga “qulhu sungsang” bukan bagian dari kekeras-kepalaan terhadap cinta yang bisa jadi hanya sementara. Dan, masih banyak yang perlu diperjuangkan untuk kedua orang tua.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 16
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Pernah Murung, Selalu Beruntung