Pancasila Sebagai Lipstik Politik?

by:

opini

Share
  • 8
    Shares

Negara yang dibangun atas dasar Pancasila dengan butir-butirnya yang mewakili semua elemen masyarakat, nan Pancasila sudah tidak lagi diragukan kualitasnya.

Pasalnya, idiologisasi Pancasila suda menjadi jati diri bagsa. Pun nilai-nilai dalam pancasila suda mewakili semua idiologi yang pernah ada di Indonesia. Sejak awal kemerdekaan pergulatan antara agama dan negara sudah terjadi, seharusnya peristiwa itu bisa dijadikan sandaran untuk merancang kebagsaan yang lebih adil dan makmur.

Adanya Pancasila itu bukan hanya tulisan semata tapi bagaimana nilai-nilainya bisa dikerjakan setiap harinya, sehingga terciptalah cita-cita hidup yang berdampingan dan keharmonisan. Untuk itu tantangan Pancasila di era modern ini adalah menjalin kebebasan berekspresi dari berbagai identitas kultural, baik dalam pendidikan, budaya dan politik. Sebagaimana bunyi sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tentunya keriteria pemimpin  masa depan yakni mempunyai integritas serta bertanggung jawab pada semua rakyatnya demi keadilan dan kesejahteraan bersama.

Teruslah kita ingat setiap tahunnya, bahwa perjuangan mempertahankan Pancasila sebagai pemersatu kehidupan bernegara sudah harga mati. Para fanding Father dulu relah mempertaruhkan harta, jiwa raganya dan air mata demi sebuah identitas yang khas bagi Indonesia ialah Pancasila. Sudah saatnya generasi muda terus mengali kandungan dari kesaktian Pancasila yang sesuai dengan kondisi zamannya. Sehingga sejarah bisa menyadarkan dari tindakan-tindakan yang menyimpang hak-hak dasar sebagai manusia.

Di era modern ini, media masa yang sebagai pilar penting demokrasi terus membanjiri negeri. Semua informasi dari media seakan-akan saling perang informasi. Itupun setiap orang mudah untuk mengakses informasi yang begitu lepas. Informasi yang termuat dalam media sepatutnya dapat kita saring, sehingga kita tidak tergiur dari acara-acara ataupun propaganda media yang  menjadikan konflik dan perpecahan.

Namun, sudah saatnya kita mengunakan media masa sebagai alat untuk menguatkan tali persatuan. Di antara derasnya informasi berbau politik, budaya dan ekonomi yang bersandingan dengan arus Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini, posisikanlah  pancasila sebagai identitas dalam berindonesia.

Dari berbagai masalah yang ada di negeri ini, dibutuhkan suatu medium sebagai pemersatu berbagai golongan, untuk membagkitkan kita secara politis dan bisa menyaring berbagai persoalan dalam sebuah medium Pancasila ini. Untuk itu, pemaknaan Pancasila sebagai dasar kebinekaan dan kesetaraan sudah tak teragukan eksistens.

Terus berbenalah dari peristiwa sejarah yang kelam, merupakan hal yang wajib untuk generasi muda. Meskipun dulu pancasila sebagai “lipstik politik” atau jargon alat politik orde baru, bukan berarti Pancasila terkubur dalam di negeri yang jumlah penduduknya besar ini.

Suda saatnya bangkit dari tidur panjang, karena nostalgia pada sejarah akan berarti pembelajaran bila terus menerus meresapinya. Betapa sakitnya para pendahulu kita membuat sejarah, namun kita engan mempelajari dan mempelajarinya. Sebagaimana Bung Karno perna menyatakan. “Kesalahan yang sama, selalu saja kita alami. Reformasi, jangan-jangan akan kehilangan momentum untuk melakukan perubahan”.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 8
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *