Cicero-Gus Dur : Intelektual Organik

Cicero-Gus Dur : Intelektual Organik

Share

Novel “Imperium” karya Robert Harris menggambarkan perjuangan orang-seorang dalam melawan pejabat korup bernama Gaius Verres. Dikisahkan mula-mula Galius Velles tak segan-segan menjarah seni milik rakyat Romawi, mengadili hingga menghukum pemiliknya. Pejabat ini juga menerima upeti, pungutan liar dari preman dan sekutunya, bahkan membunuh juga tak hanya sesekali memperkosa.

Singkat cerita, Cicero (104-43 SM) yang menjadi antitesis dari pejabat korup itu dan sekaligus tokoh utama dalam novel “Imperium” memang disadur dari kisah nyata. Bangun kisah terjadi dimana kehebatan bangsa Romawi menjelang senja dan mengalami bobrok mental yang sangat serius. Budaya nepotisme di lingkaran pejabat, penyelewengan kekuasan serta intrik culas dalam sejarah demokrasi yang berujung dekadensi di-tiap-sendi pemerintah.

Lalu, nama besar Cicero yang sampai sekarang diketahui banyak orang merangkak tertatih-tatih dari situasi politik arogansi.  Elan dasar politik yang mengedepankan keadilan seakan diperjuangkan ia seorang diri. Integritas Cicero dikemudian hari membawanya pada puncak karir politiknya, meskipun pada akhirnya juga membawa pada ajal kematiannya.

Dalam rentan waktu dan masa yang berbeda lahirnya Abdurrahman ad-Dakhil di wilayah yang sering disebut nusantara, orang kebanyakan mengenalnya dengan panggilan Gus Dur. Ia yang besar dilingkungan dan pengaruh pondok pesantren tidak lantas membuatnya menjauh dari kebisingan politik. Secara bertahap pengaruhnya menjalar manakala menahkodai PBNU hingga terpilih sebagai presiden RI keempat.

Seperti halnya Cicero, Gus Dur juga mengalami puncak karier dalam politik. Meskipun—seperti Cicero—politiknya jatuh dengan cara yang kurang mengenakkan bagi sebagian kalangan. Intrik politik yang culas manakala menganggap apa yang dilakukan Gus Dur sebatas kongkow(pergi keluar negeri) tidak jelas juntrungnya (urgensi) menjadi salah satu isu yang dibangun lawan politik untuk menjatuhkannya.

Kesadaran politik Gus Dur dalam upaya memadamkan api dari pihak asing untuk memecah-belah NKRI tidak kesemuanya disadari teman maupun lawan politiknya. Kebanyakan mereka nyinyirisasi dan cenderung mementingkan golongan maupun partainya sendiri-sendiri. Gus Dur yang hanya beberapa bulan memimpin NKRI juga melakukan langkah kontra dipandang masyarakat politik pada umumnya.

Keberpihakan Gus Dur pada rakyat dan upaya merombak kebijakan yang tidak menguntungkan partai politik seakan memuncakkan kebencian serta memasygulkan jabatan Gus Dur. Pembubaran DPR dan Kementerian Penerangan sedikit diantara kebijakan yang menuai banyak protes dari kalangan politikus.

Cicero dan Gus Dur dalam beberapa pandangan mempunyai irisan-irisan yang sama dalam kerangka memajuan pemerintahan. Keduanya termasuk “intelektual organik”, mereka bukan saja berhenti dalam tataran teori memajukan dan memperbaiki tatanan negara, lebih jauh lagi malahan keduanya terlibat langsung dalam membenahi negara.

Bagi Cicero seorang intelektual atau filsuf tidak cukup hanya sebagai pemikir, perenung di luar kehidupan politik praktis sehari-hari, atau sekadar menjadi pengkritik di sana-sini, akan tetapi ia mesti ikut terjun dan turut andil dalam melayani kehidupan negara. Kebijakan-kebijakan seorang filsuf atau intelektual adalah penting bagi jalannya negara.

Keduanya sepakat dalam menilai negara atau republik seharusnya menempatkan nilai-nilai kebijakan umum dan tujuan tatanan sosial di atas kepentingan pribadi, baik itu popularitas, kekayaan maupun orientasi atas kekuasaan itu sendiri, sehingga negara atau republik merupakan domain urusan publik dan bukan urusan privat. Sedangkan, lebih lanjut Gus Dur menganggap bahwa urusan agama berada pada tataran privat.

Dalam hakikat kehidupan Gus Dur kita bisa menyaksikan bagaimana ia memberi koreksi, berperan sebagai pemikir sekaligus pengkritik, disisi yang lain ia juga mengambil bagian dalam kehidupan berpolitik, berperan sebagai politik-negarawan. Bahwa seorang pemikir, pengkritik berbagai kebijakan, sejatinya bukan hanya mengetahui dan sekedar berbicara kekurangan pemerintah, melainkan justru yang terpenting ikut berpartisipasi dalam memperbaiki dan membangun kembali idealnya sebuah pemerintahan. Karena politik itu sendiri hakikatnya sesuatu yang mulia, dan tugas intelektual atau filsuf sendiri adalah bagaimana memperjuangkan demi terwujudnya nilai-nilai luhur bersama dalam kehidupan nyata.       

Terakhir, semoga kita mampu menangkap api semangat Cicero dan Gus Dur dalam menegakkan nilai-nilai luhur politik. Mereka “intelektual organik” yang akan ditunggu dan dikenang generasi penerusnya.

Gus, bangsa ini takut akidahnya dangkal lantaran “OM TELOLET OM!!”.

Komentar yang bijak ya, Lur

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.