Pesantren Bukan Sarang Teroris

mmby:

opini

Share
  • 1
    Share

Dunia mencekam paska aksi teroris di berbagai negara. Negara-negara Amerika, Rusia, Afrika dan Eropa bangkit bersama untuk melawan teroris, khususnya ISIS di Siria yang disinyalir para loyalisnya sudah menyebar ke seluruh dunia. Asia terkena imbasnya. Akhirnya, negara-negara seluruh dunia memaksimalkan kekuatan intelijennya untuk mendeteksi setiap pergerakan jaringan teroris. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi sedini mungkin aksi terorisme yang termasuk kategori kejahatan kemanusiaan karena menghalalkan darah manusia yang merupakan hak paling asasi pada setiap makhluk hidup.
Dalam konstelasi ini, pesantren sebagai lembaga pendidikan paling lama di Indonesia terkena getahnya. Pesantren dituduh sebagai sarang teroris. Hal ini disebabkan adanya sinyalemen bahwa salah satu aktor serangan teroris di Paris Perancis pernah belajar di Pesantren di Jawa. Pesantren menjadi tertuduh dan seringkali ada generalisasi yang tidak adil terhadap pesantren, yaitu semua pesantren tanpa terkecuali dianggap sebagai sarang teroris yang mengajarkan nilai-nilai intoleran dan radikal, bahkan teror yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Tuduhan ini tidak seluruhnya salah, karena memang di Indonesia ini ada banyak model pesantren. Salah satu model pesantren, seperti di Ngruki dan sekitar Solo Raya banyak mengajarkan doktrin-doktrin yang berpotensi melahirkan perilaku radikal, seperti ajaran jihad melawan orang-orang kafir dan membasmi kemungkaran dengan kekuatan. Ayat-ayat jihad dipahami secara tekstual, rigid, dan eksklusif sehingga melahirkan aksi-aksi kekerasan bahkan sampai istisyhad (bom bunuh diri sebagai manifestasi dari mati syahid).
Pesantren model ini menyusun kurikulumnya secara matang untuk melahirkan kader-kader militan yang siap menyumbangkan jiwa dan raga untuk realisasi izzul Islam wal muslimin (keagungan Islam dan umatnya). Mereka menerbitkan buku, majalah, bulletin, mendirikan radio, televisi dan sejenisnya untuk mengokohkan pemahaman Islam eksklusif dan mengobarkan semangat jihad melawan orang-orang kafir, bahkan melawan golongan umat Islam lain yang mereka anggap ahli bid’ah, ahli khurafat, dan ahli takhayyul.
Namun, model pesantren seperti ini jumlahnya minoritas di Indonesia. Ideologi yang mereka bangun diimpor dari kawasan Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Wahabi, dan lain-lain tanpa melakukan koreksi dan kontekstualisasi dengan realitas empiris masyarakat lokal. Pesantren seperti ini terlihat eksklusif, tidak berinteraksi dengan masyarakat sekitar secara terbuka, dan kurikulum yang ada diajarkan secara tertutup karena pesantren ini mempunyai agenda tersembunyi (hidden agenda) yang tidak boleh diketahui publik.
Mayoritas pesantren di Indonesia tidak seperti gambaran di atas. Pesantren di Indonesia mayoritas bernaung di bawah organisasi sosial keagamaan terbesar, seperti NU dan Muhammadiyah yang bercorak inklusif, kontekstual, dan toleran. Secara historis, pesantren di Indonesia lahir sejak Walisongo yang mengajarkan pentingnya mengapresiasi budaya lokal nusantara yang pluralistik dengan strategi islamisasi budaya. Islam Nusantara yang diajarkan Walisongo terbukti efektif mengislamkan masyarakat yang sebelumnya kokoh memegang agama Hindu-Budha dan aliran kepercayaan. Walisongo mengikuti dakwah Nabi yang mengajarkan perdamaian, kerukunan, dan menghindari kekerasan, kesombongan, dan konflik.
Kurikulum pesantren mainstream ini adalah integrasi aspek fikih (legal-formal) dan tasawuf (substantif-esensialis). Keduanya menyatu dalam satu rumusan holistik sehingga melahirkan aksi-aksi sosial yang simpatik karena berorientasi kepada penyadaran, pemberdayaan, dan pengembangan potensi secara maksimal dari berbagai aspek kehidupan. Salah satu bukti integrasi dua mainstream keilmuan ini (fiqh-tasawuf) adalah Ihya’ Ulumiddin, magnum opus-nya Imam Ghazali. Dalam kitab yang menjadi primadona kalangan pesantren ini, Imam Ghazali menjelaskan pentingnya integrasi fiqh dengan tasawuf, karena jika menitikberatkan aspek fiqh akan kehilangan substansi dan jika mengedepankan tasawuf maka kehilangan kerangka formal yang sangat dibutuhkan dalam suatu tindakan.
Salah satu contohnya adalah hadis popular yang memerintahkan umat Islam untuk menghilangkan kemungkaran dengan tangan (power), lisan (nasehat), dan hati (mendiamkan). Imam Ghazali memberikan penjelasan yang sangat indah, yaitu stratifikasi amar ma’ruf nahyi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) yang terdiri dari empat tingkatan. Pertama, memberitau atau memberikan informasi dengan benar (al-ta’rif). Kedua, memberikan nasehat (al-wa’dzu). Ketiga, memberikan peringatan dengan keras (at-takhsyin fil qaul). Keempat, mencegah dan memukul dengan kekuatan (al-man’u wal dharbu bil yad). Menurut Imam Ghazali, tingkatan masyarakat umum ada pada yang pertama dan kedua. Untuk yang ketiga adalah hak absolut penguasa supaya tidak menimbulkan fitnah. Sedangkan yang ketiga (memberikan peringatan keras) Imam Ghazali memberikan perincian, yaitu jika memberikan peringatan keras mengakibatkan kerusakan yang lebih besar maka tidak boleh, kecuali jika seseorang menyerahkan dirinya untuk  mendapatkan kerusakan. Namun hal ini juga tidak boleh karena dalam Islam ada kaidah al-dhararu yuzalu (kerusakan harus dihilangkan).
Konsep pesantren yang indah di atas tidak hanya dalam tulisan, tapi juga dibuktikan dari sepak terjang para eksponen pesantren yang gigih mengusir penjajah dari bumi Indonesia dan mengisinya di berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan kebangsaan dengan mengedepankan toleransi, moderasi, dan progresi. KH. Abdurrahman Wahid, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Ali Yafie, KH. A. Mustafa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif, dan Prof. Dr. Din Syamsuddin adalah tokoh-tokoh pesantren dari kalangan NU dan Muhammadiyah yang gigih menebarkan dan memperjuangkan nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, persatuan, dan perikemanusiaan substansial yang jauh dari aksi-aksi teroris yang mengancam hak hidup manusia.
Komentar yang bijak ya, Lur

Share
  • 1
    Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *